Home Literasi BEBERAPA MEMOAR

BEBERAPA MEMOAR

44
0
SHARE

Oleh : Fitri De Coresa

Di ujung penghabisan senja,
memoar-memoar, hadir silih berganti.
Tak satu pun meminta permisi, sesukanya saja merasuk pikir dan menari-nari.
Aku dibuat termenung beberapa saat,
sambil mencoba megenali satu per satu, “kapan” dan “di mana”.
Aku dibuat semakin termenung,
dan akhirnya terpaku,
menikmati ceritra lama yang hadir dengan sebuah kata, ialah ingatan.

Adakalanya, masa lalu diharap-harap hadir kembali,
persis seperti pertama kali terjadi.
“Kala itu, di suatu momen.”
Namun, semua telah menjadi kenangan, seperti utopia di awal pagi dan di ujung senja yang sunyi.
Kadang kala membahagiakan, kadang kala menyedihkan.

Aku belajar berhati-hati, agar tidak dihanyutkan hayalan.
Karena sedikit saja lengah, memoar seketika bisa menjadi luka.
Tentang satu hari, satu pekan, bulan, satu tahun, beberapa tahun lalu yang bergelayut ke dalam harapan.
Berharap memutar kembali momentum yang tidak bisa tinggal menjadi monumen dalam pikiran.

Di sisi lain, aku menyerah saja pada rindu,
sebab ingatan yang menumpuk tidak bisa menolak kehadiran rindu-rindu baru.
Keduanya selalu datang berduaan.
Yah, ingatan dan rindu pada tiap memoar, akan hadir di waktu mana saja yang mereka suka.

Makassar, 25 Januari 2018

Facebook Comments
Baca Juga  Membaca (Ulang) Sejarah Gerakan 30 September