Home Mimbar Ide Mahasiswa dan Tahun Politik

Mahasiswa dan Tahun Politik

100
0
SHARE

Oleh : Ona Mariani

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.”

-Pramodya Ananta Toer dalam Bumi Manusia –

Perayaan pesta demokrasi atau pemilu di Indonesia tidak lagi hanya menjadi media untuk menjaring pemimpin baru dengan visi-misi yang menyenangkan hati rakyat, namun juga sampai pada persoalan menyukupi kebutuhan perut dan fashion sehari-hari kalangan tertentu.

Menyambut tahun politik atau perayaan pesta demokrasi se-nusantara tidak hanya menyibukkan petugas pelaksana teknis pemilu atau pasangan calon yang sebentar lagi akan berlaga, melainkan juga para pengenyam pendidikan tinggi. Pasalnya kita akan dihadapkan dengan momentum “tambah uang jajan” secara cuma-cuma.

Menyandang status mahasiswa di tahun politik seperti sekarang ini, merupakan posisi strategis yang bisa dipandang elitis sekaligus pragmatis. Momentum “tambah uang jajan” hanya akan diperhadapkan dengan suara hati mau atau tidaknya menerima berbagai tawaran dari berbagai lembaga survey,partai pengusung, tim sukses calon, atau bahkan sedikit kreatif dengan jalan menciptakan lumbung usaha musiman sendiri dengan teman atau pujaan hati.

Dunia kampus seyogyannya merupakan dunia yang membebaskan diri kita untuk menjadi diri sendiri atau bahkan berkumpul dengan orang-orang yang katanya se-isme. Isme-isme yang kemudian di idealkan ini akan turut mempengaruhi pilihan seseorang dalam memilih sebuah gerakan tak terkecuali sosok yang diharapkan sebagai agent of change di lingkungannya dalam persoalan menghadapi tahun pesta demokrasi.

Mempertanyakan Idealisme Gerakan di Tahun Politik

Menyinggung kembali topik gerakan mahasiswa yang sebenarnya telah sama-sama kita sadari bahwa ada yang sedang tidak baik-baik saja di dunia para intelektual muda ini dalam menyikapi sesuatu mungkin menjadi tema yang mainstream namun masih memikat hati. Karena yakini saja bahwa tulisan dengan topik semacam ini banyak berkeliaran di berbagai situs baca online yang sangat mudah untuk diakses asalkan anda memiliki kuota alias jaringan internet atau bahkan dengan cara yang lebih sedikit horor yaitu tethering jaringan teman.

Kembali pada gerakan mahasiswa, terus terang saja kita cukup berbangga hati setidaknya sebagai pemuda dan mahasiswa pernah turut andil dalam mengukir sejarah kepemimpinan bangsa ini di era-98. Setidaknya semenjak itu kita menjadi sosok yang cukup membuat ketar-ketir hati para pejabat yang masuk lingkungan kampus untuk berdialog.

Tradisi angkat mikrofon dengan membawa spanduk rame-rame atau bahkan tidur di gedung-gedung anggota dewan tentu menjadi hal yang sangat dirindukan oleh para mantan mahasiswa jika kembali berkunjung di kampus. Dan akan menjadi sosok yang heroik bila masih ada yang mempertahankan tradisi ini sekarang. Namun jangan khawatir momentum seperti ini masih bisa anda jumpai di perayaan hari-hari besar tertentu.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa isme-isme yang berkembang di dunia kampus turut andil dalam menyikapi sesuatu yang berujung pada sebuah pilihan gerakan. Di tahun politik yang mengharuskan mahasiswa untuk turut andil dalam pelaksanaan teknis maupun non-teknis sudah seharusnya kita kembali dalam mempertanyakan idealisme gerakan. Hal ini dirasa cukup wajar karena untuk menghindari terjadinya partisipasi politik partisan khususnya di kalangan para pejabat lembaga kemahasiswaan.

