Home Fajlurrahman Jurdi Kaget : Banalitas Ucapan Sang Fuhrer

Kaget : Banalitas Ucapan Sang Fuhrer

168
0
SHARE
Fajlurrahman Jurdi

Oleh : Fajlurrahman Jurdi*

Ucapan adalah refleksi pikiran, karena apa yang kita ucapkan, minimal itu yang kita fikirkan. Pikiran tidak dapat diberi penilaian, karena pikiran tidak dapat diselami. Hanya sang individu itu dan Tuhan yang mengetahui apa yang seseorang pikirkan. Karena itu, pikiran baru dapat diberikan penilaian, bila ia sudah diucapkan. Ucapan adalah hasil pikiran, tetapi belum tentu pikiran akan diucapkan.

Bisakah antara ucapan dan pikiran mengalami distingtif. Bolehkah seseorang berbeda antara apa yang ia ucapkan dengan apa yang ia pikirkan. Tentu saja boleh, dan dalam politik, ia kadang menjadi habitus tiap orang. Ini secara soft disebut berbohong terhadap diri sendiri, dan ini merupakan bahasa lain dari “distingsi antara ucapan dan pikiran”. Namun kebohongan yang hard dikonstruksi ke dalam perbedaan antara “ucapan dan tindakan”. Ucapan sudah menjadi konsumsi orang lain diluar sang individu, karenanya ucapan dapat diberi penilaian. Dalam konteks ini, jika apa yang di ucapkan dan apa yang dlakukan berbeda, maka dapat dituduh sebagai kebohongan.

Bagaimana dengan kata “kaget”?. Kata ini dapat disebut benar bila apa yang diucapkan berangkat dari “terminal ketidaktahuan”. Jika ia memang tidak mengetahui apa yang ia ucapkan, maka secara reflektif seseorang dapat mengucapkan kata “kaget”. Maka kaget yang demikian dapat ditolerir. Namun ada juga “kaget” yang merupakan “ketidaktahuan sempurna” Yang dimaksud ketidaktahuan yang sempurna adalah bila seseorang yang semestinya mengetahui suatu peristiwa atau obyek, karena peristiwa atau obyek itu ada di bawah penguasaannya, namun karena berbagai masalah, ia tidak dapat mengetahuinya, maka ketidaktahuan yang ia alami itu sempurna. Orang seperti ini secara sederhana dapat disebut sebagai orang “bodoh”, karena apa yang semestinya ia tau, ternyata ia tidak tau.

Baca Juga  Pendukung NA Serang SYL Soal Bendungan Karaloe, Netizen: Tanya PDIP

Contoh sederhana adalah; sepuluh anak diajarkan untuk mengenal huruf alif, ba, ta. Setelah beberapa kali diajarkan berulang-ulang, maka satu persatu disuruh mengulang. Sembilan anak dapat mengulang dengan baik, tetapi ada satu anak yang tidak bisa sama sekali mengulang apa yang diajarkan. Beberapa yang satu orang disuruh mengulang, namun tetap juga tidak bisa. Anak yang demikian, dapat dianggap bodoh.

Tetapi bila ucapan kaget itu berangkat dari terminal kesengajaan, dalam arti bahwa dia tau ada peristiwa, bahkan ia menjadi bagian dari peristiwa itu, lalu dia ucapkan kata “kaget”, maka ini adalah kebohongan yang tertata.

Dalam etalase tindakan politik, kebohongan itu lumrah, bahkan ia dirawat untuk mengelola dan mempertahankan kekuasaan. Semakin pandai menyembuyikan kebenaran dan semakin luas jangkauan korban kebohongan, maka kekuasaan makin bisa mengendalikan ekses terhadap tindakan, utamanya ekses terhadap trust. Trust adalah perkakas yang menjadi mahkota kekuasaan, bila itu berantakan, ia dapat berbahaya bagi stabilitas kekuasaan itu. Maka kebohongan harus dirawat selama kekuasaan itu dipegang.

*) Penulis adalah Dosen Fakultas Hukum Unhas

Facebook Comments