Home Mimbar Ide Mahasiswa (Jangan) Alergi Organisasi

Mahasiswa (Jangan) Alergi Organisasi

75
0
SHARE
Amli Oktaenal

Oleh : Amli Oktaenal*

Mahasiswa, kau ingin jadi apa? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheren tidak adil? Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum kaya, dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik, dan waktu istirahat kepada mereka yang memangsa kaum miskin? Arsitek, untuk membangun rumah nyaman untuk tuan tanah? Lihatlah di sekelilingmu dan periksa hati nuranimu. Apa kau tak mengerti bahwa tugasmu adalah sangat berbeda: untuk bersekutu dengan kaum tertindas, dan bekerja untuk menghancurkan sistem yang kejam ini?
(Victor Serge, Bolshevik)

Tulisan ini tidaklah bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin berbagi sedikit dari tumpukan keresahan yang akhir-akhir ini sibuk menggangguku. Sebuah keresahan yang ingin kubagi, berharap kalian merasakan pula dan bisa membantuku menguranginya.

Pertama-tama, ingin kuucapkan selamat kepada kalian. Selamat datang di kampus, sarang para intelektual muda bersemayam. Tempat kalian bisa mengaktualisasikan diri sebebas-bebasnya. Ini adalah tempat yang akan menawarkanmu hal-hal baru, terserah kalian ingin memilih pilihan yang ada. Tapi jangan takut pada hal-hal baru tersebut, tetapi buatlah dirimu terus menjelajahinya. Karena semakin jauh kalian menjelajah, semakin lebar pula cakrawala berpikirmu akan terbuka.

Aku yakin kalian sudah pernah mendengar cerita tentang kampus sebelumnya. Cerita tentang mahasiswa yang melakukan demonstrasi, menutup jalan, hingga bentrok dengan aparat keamanan adalah hal yang sering engkau dengar bahkan saksikan langsung di televisi. Itu adalah kenangan indah yang dilakukan oleh para pendahulu dan melekat sebagai identitas mahasiswa hingga hari ini. Berbagai rentetan dalam buku perjalanan bangsa tak pernah alpa menuliskan nama mahasiswa sebagai salah satu aktor didalamnya. Ini adalah sebuah kebanggaan yang pernah ditorehkan, sekaligus menjadi pekerjaan rumah utama bagi generasi mahasiswa hari ini.

Harus diakui, memiliki label “mahasiswa” bukanlah tugas yang mudah. Ada pengharapan besar yang bersandar dipundaknya. Harapan agar menjadi agen perubah, bisa melakukan kontrol sosial, bisa mengambil alih re-generasi kepemimpinan, dan seterusnya menjadi tanggung jawab moral selama mengenakan almamater kebanggaan masing-masing. Tugas kalian tidak hanya sebatas datang ke ruang kelas untuk mendapatkan nilai yang nanti akan dilukis di ijazahmu, tetapi lebih untuk menjadi insan yang bermanfaat bagi sekitarnya. Menjadi mahasiswa tidaklah semudah yang kalian bayangkan, tapi tak sesulit pula yang kalian pikirkan. Jangan tertipu dengan adegan-adegan tentang mahasiswa seperti yang diperankan di sinetron-sinetron. Datang ke kampus, bertemu dengan kekasih, lalu sarjana. Ah, sungguh menjadi mahasiswa teramat monoton jika hanya seperti itu.

Ekspektasi masyarakat terhadap mahasiswa yang begitu tinggi, menuntut mahasiswa agar terus mengembangkan diri. Mahasiswa tidak boleh menutup diri dari ruang-ruang belajar yang ada. Terlebih, ruang kelas hari ini tak bisa diandalkan lagi dalam memproduksi mahasiswa yang bisa kritis terhadap permasalahan disekitarnya. Kelas hari ini hanya bisa menciptakan mahasiswa yang tahu akan teori, tapi gagap akan realitas yang ada. Tapi tak usah terlalu khawatir dengan keadaan kelas tersebut, ada organisasi kemahasiswaan yang bisa menjadi ruang belajar alternatif selain di kelas.

