Home Mimbar Ide Kampus Bento

Kampus Bento

140
0
SHARE

Oleh : Amli oktaenal*

Tan Malaka pernah mengatakan, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”. Idealisme sebagaimana yang diketahui bersama adalah sesuatu yang ideal, atau semestinya terjadi. Idealisme seorang manusia tak bisa hadir begitu saja, melainkan berangkat dari hasil refleksi, dan paling utama adalah pengetahuan yang didapat dari bacaannya.

Idealisme, sebagaimana kata Tan Malaka diatas, selayaknya memang harus dimiliki oleh pemuda, terutama seorang mahasiswa sebagai kaum intelektual muda. Peran dan fungsi yang teramat besar menjadikan mahasiswa harus memiliki pendirian teguh dalam mengemban tanggung jawab tersebut. Apalagi, kampus adalah sarang empuk bagi para intelektual untuk menghasilkan ide-ide kritis dalam menghadapi setiap realitas yang ada. Untuk melihat bangsa Indonesia di masa mendatang, maka lihatlah kondisi kampus saat ini. Begitulah kira-kira mengapa mahasiswa sebagai pemuda harus memiliki dan berpegang teguh terhadap idealismenya sendiri.

Amat disayangkan, karena hari ini kita dipaksa menyaksikan dan mengalami sendiri pemandangan yang berbeda dari apa yang diharapkan oleh Tan Malaka tersebut. Hari ini idealisme dalam diri mahasiswa terkikis perlahan entah oleh sebab apa. Mahasiswa berpikiran “gondrong” teramat langka ditemui, yang banyak hanya gondrong di rambut saja karena mengikuti tren yang ada. Berpikir untuk kemajuan bersama sudah tak nampak lagi, yang dihadirkan kampus saat ini hanya sikap apatis terhadap kondisi sekitarnya.

Kampus hari ini bak menjadi kampus Bento. Kampus mirip-mirip mall hari ini. Datang dengan gaya kelas tinggi, bukan dengan niat belajar yang tinggi. Kampus hari ini mirip-mirip arena pertarungan gengsi antar kelas, bukan lagi pertarungan ide dan kreatifitas yang cemerlang. Kampus hari ini mirip-mirip tempat bimbingan belajar saja. Hanya memandu agar lulus sesuai dengan standar-standar yang diciptakan, bukan lagi berusaha menciptakan manusia-manusia yang kritis.

Hasilnya?, kampus hanya menciptakan manusia-manusia yang apatis, individualis, dan tak berpendirian. Lihatlah betapa banyak sarjana yang lahir secara prematur. Menyelesaikan masa studi hanya dengan jangka waktu singkat. Untung-untung jika sarjana prematur dan berisi. Alih-alih hanya jadi sarjana dengan kualitas pemikiran meragukan dan kalah dengan mahasiswa yang lambat dalam menyelesaikan masa studi karena fokus dalam peningkatan kualitas diri agar nantinya siap menghadapi realitas yang ada di luar sana.

Kampus hari ini memang adalah kampus Bento. Kampus tempatnya para kaum borjuis pamer kekayaan. Kampus yang hanya bisa ditempati belajar oleh mahasiswa yang rumahnya real-estate, punya mobil banyak, dan bergelimang harta. Itu karena institusi pendidikan tertinggi tersebut hanya mau menerima orang yang bisa membayar, jika tak bisa dengan senang hati dipersilahkan meninggalkan tempat belajar tersebut. Kampus sebagai salah satu tempat yang menjadi batu loncatan agar tiap masyarakat bisa meningkatkan strata sosial-nya, justru kampus sendiri yang berusaha memunculkan kelas sosial itu sendiri dengan sistem pembayaran sesuai tingkatan. Yang miskin di tingkatan ini, yang kaya ditingkatan ini. Seperti itulah kira-kira kasarnya bagaimana kampus mencoba untuk menciptakan dan memberikan penghakiman secara tidak langsung kepada mahasiswa tentang siapa yang miskin dan siapa yang kaya.

Baca Juga  Di Plesmanschool, IYL Berinteraksi dengan Siswa

Kampus Bento memang demikian adanya. Bukan lagi kualitas diri yang menjadi fokus, melainkan bagaimana bisa menjadi sarjana secepatnya. Tengok saja kondisi mahasiswa hari ini ‘selingkuh’ dengan smartphone dibanding memilih buku bacaan sebagai teman sehari-hari. Di taman-taman, ruang kelas, semua sibuk dengan alat tersebut. Generasi penunduk ada dimana-mana. Sayangnya, menunduk bukan untuk membaca buku, melainkan bermain game seperti yang marak akhir-akhir ini.

Di kampus Bento, membaca adalah sebuah kemewahan. Menemukan orang yang membaca di kampus Bento seperti anda menemukan harta karun, karena kebanyakan sibuk dengan smartphone masing-masing. Mengecek status di media sosial, melihat produk kosmetik terbaru, dan seterusnya. Jarang terlihat interaksi dengan tatap muka langsung. Yang ada hanya interaksi melalui media maya. Teramat jarang ditemui orang yang berkumpul untuk berdiskusi. Semua sibuk dengan urusan masing masing, mirip-mirip orang di kota metropolitan yang individualis, karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

Di kampus Bento, kita tak dapat menemukan mahasiswa yang perang melawan aparat, yang ada hanya perang melawan gamers yang lainnya melalui smartphone-nya. Tak ada toak yang menyerukan peringatan, tak ada sajak-sajak yang menyindir kebijakan. Tak ada. Yang ditemui hanya pembahasan mengenai hero-hero baru yang keluar, atau film terbaru yang akan dirilis.
Itulah mengapa namanya Kampus Bento. Kampus yang gagal memupuk pemikiran- pemikiran kritis karena kondisi kelasnya sendiri yang berhasil mematikan idealisme, tapi tumbuh subur praktek-praktek yang menginginkan segalanya menjadi serba cepat, termasuk menjadi sarjana. Sarjana prematur tak jadi masalah, walau itu harus dilakukan melalui lobi dan upeti.

Sama sekali tak ada niat meng-generalisasi-kan, tapi adanya memang demikian. Tulisan ini pun saya buat di Kampus Bento, bersama kawan-kawan saya yang juga Bento, atau bisa jadi saya adalah Bento itu sendiri.

Membacalah, Maka Sadarlah
Menulislah, Maka Merdekalah!

*) Penulis adalah mahasiswa asal Sinjai yang mengambil studi di FISIP serta aktif di lembaga kemahasiswaan HUMANIS FISIP UNHAS dan KEMA FISIP UNHAS

Facebook Comments