Home Literasi Filosofi Memilih Pemimpin

Filosofi Memilih Pemimpin

270
0
SHARE
Ahmad Yani

Oleh : Ahmad Yani*

Tahun ini, Indonesia akan kembali menyelenggarakan pilkada serantak di berbagai daerah provinsi dan kabupaten/kota. Tepatnya tanggal 27 Juni 2018 masayarakat akan kembali memilih dan menentukan pemimpin yang akan menata daerahnya dalam priode waktu tertentu.

Menentukan pemimpin yang layak, tidak boleh dilakukan secara serampangan, sebab pilihan akan menentukan nasib kedepan suatu daerah. Memilih pemimpin haruslah dilakukan secara terukur yang memiliki pelbagai indikator-indikator. Pilihan yang tidak disertai dengan renungan dan kontemplasi yang mendalam, akan mengakibatkan hasil pilihan yang keliru, dan berdampak berkepanjangan.

Bijak Memilih Pemimpin

Aristoleles pernah mengungkapkan bahwa pemimpin yang baik itu adalah berasal dari kalangan yang bijaksana. Seorang pemimpin menurutnya, haruslah mengusai ilmu-ilmu filsafat, sehingga pemimpin yang bersangkutan terbebas dari berbagai kekeliruan dan kesalahan dalam menjalankan tugasnya. Namun dalam praktiknya ide ideal ini tidak dapat dijalankan, karena susahnya menemukan seorang yang benar-benar bijaksana dan menguasai ilmu filsafat.

Menurut hemat penulis jika kita susah menemukan karatekter pemimpin bijaksana tersebut, maka setidaknya masyarakat sebagai pemilih mesti bijaksana dalam memilih pemimpin. Untuk berada pada jalur bijaksana dalam memilih pemimpin maka aksiologi dari kajian ilmu kefilsafatan merupakan keniscayaan yang mesti menjadi landasan berfikir. Dalam berbagai kajian ilmu filsafat— seperti yang diintrodusir oleh Lois O. Kattsoff, The Liang Gie, begitupula oleh Aristoteles—setidaknya terdiri dari tiga aspek mendasar, meliputi: logika, etika, dan estetika. Oleh karena itu, dalam memilih bakal calon secara bijaksana maka perlu didasarkan pada aspek logika, etika, dan estetika bakal calon.

Logika Bakal Calon

Aspek pertama yang harus ditelusuri dalam diri bakal calon adalah kualitas logika. Pada dasarnya logika merupakan aktifitas berpikir manusia dengan memberikan penilaian yang benar dan salah, dengan kata lain logika erat kaitannya dengan aspek intelektual sesorang. Meminjam istilah Setia Furqan Kholiq— intektual power— dapat disepadankan dengan aspek logika—kecerdasan— yang dimiliki oleh sesorang.

Logika (intelektual) yang dimiliki oleh bakal calon dapat ditelusuri melalui berbagai cara, misalnya mencermati program kerja yang dijanjikan oleh bakal calon, apakah program tersebut relevan dengan fakta yang sebenarnya dan seberapa besar tingkat kebutuhannya di masa mendatang. Apakah program tersebut, telah sesuai dengan fakta permasalahan yang dihadapi masyarakat setempat.

Begitupula logika (intelektual) bakal calon dalam menggagas visi dan misi. Apakah visi dan misi tersebut dapat menjangkau jauh ke depan dalam menata dan menyelesaikan berbagai problematika masyarakat yang nantinya akan dipimpin. Konkretnya apakah visi dan misi tersebut memiliki sinergitas dan korelasi dengan Rencana Pembangunan Jangka Menenga Daerah (RPJMD) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD). Hal ini perlu dikaji secara mendalam.

Jika kriteria di atas telah terpenuhi, maka aspek logika (intektual) bakal calon tidak perlu diragukan lagi. Namun jika sekiranya tidak demikian, maka kita perlu meragukan kemampuan intelektual bakal calon dalam memimpin dan menata suatu daerah.

Etika Bakal Calon

Setelah menelusi aspek logika, maka selanjutnya penelusuran segi aspek etika bakal calon. Etika berkaitan dengan kepribadian calon. Menurut Franz Magnis-Suseno bahwa etika berusaha menjernikan permasalahan moral. Dari wujudkan etika yang baik akan melahirkan moral kepemimpinan yang baik.

Penulis sendiri mengklasifikasikan aspek etika dalam dua klasifikasi, yakni etika internal dan etika eksternal. Dari klasifikasi ini, dapat dijadikan sebagai indikator untuk menilai sejauhmana etika bakal calon yang pada akhirnya akan melahirkan moralitas kepemimpinan yang baik.

Etika internal, dapat diterjemahkan sebagai kepribadian yang sifatnya mengikat ke dalam (jiwa) seseorang. Artinya etika internal, merupakan pencerminan dari prinsip-prinsip hidup yang melakat dalam jiwa bakal calon. Seperti, prinsip-prinsip apa yang memengaruhi cara hidup dan berfikir bakal calon? Untuk mengetahui hal ini, maka perlu membaca dari berbagai aspek keseharian bakal calon misalnya, dari aspek kesederhanan hidup calon dsb. Hal ini perlu diketahui, sebab bagaimanapun juga etika internal akan memengaruhi etika eksternal bakal calon.

