Home Literasi Cahaya Perdamaian

Cahaya Perdamaian

190
0
SHARE
Ahmad Yani

Oleh : Ahmad Yani*

Malapetaka bagi suatu negeri ketika semangat perdamian telah usang. Bahkan dapat dikatakan rakyat yang menghuni negeri tesebut berada di ujung tanduk malapetaka. Sebagai bukti, akibat tidak terakomudirnya semangat perdamaian di negeri Myammar telah menyebabkan pembantaian sisi kemanusian seperti yang dialami oleh etnis Rohingnya beberapa waktu lalu. Juga dengan konflik Poso dan Organisasi Papua Merdeka yang berkepanjangan, merupakan pembiaran wabah virus kebencian terhadap sekte-sekte tertentu. Begitupula pembaikotan aktivitas keagamaan dan ormas tertentu yang sering dilakukan segilintir oknum masyarakat menjadi bukti tidak ternanamnya semangat perdaimanan dan melayangnya penghargaan terhadap sisi kemanusian di negeri ini dan kaum minoritaspun menjadi tumbal atas kebiadaban tersebut.

Bukan hanya itu, hasil kajian yang dilakukan oleh Alissa Wahid (2014) terhadap konflik antar kelompok masyarakat di negeri ini sangat mencengankan. Aktor negara yang seharusnya menjadi lilin perdamaian justru menjadi peredup dan penyebar wabah virus kebencian berupa intoleransi. Tercatat pada tahun 2014, pelanggaran dan intoleransi yang mengakibatkan aktor negara, misalnya: 25 pelaku dari kepolisian, 18 pelaku dari pemerintah kabupaten, 8 pelaku masing-masing dari pengadilan, aparat desa dan keluruhan, dan 6 pelaku dari aparat kecamatan (Alissa Wahid, 2014:61). Data ini menjadi bahan refleksi bersama betapa semangat perdamaian menjadi fenomena langkah di negeri tercinta ini. Entah konspirasi apa yang tengah diusung oleh oknum tidak bertanggung-jawab, namun pastinya ini merupakan agenda masif dan sistematis untuk menggiring bangsa Indonesia di atas tanduk malapetaka.

Kurangnya pentadabburan terhadap nilai-nilai kehidupan dan penghayatan terhadap keberadaan diri sendiri sebagai manusia yang mendambakan kedamaian juga turut menjadi penyebab rusaknya kerukunan dan memudarnya cahaya perdamaian di negeri ini. Sangat mudah kita mendapati siklus intoleransi di lingkungan sekitar kita. Misalnya sekelompok masyarakat ingin mengadakan suatu kajian atau diskusi, lalu ada sekelompok masyarakat lain menolaknya dengan pendekatan kekerasan, menyancam bahkan menyerbu dan membubarkan kajian atau diskusi tersebut. Pemerintah setempat dengan melihat potensi konflik yang akan terjadi, kemudian melarang sekolompok masyarakat pertama untuk mengagalkan kajian atau diskusi yang telah direncanakan. Bila masyarakat pertama tetap bersikuku, pemerintah setempat berdalil bahwa mereka tidak bertanggungjawab atas kegiatan tersebut jika terjadi penyerbuan oleh sekompok masyarakat kedua(!)

Kekerasan dan penghasutan kebencian juga kerap memakai label agama ataupun firqah tertentu seolah firqah yang mereka tempuh telah berada di atas jalan yang lurus. Firqah yang memiliki massa banyak dengan begitu mudanya mengkafirkan sesama bahkan menganggap darah saudaranya sendiri sebagai darah yang halal. Mereka telah melupakan bahwa fluralisme adalah suatu keniscayaan sebagai sunnahtullah yang wajib dihormati. Bahkan oknum beberapa firqah yang ada hanya bermodalkan bacaan satu atau dua buku, mereka telah menganggap dirinya sebagai orang yang paling benar dan dengan berani mengeluarkan fatwa kebencian. Mereka menganggap di luar dari firqahnya adalah sesat dan wajib dimusuhi. Hal ini juga disinggung secara eksplisit dalam kitab Al-Qur’an, “….Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Dan biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu” (Al-Mu’minum: 53-54).

