Home Mimbar Ide Pilihan Politik sebagai Pilihan Seksual

Pilihan Politik sebagai Pilihan Seksual

129
0
SHARE
Ermansyah R. Hindi

Oleh: Ermansyah R. Hindi*

Selama Tahun Politik 2018/2019 (Pemilu/Pilpres Indonesia), diskursus politik kembali menempuh cara berpikir seseorang dihadapkan dengan diskursus lainnya. Tetapi, apapun yang dapat kita dikatakan disini, tidak ada diskursus intelektual tanpa pilihan politik dan pilihan seksual. Ia tidak lebih pernyataan secara umum dan terbuka dari kebenaran yang darinya masih tetap dicurigai sebagai ancaman berbahaya secara moral dan institusional. Representasi diskursus berpindah ke representasi lainnya menghilang sebelum waktunya nampak menuju titik akhir tabu dan pelanggaran batas-batas pilihan politik seseorang seiring dengan hilangnya tabu dan larangan atas pilihan seksual dalam masyarakat disaat kita melihat berangsur-angsur akan dibangkitkan melalui sifat alami dalam kehidupan manusia secara individual dan sosial. Sesuatu hal yang menggembirakan, perbincangan politik di setiap kesempatan ternyata tidak dapat dilepaskan dari artikulasi kesenangan seksual yang masih terjaga sekaligus diwaspadai dibalik artikulasi kepentingan politik. Dalam diskursus politik, produksi gagasan tidak muncul tanpa produksi hasrat seksual. Pilihan politik menyentuh sesuatu yang sifatnya pribadi dan sangat dalam. Kita masih saja terjatuh dalam pengulangan diskursus tanpa benar-benar menemukan sesuatu yang baru dengan mekanisme yang belum dikenal sebelumnya. Betapa diskursus memaksa kita untuk menggunakan diskursus lainnya, sekalipun kita terpaksa secara tidak gegabah untuk meminjam perbendaharaan bahasa dan logika yang kita sendiri tidak mengerti apa-apa yang dimaksud dalam teks atau tanda hasrat akan politik seiring hasrat seksual ‘tanpa persetubuhan’ atau hubungan intim. Jaringan dan tatanan simbolik menggunakan bahasa keseharian tentang tema politik dan seksualitas: ‘orang tua’ dan ‘anak’, ‘pria’ dan ‘wanita’, ‘politisi’ dan ‘konstituen’, ‘idola’ dan ‘pemuja’, ‘negara’ dan ‘rakyat’, ‘yang dipilih’ dan ‘yang memilih’ mampu dibangkitkan mekanismenya melalui dorongan dan pilihan seksual setelah melepaskan dirinya dari bahasa “jenis kelamin” yang represif dan tanpa pelibatan secara langsung maupun tidak langsung berupa hubungan sedarah dan hubungan sejenis menjadi bagian dari diskursus seksualitas di hari-hari terakhir bersama kegilaan yang khas. Politik dan hasrat seksual merupakan darah dan jenis kelamin yang sama sebagai simbol-tanda yang mengalir dalam kehidupan melampaui identitas, darah, fisiologis, dan biologis berdasarkan rujukan pengetahuan ilmiah.