Baca Juga  Masuk ke Lorong-lorong, Ternyata Cakka sudah Familiar di Mata Ibu-Ibu di Cendrawasih

Etika eksternal, dapat diartikan sebagai suatu kepribadian yang nampak (terlihat) dalam pelbagai interaksi seseorang. Misalnya, sejauhmana etika bakal calon —kepedulian— terhadap masyarakat lemah dan para penyandang disabilitas. Apakah bakal calon tersebut peduli kepada anak yatim, para pengemis di jalan, dan seberapa sering dia menderma kepada mereka. Kepedulian ini penting, sebab sifatnya universal dan dapat difalsifikasi oleh hati nurani. Juga, sejauhmana bakal calon tersebut mampu berinteraksi antara orang yang berbeda aliran. Hal ini penting, demi menjalin kerukunan dan jangan sampai pemimpin yang terpilih hanya berpihak kepada warga tertentu yang telah memilihnya. Begitupula contoh etika eksternal yang paling penting adalah sejauhmana bakal calon tersebut dapat menjaga dan mengembangkan “lumbung-lumbung padi” masyarakat, bukan malah merusak dan menghabiskannya layaknya “para tikus-tikus di sawah”.

Estetika Bakal Calon

Estika berkaitan dengan nilai keindahan. Dalam hal ini, estetika dilihat dari keterampilan dan krativitas dalam menata suatu daerah. Apakah bakal calon memiliki “seni yang kental” sebagai suatu keindahan yang dapat diinderai. Konkretnya, sejauhmana bakal calon memiliki aspek keterampilan dalam menata dan merekonstruksi tempat-tempat yang kumuh menjadi tempat yang asri dan bernilai ekonomis. Sejauhmana keterampilannya dalam mempergunakan anggaran daerah yang efektif dan bernilai guna. Apakah dalam visi dan misi bakal calon juga memiliki relevansi terhadap aspek keindahan seperti perbaikan tata ruang daerah, lahan terbuka hijau, dan pengaturan lainnya yang bersifat estetika.

Ketiga aspek di atas—logika, etika, dan estetika— dapat dijadikan indikaor dalam menemukan calon pemimpin yang ideal. Ketiga aspek ini didasarkan atas kajian kefilsafatan. Namun menurut hemat penulis, hal tersebut tidaklah lengkap dan harus ditambahkan dari segi aspek keimanan dan ketaqwaan bakal calon. Aspek Keimanan dan Ketaqwaan amat memegang peranan stategis sebagai frame tata kelola pemerintahan yang baik dan berkeadilan.

Keimanan dan Ketaqwaan Bakal Calon

Jika memilih pemimpin hanya didasarkan atas pertimbangan logika, etika dan estetika belaka, —menurut hemat penulis— pertimbangan tersebut sangat dangkal dan kering. Maka dari itu, perlu adanya penilaian dari segi keimanan dan ketaqwaan bakal calon dalam menjalankan agamanya masing-masing.

Bakal calon yang memiliki kualitas keimanan dan ketaqwaan yang baik, akan melahirkan hubungan vertikal dan horizontal yang sinergis. Hubungan vertikal, adalalah hubungan timbal balik antara bakal calon dengan Sang Pencipta. Jika hubungan ini baik, maka daerah yang dipimpinnya akan dirahmati dan diberkati oleh Sang Pencipta. Begitupula sebaliknya. Untuk mengukur hal ini, dapat dilihat—misalnya dalam agama Islam— sejauhmana bakal calon tersebut menerapkan rukun iman dan rukun Islam. Apakah bakal calon—khususnya beragama Islam— mampu merelahkan tidur nyenyaknya di tengah malam, untuk bermunajat kepada ALLAH SWT., meminta petunjuk dan mendoakan keselamatan segenap masyarakat yang dipimpinnya. Apakah bakal calon tersebut, merelahkan waktunya di pagi matahari tergelincir—khususnya beragama Islam— kembali bermunajat dan meminta berkah dan kelimpahan rezeki bagi masyarakat yang dipimpinnya. Sejauhmana—khususnya beragama Islam—kedisiplinan dalam puasa sunnah sebagai peredam untuk melakukan perbuatan tercela, dan masih banyak contoh-contoh lain yang dapat dijadikan dasar.

Sedangkan hubungan horizontal berkaitan dengan hubungan sesama manusia. Apakah bakal calon dapat menjadi panutan ditengah-tengah masyarakat. Misalnya—khususnya beragama Islam— sejauhmana kedisiplinan bakal calon dalam menunaikan zakatnya, sejauhmana bakal calon dapat menderma, dan sejauhmana bakal calon dalam menjalankan hukum-hukum ALLAH SWT.,

Jika aspek logika, etika, estetika dan keimanan dan ketaqwaan, telah dimiliki oleh bakal calon, maka nilai yang akan didapatkan dengan memilih pemimpin ideal adalah terciptanya suatu masyarakat yang berkeadilan dan daerah yang akan dirahmati oleh Sang Pencipta. Namun dalam hal ini, keputusan akhir ada ditangan masyarakat sebagai pemilih dan pemilik hak pilih. Pilihan mana yang akan ditetapkan, tentu didasarkan atas pemaknaan subjektif terhadap makna hidup yang hakiki.

*) Penulis Merupakan Ativis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UNHAS.

Facebook Comments