Untuk mengkaji fenomena ini, Tafiq Fasiak (2014) dalam tulisannya “Ketuhanan dan Kemanusian Suatu Perspektif Neurosains” telah berani mengupas sisi kemanusian dan Ketuhanan dalam perpektif Neurobiologi. Menurutnya untuk mewujudkan sisi kemanusian dari agama tidak bisa dilepaskan dari aspek internal diri manusia, seperti tipe keperibadian dan watak yang memengaruhi cara manusia memersepsi Tuhan (atau agama) yang dipercayainya (Taufiq Fasiak, 2014: 48). Lebih lanjut, dalam memersepsi konsep Ketuhanan sangat dipengaruhi oleh dunia persepsional dan dunia cultural. Dunia persepsional merupakan aspek subjektif bagi sesorang untuk memahami makna atau perintah dalam ajaran agama. Misalnya kata jihad dimaknai berbeda oleh teroris dan muslim moderat. Fakta bahwa mereka yang memiliki otak yang sehat Tuhan sering dipersepsi dalam kaitan cinta, semangat, pemaafan dan harapan. Pada mereka yang gangguan otak, seperti pada pendirita depresi dan obsesif-kompulsif Tuhan dipersepsi dalam kaitan dengan kamarahan, kejauhan, suka menghukum, kaku dan mengawasi (Taufiq Fasiak, 2014). Adapun dengan dunia kultur adalah dunia yang memengaruhi dunia persepsional. Dunia sebagai tempat di mana nilai-nilai sudah tersistematis sebagai sains, filsafat dan pengetahuan. Dunia ini bisa mengubah struktur otak manusia, agar menyesuaikan dunia cultural itu sendiri (ibid). Makanya bagi Taufiq Fasiak mengganggap Tuhan menyejarah dalam dunia perspesional dan dunia cultural pada diri manusia dan setiap priode tertentu akan berpindah catatan sejarah. Apa yang diungkapkan tersebut sebenarnya cara berbeda untuk memahami mengapa agama kerap dijadikan label untuk memaksakan kehendak individu masing-masing. Ini sangat ditentukan bagaimana kita mengkontemplasikan konsep Ketuhanan dalam diri kita. Semua akan berpulang pada persepsi subjektif yang akan menunjukkan apakah secara neurosains otak kita masih normal atau telah mengalami gangguan.

Baca Juga  KPU Kepulauan Selayar Gelar Raker Pengelolaan Dana Hibah

Terlepas dari uraian di atas, virus kebencian telah memperluas ekspansinya bahkan mediapun tak luput dari jangkitannya. Setiap ruang-ruang publik, disakaki pemberitaan-pemberitaan subjektifitas yang jauh dari objektifitas demi menebar indoktrinasi hukum provokasi sesama kelompok. Indoktrinasi ini juga merupakan bentuk ketidakberadaban dalam berdemokrasi yang dapat kita saksikan akhir-akhir ini. Maraknya foto editan disertai tulisan bersifat mem-bully kepada pemimpin telah menjadi wabah penyakit baru dalam konteks kebebasan beraspirasi yang akan menularkan ketidakpercayaan antara rakyat dan pemimpinnya sendiri. Budaya mem-bully pemimpin jaman now dilakukan dengan cara-cara yang tidak etis dan bahkan mencederai nilai-nilai peri kemanusian. Tak tanggung-tanggung, editan foto bully-an ini, bukan hanya diminati oleh kalangan orang dewasa, namun “bocah” SD yang tidak tahu dan paham akan akar permasalahan juga turut angkat jempol dan berkomentar banyak. Tentu kita semua menyakini praktik ini tidak pernah diajarkan oleh para leluhur kita namun ini adalah suatu praktik kekinian yang jauh dari ajaran kesantunan berdemokrasi. Namum bukankah keburukan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir?

