Home Mimbar Ide Kota Sengkang : Anak Asuh IRM dan Traktiran Pak Bupati

Kota Sengkang : Anak Asuh IRM dan Traktiran Pak Bupati

197
0
SHARE

Oleh : Haidir Fitra Siagian*

Bukan Rappang, bukan Parepare dan bukan Majene. Adalah Kota Sengkang sebagai kota yang paling awal melekat dalam benak saya ketika awal tiba di Sulawesi Selatan pertengahan tahun 1990. Kota yang begitu sering kudengar dan kubaca saat itu, walaupun hingga lima-enam tahun kemudian barulah saya dapat menginjakkan kaki di Kota Sutra ini.

Bermula pertengahan tahun 1991, kota ini menjadi tuan rumah Musyawarah Wilayah Muhammadiyah ke-34 Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Saat itu usiaku baru 17 tahun, baru saja ikut TM1 IPM Mamajang, saya belum menjadi pengurus Muhammadiyah. Tetapi saya sudah tinggal di Kantor Muhammadiyah Jl. Gunung Lompobattang, membantu dalam bidang kebersihan dan penguncian pintu juga perawatan bunga.

Panitia Musywil saat itu sangat sibuk di sekretariat panitia. Terpampang spanduk bahwa akan diadakan Musywil di Sengkang. Itulah yang saya baca dan ingat sehingga menjadi kota yang pertama saya kenal di Sulawesi Selatan.

Walaupun saat itu tidak ikut ke sini, tetapi hingga sekarang, Kota Sengkang sangat akrab dengan saya. Cukup banyak juga teman saya di sini. Baik yang tinggal di sini maupun yang tinggal di berbagai kawasan yang berasal dari kota ini. Ingin saya sebut beberapa namanya : Muhammad Adam, Pengurus teras Muhammadiyah Wajo yang berkedudukan di Sengkang, Arizal Bintang, Uchu Fishery, Andi Abdillah, dan adinda Munawwar Khalil, dosen UIN Suka Yogyakarta.

Amat sangat sering saya ke kota yang sangat dekat dengan Danau Tempe ini. Sulit menghitung berapa kali. Baik untuk urusan organisasi maupun urusan lainnya, atau hanya sekedar melintas saja. Beberapa peristiwa penting yang sempat ku
ingat terkait dengan kota ini akan saya kemukakan, yang sulit dilupakan, sebagai berikut:

Pertama. Tak tepat tanggal dan bulan persisnya, yang jelas awal tahun 1996. Ke sini bersama dengan sahabat saya, Abdul Azis Ilyas, Pengurus IRM Sulsel yang merupakan keturunan etnis Tionghoa. Dengan naik angkutan kota secara estafet. Mulai dari Maros, Pangkep, Parepare sampai Sengkang. Tak paham saya kenapa harus dilakukan secara estafet. Berangkat jam delapan pagi dari Terminal Panaikang dan tiba jelang magrib di Jalan Jawa, rumahnya Pak Haji Dahlan Ware, tokoh Muhammadiyah Wajo sekaligus pedagang kain terkenal. Ketika kami pulang esok harinya, kami dihadiahi masing-masing sehelai sarung sholat.

Tujuan kami ke sini adalah menghadiri semacam halal bi halal adik-adik IRM yang sekolah di Pesantren Darul Arqam yang berasal dari Wajo dibawah pimpinan Munawwar Khalil. Tampil membawakan hikmah halal bi halal adalah K.H. Djamaluddin Amien, Ketua PWM Sulsel saat itu. Dalam acara tersebut, adik-adik IRM menampilkan pentas seni bernafaskan Islam di gedung Serbaguna Aisyiyah. Mulai dari qasidah sampai puisi terjemahan Al Qur’an. Diantaranya yang saya ingat ada nama Verawati Jamaluddin, sekarang istri dari sahabatku, Luqman Hamid, dan Sitti Maryam.

Yang tersebut terakhir saat ini adalah menjabat sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Wajo, yang baru saja dilantik oleh Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulsel. Saat ini di beberapa tempat di Kota Sengkang kulihat beberapa spanduk dan baliho lengkap dengan namanya. Menjadi calon anggota legislatif tingkat pusat dari salah satu partai politik peserta pemilu. Insya Allah.

Kedua. Mungkin akhir tahun 1997 atau awal tahun 1998. Saya tidak ingat persis. Saya ke sini bersama dengan beberapa teman mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin atau dikenal dengan sebutan Kosmik. Yang kuingat jika tidak salah adalah Sahwan Susetyo (sekarang staf KPU Sulbar), Musdafla (PNS Departemen Sosial) dan Muhammad Yusuf (wartawan Reuters) yang sekarang lebih dikenal dengan panggilan Yusuf Ahmad.

Kami berangkat lepas magrib dari Terminal Panaikang dengan bis kijang. Ongkosnya kalau tidak salah empat-lima ribu rupiah per kepala. Saat itu saya duduk persis di kursi belakang dekat jendela kaca. Pagi hari kudapati kepalaku sebelah kanan benjol atau bengkak. Rupanya berulang-ulang terbentur jendela tak terasa saat tidur.

Kami sengaja datang ke sini untuk urusan duka cita. Melayat kepergian ke rahmatullah orang tua dari salah seorang sahabat kami, sesama mahasiswa jurusan ilmu komunikasi. Kami tiba di rumah salah seorang teman. Pagi hari setelah sarapan barulah kami pergi rumah duka. Kami tak sempat melihat jenazah, karena sudah dikebumikan kemarinnya.