Suatu hal yang perlu digambarkan dalam penanaman ketidaksadaran melalui pilihan politik, dimana mesin permainan dibangun dan dituntut untuk memerankan permainan ‘politik yang memiliki aturan’, yang diletakkan kebebasan pilihan seksual yang melebihi dorongan hasrat seksual dan jenis kelamin melalui tubuh murni kita. Pilihan politik yang terseksualkan merupakan rezim kebenaran untuk membebaskan dirinya dari teks-teks, janji-janji, lekukan-lekukan, gambar-gambar, dan luapan-luapan kenikmatan birahi yang membuat orang-orang terpikat yang menghancurkan kenormalan dirinya sendiri melalui pengumbaran seksual secara represif. Disinilah peranan penting dari pemikiran modern melibatkan dirinya betapa pentingnya suatu pendidikan politik rakyat. Pendidikan politik secara terbuka untuk umum merupakan kekuatan baru bagi pertumbuhan pendidikan dan pilihan seksual dalam masyarakat. Pertumbuhan pendidikan dengan pilihan politik dan pilihan seksual secara beriringan menyertakan keadaan umum membuat ketidakhadiran jenis kelamin laki-laki dan perempuan merupakan prasyarat keberlangsungan kehidupan bangsa dan negara tanpa dominasi kelompok atas yang lainnya. Pria dan wanita masing-masing memilih secara bebas pada siapa pujaannya melalui cara menyeksualisasi sebuah permainan politik yang cair dibumbuhi dengan guyonan, senyuman dan bahkan selingan gelak tawa menghibur untuk melupakan sejenak ketegangan dan kesalingmenyerangan antara pihak pendukung yang satu dengan pihak yang lainnya. ‘Pilihan seksual’ secara radikal akan mencairkan ketegangan tindakan politik dominasi kelas atau kelompok atas dengan yang lainnya, kebencian dan sentimen antara satu pendukung dengan pendukung yang lainnya menghilang dalam representasi wilayah publik atau kepentingan rakyat dan bangsa secara keseluruhan sekalipun ditengah perbedaan ‘pilihan politik’. Senyuman dan guyonan dianggap lazim dalam permainan politik, datang dan pergi dengan ketegangan, manuver dan intrik politik berikutnya. Disitulah pilihan politik yang terseksualkan akan dimainkan untuk merangsang, meregangkan, melumaskan, dan menyegarkan dorongan diri nan egoistik menjadi sesuatu yang lumrah menuju kenormalan yang menyenangkan diantara perbedaan dalam tatanan sosial menjadi sarana ujian baginya. Seksisme dalam politik dapat meluluhkan dan membungkam egoisme politik yang sudah tentu dalam hal ini seksualitas yang terkendali dan terhindar dari kesewenang-wenangan, manipulasi dan penopengan diri. Para pendukung memilih pilihannya seakan-akan dirasuki oleh tulisan hipnotis atau penulis hantu yang menempatkan dirinya dalam sebuah mesin politik yang bernama ketidaksadaran muncul tatkala mereka tidak ingin beranjak dari tempat seiring melepaskan bayangannya sebelum mencium, memeluk dan sebelum berselfi ria dengan idolanya. Kenormalan pilihan dihingar-bingarkan dalam ketidaksadaran berfoto bersama sebagai anggota masyarakat yang menantikannya datang dari rayuan maut terakhir.