Penyebaran virus kebencian terhadap golongan, sekte, firqah dan agama tertentu sehingga menyebabkan fenomena intoleransi kerap kita temukan merupakan implikasi gagalnya pendidikan formal dan informal dalam negeri ini. Sekolah dan lingkungan kampus belum mampu menciptakan penanaman nilai-nilai kemanusaian sebagai pendidikan formal. Begitupula lingkungan keluarga yang cukup berperan dalam mensetting kultur nampaknya hanya berharap banyak pada lingkungan pendidikan formal semata. Padahal jika lingkungan keluarga dari sejak dini dipergunakan untuk mendidik, dan menanamkan nilai-nilai kemanusaian terhadap sesama, maka hasilnya jauh lebih memuaskan dari lingkungan pendidikan formal. Suatu dambaan dari Taufiq Fasiak bahwa perlu adanya kurikulum pendidikan informal dalam keluarga dalam menanamkan nilai-nilai kemanusian, perlu menjadi bahan merenungan bersama.

Penanam nilai-nilai inilah yang akan menghidupkan cahaya-cahaya perdaimanan. Mendidik suara hati, sebagaiamana yang diungkapkan oleh Franz Magnis-Suseno dalam memahami makna kemanusiaan perlu ditumbukan sehingga mampu melihat secara jenih akar permasalahan. Jika suara hati jauh dari cahaya perdamaian, maka justru akan semakin memperkeruh masalah dan tentunya kerukunan dan kesantunan hanyalah sebatas dambaan semata. Abdurahhman Wahid (Gus Dur), pernah menuliskan bahwa kerukunanan antar beragama di Indonesia masih bersifat permukaan saja. Asal tidak terjadi gesekan sudah dianggap rukun. Menurut Gus Dur, kerukunanan umat beragama sejati adalah ketika kita mampu melihat titik-titik persamaan dan menggunakannya untuk kepentingan bersama (Alissa Wahid, 2014: 66). Oleh karena itu dengan suara hati yang disinari cahaya perdamaian akan mampu menemukan sebuah tali yang akan menyambungkannya antar golongan dan agama dalam menata bangsa Indonesia kedepannya.

Dengan umur 72 Tahun, Indonesia sudah sangat dewasa untuk kembali memantapkan langkah ke mana sebenarnya arah negeri ini akan berlabuh. Seharusnya geopolitik dan prinsip kerukunan di Indonesia sudah menjadi matang di usia tersebut. Umur 72 tahun, bukanlah umur yang setengah masak jangung namun umur kedewasaan untuk menjamin tegaknya prinsip-prinisp perdamaian dan penghargaan terhadap aspek kemanusian. Jika umur tersebut telah dipergunakan untuk melahirkan banyak pengakuan terhadap agama di Indonesia, maka semestinya agamalah yang menjadi piranti dasar untuk menghidupkan cahaya perdamaian. Kita tentu sepakat jika penduduk yang diakui di Indonesia dihuni oleh 100% kaum beragama. Jika demikian, apakah nilai agama yang terpatri dalam diri tidak mampu menghidupkan cahaya perdamaian dan menyebarkan nilai kemanusian terhadap lintas golongan atau kelompok? Menarik untuk dicermati pernyataan Nurcholish Madjid (Cak Nur) semasa hidupnya, “agama ini hanya akan bernilai jika agama tidak mengabaikan kemanusiaan”.

Maka dari itu marilah membuat agama kita menjadi bernilai dengan menghidupkan cahaya perdamaian untuk menghargai perbedaan. Cahaya ini akan membentuk kumpuran spectrum yang terang agar negeri ini tidak mengalami disorientasi sehingga menjadi penyesalan abadi selama-lamanya. Umat antar beragama perlu saling menguatkan, dan menjaga satu sama lain. Begitupula golongan yang berbeda aliran, perlu mendengar suara hatinya untuk menemukan tali persaudaraan yang nantinya akan menyambungkan dengan tali golongan lainnya. Juga hubungan antara rakyat dan pemimpin yang perlu mendapat cahaya kesantunan dalam berdemokrasi. Semua ini untuk negeri Indonesia tercinta, negeri yang berjasa mengenalkan kita semua akan makna hidup untuk menuju ke negeri yang abadi. AMIN….

*) Penulis adalah Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Hasanuddin.

 

Facebook Comments