Tak sedikit yang telah merasakan nikmatnya berorganisasi selama menjalani kehidupan kampus. Bertemu dengan orang-orang baru yang tentunya akan memberikan pengalaman baru, pikiran yang semakin terbuka karena hampir setiap hari dihadapkan pada diskusi-diskusi yang memantik nalar kritis. Apalagi bagi mahasiswa yang berlatar belakang sosial humaniora, organisasi kemahasiswaan bisa menjadi laboratorium yang tepat untuk menguji coba segala teori yang didapatnya dikelas. Tak hanya menikmati organisasi kemahasiswaan selama bermahasiswa, mereka juga menuai hasil yang sepadan setelah melepas status sebagai mahasiswa. Mereka bisa memiliki prinsip sendiri, tak mudah diatur oleh orang lain, dan tak mudah mengkhianati idealisme-nya sendiri, hingga akhirnya bisa menjadi orang besar karena belajar dari pengalaman selama berada di organisasi kemahasiswaan.

Baca Juga  Luar Biasa! IYL Dapat Cum Laude di Unhas

Organisasi kemahasiswaan amatlah berbeda dengan di ruang kelas. Cara mendidik disini tak melulu berorientasi pada hasil, tapi lebih mementingkan proses yang ada. Ruang kelas mengajarimu untuk terus mengejar prestasi yang cenderung akan membuatmu apatis, maka organisasi kemahasiswaan akan mengajarimu hakikat berkehidupan yang sesungguhnya, yakni rasa solidaritas dan peduli terhadap sesama. Organisasi kemahasiswaan juga akan menyadarkanmu terhadap kebenaran yang selama ini diutarakan, adalah sebagian diantaranya omong kosong belaka. Jangan terlalu fokus untuk mengejar IPK tinggi lantas jadi sarjana prematur. Sarjana prematur dan lulus dengan predikat cumlaude bukanlah alat yang menjadi tolak ukur untuk mendapatkan prestise dari orang lain. Kampus amatlah berbeda dengan institusi pendidikan sebelumnya, dimana yang mendapat nilai tinggi itulah yang mendapat pujian. Sarjana itu tak sulit didapatkan. Datang ke kelas, duduk mendengarkan, jangan membantah dosen, menyampaikan pertanyaan di kelas meski tak berbobot, dan rajin menyiapkan perlengkapan dosen di kelas, maka kalian sudah terancam mendapatkan nilai tinggi. Semudah itu.

Lalu, kalian dianggap sebagai pemuda yang beruntung, karena tak semua pemuda bisa mengenyam pendidikan di dunia kampus. Entah karena keterbatasan ekonomi, kemauan, atau lainnya. Tapi kalian bisa disebut beruntung lagi ketika kalian bisa aktif dalam organisasi kemahasiswaan, lahan produktif untuk menabur benih-benih perjuangan yang berpikir bukan untuk dirinya saja, tapi untuk masyarakatnya.

Tapi tak mudah berbagi kepercayaan ini padamu, karena doktrin yang dikonstruk sedemikian rupa oleh birokrasi kampus telah merasukimu, bahkan sebelum kalian masuk ke dunia kampus. Cepat menyelesaikan kuliah agar bisa membawa orang tua dari kampung ke kota untuk berfoto bersama toga di kepala, lalu cepat cari pekerjaan. Itu adalah hasutan yang selalu dibisikkan di telinga. Semakin cepat selesai, semakin cepat pula berkurang manusia-manusia pengkritik di kampus. Berkurang manusia-manusia pengkritik, berkurang pula beban dari birokrasi kampus terhadap penghalang dari segala kepentingan.

Sekali lagi, selamat datang di dunia kampus. Satu-satunya institusi pendidikan yang memberimu gelar “maha”. Kalian dipanggil maha, bukan tanpa sebab. Harapan ada dipundakmu, dan harapan itu bisa kau wujudkan secara bersama di organisasi kemahasiswaan. Jika orang-orang menyebut bahwa sekolah itu candu, maka kusebut pula bahwa organisasi itu adalah candu. Selamat berpusing-pusing di organisasi kemahasiswaan.

Jika amanah telah bertahta di pundakmu,
Dan panji-panji kejayaan telah lantang berkibar,
Maka segera kabarkan pada semesta,
Bahwa kemenangan sebentar lagi akan tiba,
Pada jiwa-jiwa yang merdeka
Hidup Mahasiswa!!!

*)Penulis merupakan mahasiswa jurusan Ilmu Administrasi FISIP UNHAS, juga merupakan anggota Dewan Penasehan Organisasi HUMANIS FISIP UNHAS

Facebook Comments