Home Mimbar Ide DEMOKRASI LIPSING

DEMOKRASI LIPSING

91
0
SHARE

Oleh : Saifuddin Al Mughniy*

Kata demokrasi selalu tak selesai dibincangkan, dipuji, dicaci, dicintai, lalu dibenci. Realitas itu tak terbantahkan, fenomena demokrasi acapkali membentuk opini yang bertolak belakang dengan fakta. Inikah yang kemudian disebut pengingkaran atas nilai, etika dan estetika ? ataukah ini yang disebut sebagai memoles demokrasi dengan mempertahankan kebohongan.

Yah, kebohongan atas nama demokrasi bukan hanya berlaku pada era politik digital yang sedikit binal, tetapi kurang lebih 50 tahun yang silam seorang penulis *Paul Trenor* telah mendaras tentang kebohongan demokrasi dinegara yang mengklaim dirinya sebagai pencetus demokrasi. Kebohongan itu nampak bagaimana perkara HAM diangkat tetapi pembantaian terjadi dimana-mana.

Bukankah demokrasi selalu bersinggungan dengan “humanity”?, sebab ruh demokrasi ada pada esensi kemanusiaan. Ketiadaan ke(manusia)an sama halnya tak berartinya demokrasi. Diera kompetisi negara yang serba terbuka, maka demokratisasi politik harus hadir memberi ruang bagi ekspektasi politik kewargaan bukan politik elitis semata.

Karenanya, kompetisi demokrasi yang kian keras, cadas, dan liar, maka sangat memungkinkan edukasi politik ikut menyemai laju dan berkembangnya politik kewargaan yang etis. Demokrasi tak cukup dinilai dari kosa kata *demos” dan “kratos”, tetapi dua kata ini berintikan pada makna politik kewargaan (daulat politik rakyat).

Persemaian demokrasi dalam politik modern telah merubah wajah pemilih dari sikap apatis menjadi agresif. Disini kadang ditemukan ruang *emosional* dibanding ruang *rasionalitas* baik pemilih maupun kontestan yang akan bertarung di panggung politik.

Yah, ini ada benarnya di sebut *demokrasi lipsing*, suatu kata yang seringkali tak diucapkan, tetapi sekedar diucapkan. Bisa dibilang demokrasi tetapi bukan demokrasi. Se-akan demokrasi tapi bukan demokrasi. *Lipsing democratic* tak lebih dari kebohongan demokrasi. Fenomena ini seringkali muncul ditengah politik praktis dalam perebutan kekuasaan.

Baca Juga  Cakka: Sosialisasi Ada Waktunya, Saya Fokus Dulu Urus Pemerintahan

Situasi ini begitu mencemaskan, sebab tampilan calon pemimpin sering bertolak belakang dengan gagasan, dan pilihan rakyat. Pilkada serentak adalah pengujian apakah marwah demokrasi tetap dipertahankan, ataukah tetap melanjutkan lipsing demokrasi ? semua itu menjadi pembelajaran yang baik untuk membangun politik yang bermartabat.**

*) Penulis adalah pengamat politik Sulsel

 

Facebook Comments