Baca Juga  Ini pesan Kepolda Sulsel kepada Anggotnya Usai Beri Bantuan di NTB

Didalam dan diluar kontestasi politikpun, setiap perilaku politik selalu melibatkan dorongan seksual menjadi pilihan yang pada titik menentukan politik itulah pilihannya. Kita mengetahui secara seksama dalam proposisi dan logika yang dibangun selama ini, pilihan politik merupakan wujud kenormalan dan normalisasi menjadi bagian utama dari strategi politik kuasa setelah kuasa itu sendiri mengalami ‘fase produktifitas’. Sementara tanpa pembalikan yang tergesa-gesa, pilihan seksual juga merupakan perwujudan dari kenormalan dan normalisasi menjadi bagian dari tanda sekaligus tuntutan kehidupan dan sifat alami dalam sejarah dan filsafat atau pemikiran manusia. Karena itulah, keduanya merupakan pemikiran modern yang belum tertelan dan tidak tuntas oleh dan dari zaman. Tidak disangkal lagi, setiap pilihan politik yang terseksualkan betapapun telanjangnya peristiwa dari tokoh, pesohor dan pengikutnya menempatkan pilihan yang tersembunyi selalu memperbarui dan merepresentasi dirinya sampai representasi menghilang dalam dirinya sendiri. Pilihan atas calon tertentu mengalami “deseksualitas tubuh politik” yang padanya dilekatkan aparatur kebenaran dan sifat alami yang menandai alur penanaman ketidaksadaran darinya. Orang-orang melampaui dirinya sendiri melalui pilihan-pilihan kehidupan individu apalagi pilihan-pilihannya itulah justeru akan mengorbankan tatanan sosial yang kreatif dan anonim setelah membebaskan dirinya dari orientasi seksual tidak dimungkinkan lagi dipredikatkan padanya sebagai pilihan politik. Dalam pilihan-pilihan yang beradu kencang dan dinamis, tindakan seksual dari pendukung atau kelompoknya dihapus dengan pilihan seksual melalui tubuh politik yang termaterialisasi. Pilihan orang menuntun pilihan rasional kadangkala irasional tidak membutuhkan data-daftar pemilih tetap terutama masalah lintas jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Diskursus politik akan mengakhiri pilihan politik semata-mata pilihan berdasarkan orientasi seksual: “lain jenis” dan “sesama jenis kelamin”. Rantai pilihan politik yang terseksualkan di bawah rezim diskursus bukanlah kata-kata melimpah-ruah yang direpresentasikan oleh bahasa melalui tubuh yang berlaku bagi seluruh manusia yang normal. Seringkali kenormalan pilihan tidak membutuhkan sesuatu yang pasti dan terukur. Bilik suara-TPS berbicara bukan pada pemilih, melainkan kertas-kertas yang tidak bisa disembunyikan kebenaran darinya atau dokumentasi yang memiliki jaringan penyelenggara Pemilu untuk meneliti dan menghitung jumlah suara yang dihubungkan dengan kekuatan rangsangan, gairah dan daya pikat melalui permainan politik antara pemilih dan yang dipilih.

Mesin hitung suara bergerak tidak melawan arah dengan pergerakan mesin politik yang terseksualkan. Teater politik Indonesia diselingi dengan penampilan karikaturisasi atau parodisasi yang melibatkan laki-laki yang berpakain gaya perempuan. Gaya politik dibayangkan sesuatu ‘pasti dalam ketidakpastian’ dan ‘terukur dalam ketidakberukuran’ akibat melampaui dirinya melalui pilihan-pilihan seksual yang tidak terpetakan dan tidak terdata kecenderungan politiknya. Berdasarkan data KPU, jumlah Pemilih Tetap dalam Pemilu/Pilpres di Indonesia Tahun 2019 (di dalam dan di luar negeri) mencapai 192 juta, meliputi jumlah pemilih laki-laki sebanyak 96.271.476 pemilih dan perempuan sebanyak 96.557.004 pemilih. Lebih lagi, wujud politik dan wujud seksual menjadi mode produksi kehidupan memiliki mekanisme yang tidak terdapat dalam mekanisme politik formal dan prosedural. Jadi, pilihan politik yang terseksualkan berarti tanpa seks (jenis kelamin) dan mekanisme-mekanismenya diatur diluar prosedur dan tanpa indikator yang terukur, pasti dan positif. Sekali mencoba untuk memilih dan meluap keluar, maka pilihan politik dengan wujud seksualnya membuat orang penasaran dan ketagihan. Memang, pemikiran modern menemukan cara untuk mengalamiahkan pilihan yang bergerak secara mekanis tanpa tubuh murni. Dari suatu pandangan politik secara luas dan pergerakan-pergerakan pilihan seseorang mulai melepaskan dirinya dari rantai elektoral melalui menit-menit perubahan, yaitu arus perubahan yang terakhir dari “deseksualitas tubuh politik” menjadi “repolitisasi tubuh seksual”. Karena bukan hanya melipatgandakan motif, dorongan dan kategorisasi yang dimilikinya, tetapi juga saling berinteraksi dan inheren antara wujud politik dan wujud seksual yang secara imanen terdapat dalam kehidupan dan pemikiran. Wujud seksual menjadi bawaan politik. Melalui mekanisme yang tersembunyi membuat seseorang akan merangsang dirinya atau mengulangi kembali sekalipun diluar prilaku politik sekaligus tindakan seksual sehari-hari banyak diperbincangkan secara normal.

*) Penulis adalah ASN Bappeda Kabupaten Jeneponto/ Sekretaris PDM Turatea Jeneponto

Facebook Comments