Menjadi elit mahasiswa yang turut menentukan arah kebijakan kampus serta memiliki pengaruh yang cukup diperhituangkan di tataran sesama, tentu dapat menjadi modal utama untuk dipertimbangkan dalam mendulang suara bagi kalangan tertentu yang terlibat dalam kontestasi politik. Praktik pendekatannya sederhana dan sangat mudah untuk kita jumpai di kegiatan lembaga mahasiswa sehari-hari, misal dengan bersedia diundang secara cuma-cuma menjadi pembicara di dalam dialog kampus dengan pilihan tema-tema yang sangat akrab dengan mahasiswa, atau bahkan menghadiri pelantikan pejabat baru unit-unit kegiatan mahasiswa tertentu.

Baca Juga  Selingkuh Memang Bikin Ketagihan

Menjadi perantara jalan masuk para pemilik kepentingan inilah yang kemudian jarang disadari oleh sekelompok elit mahasiswa terlebih jika pasal senioritas masih manjadi budaya di kalangan para aktivis kampus. Perasaan simpati yang berlebihan diantara senior dan junior di kalangan aktivis kampus ini yang terkadang mengaburkan idealisme para penentu kebijakan lembaga kemahasiswaan yang dapat berujung pada terancamnya independensi lembaga kemahasiswaan.

Konstelasi politik Indonesia yang kian hari semakin memanas, menuntut strategi yang sedikit lebih soft namun memiliki tembakan jitu dikalangan praktisi. Praktik money politic di kalangan mahasiswa mungkin bukan lagi menjadi strategi yang tepat untuk mendulang suara, namun permainan ideology dapat menjadi pilihan. Polemik UU ormas dan kampanye berbau SARA pasca perhelatan aksi damai di Pilkada Jakarta nyatanya mampu menguatkan sentimen di antara kalangan aktivis kampus yang terlibat dalam aliran tertentu. Deklarasi anti teror dan radikalisme beberapa waktu lalu dengan menghadirkan beberapa pemangku kepentingan di dalam kampus yang banyak difasilitasi oleh unit-unit kegiatan mahasiswa tertentu secara tidak langsung juga menjadi jalan masuknya berbagai kepentingan dalam menanamkan isme tertentu yang setidaknya dapat menjadi pertimbangan ketika nanti akan memilih calon pemimipin.

Saatnya Kembali pada Peran dan Fungsi

Jika idealisme sudah digadaikan demi kepentingan penguasa, salah satu cara beristighfar yang paling baik adalah dengan kembali mengingat pada peran dan fungsi mahasiswa itu sendiri. Hal ini yang kemudian menjadi rambu-rambu terakhir di dalam menyikapi persoalan yang demikian ini.

Sebagai agen “social control” yang mengkritisi setiap kebijakan pemerintah terhadap masyarakat sudah seharusnya momentum tahun politik ini menjadi kesempatan berharga untuk menyampaikan kepentingan-kepentingan yang dimiliki oleh masyarakat dalam bidang pendidikan.

Pengawalan kasus PTN-BH yang berdampak pada komersilisasi pendidikan di beberapa kampus negeri di Indonesian sudah seharusnya mendapatkan tungku yang pas untuk dipanaskan kembali. Karena bagaimanapun kita harus memiliki posisi tawar yang lebih dalam memanfaatkan momentum tahun politik ini untuk turut menyuarakan kepentingan pendidikan masyarakat.

Selanjutnya sebagai “ moral force” yakni sumber kekuatan moral di tengah masyarakat. Menghadapi tahun politik yang terkadang menekan hati nurani dengan sejumlah praktik-praktik kampanye yang tidak mencerdaskan masyarakat, sudah seharusnya para intelektual muda ini dapat menjadi contoh dalam bersikap dan mengambil tindakan. Membantu masyarakat dalam memahami kepentingan dan mendapatkan hak yang sebagaimana mestinya harus mampu dilakukan mahasiswa dalam memberikan pendidikan politik yang manusiawi di tengah-tengah masyarakat.

Dan pada akhirnya menjadi “agen of change” juga tidak boleh apolitis. Terlibat secara praktis di dalam perhelatan pesta demokrasi sah-sah saja asalkan dengan tujuan untuk turut dalam menjamin keberlangsungan pemilu yang berkualitas.

*) Penulis adalah mahasiswa Ilmu Politik Unhas

Facebook Comments