Dari rumah duka, kami diantar ke kuburan almarhum. Jalan kaki karena kompleks pekuburan tidak jauh rumah duka. Sesampainya di kuburan, kami melihat kuburan almarhum masih terasa hangat. Entah gimana ceritanya, saya diminta pimpin baca doa untuk almarhum. Memimpin baca doa pertama di kuburan.

Baca Juga  OTT “Suap” Bertubi - Tubi : “Apakah KPK Mencari Simpati?”

Sebelum balik ke Ujung Pandang, oleh seorang diajak singgah ke rumahnya. Disuguhi mangga harum manis. Dan memang sangat manis. Inilah pertama kalinya makan mangga yang sangat manis. Sebab di kampung Sipirok dulu mangga rasanya masem sangat.

Ketiga. Dampak konfik horizontal yang terjadi di Maluku, sebagai rasa solidaritas sesama umat Islam, membuat Sulawesi Selatan juga ikut sibuk. Tak terkecuali warga Muhammadiyah termasuk anak-anak IRM Sulsel dan Wajo. Saat itu IRM Wajo dipimpin sahabat saya Muhammad Adam. Saya selaku pengurus IRM Sulsel bersama Ishaq Nusu, Syahrir Raja dan lain-lain. Ini berada pada sekitar tahun 2000an.

Oleh Pimpinan Pusat IRM, di bawah kendali Mas Toni atau Raja Juli Antoni, ada program anak asuh bagi korban konflik dimaksud. Mereka akan ditempatkan pada warga Muhammadiyah yang mau menampung dan menyekolahkannya. Setelah melakukan koordinasi dan pendataan, terdapat warga Muhammadiyah Wajo yang berkenan.

Singkat cerita, bersama teman-teman IRM Wajo kami membawa anak-anak usia sekolah dasar dari Maluku ke Sengkang. Jumlahnya tak ingat persis. Yang jelas dari pelabuhan Makassar kami sewa tiga bus membawa anak- anak dimaksud. Saat tiba di Sengkang, awalnya diterima di rumah Bapak Haji Dahlan Ware. Esok harinya barulah dijemput oleh orang tua asuh yang sudah mendaftar.

Dalam perjalanannnya, program orang tua asuh ini penuh dinamika. Kami sempat diisukan perdagangan anak. Padahal kegiatan ini resmi dan bahkan ada perjanjian yang ditandatangani notaris. Ada juga yang bermasalah, seperti melarikan diri dari rumah. Dicari, ditemukan, minggat lagi. Dan seterusnya. Hingga hampir 20 tahun program ini, saya tak sempat lagi memantau perkembangannya. Ada yang sudah pulang ke Maluku atau mungkin ada yang menikah, ada yang dikuliahkan ke Makassar. Kabar terakhir diantara mereka ada yang sudah sarjana, kembali ke Maluku dan menjadi guru PNS. Tulisan ini saya anggap juga sebagai laporan tak resmi kepada Mas Toni. Dan program ini saya pikir berhasil dengan baik. Wallahu’alam.

Keempat. Sepulang dari meresmikan Pondok Pesantren Muhammadiyah di Jauh Pandang, Siwa, sekitar tahun 2002, kami lewat Sengkang. Saat itu bernama (alm) Prof. Dr. H. Radhi Al Hafied, M.A. Selain sebagai Wakil Ketua Muhammadiyah Sulawesi Selatan, saat itu beliau juga menjabat Pembantu Rektor I IAIN Alauddin Makassar.

Ketika datang dari Makassar, kami lewat Parepare. Dan ketika mau pulang, beliau minta kepada pak sopir agar lewat Sengkang terus ke Cabbenge Soppeng. Alasannya adalah ingin singgah di Sengkang untuk minum tuak manis dan gogoso. Katanya beliau rindu makanan khas Bugis tersebut.

Saat minum tuak, hujan turun amat deras. Lalu kamipun meneruskan perjalanan pulang lewat Soppeng. Entah di daerah mana, jalanan macet total. Rupanya jalanan ke arah Soppeng tak bisa dilalui karena air sungai meluap sampai ke jembatan sehingga mencapai leher orang dewasa. Akhirnya jelang magrib Prof bilang, putar balik. Kembali ke Sengkang pulang lewat Parepare. Hikmahnya adalah kami singgah makan malam di kawasan Tanru Tedong, rumah makan cuwiwi atau belibis. Makanan khas Sidenreng yang cukup mewah untuk ukuran saya saat itu.

Selain keempat kisah tersebut, masih terdapat cerita lain saya ke kota perdagangan kain ini. Biasanya bertindak sebagai ajudannya pimpinan Muhammadiyah seperti Pak Kiyai Nasruddin Razak, Kiyai Baharuddin Pagim dan Ustadz Muhammad Syaiful Saleh.

Inilah sekelumit diantara kisah saya tentang Kota Sengkang. Lalu apa kaitannya dengan traktiran coto? Suatu ketika dalam tahun 2013 saya dengan sahabat sesama mahasiswa UKM, Syahrir Karim, singgah makan coto di warung Paraikatte Pettarani Makassar. Di dalam warung, seorang pejabat yang berpakaian dinas bersama ajudannya sudah duluan makan coto. Setelah salaman dan cerita sebentar, kami mengambil tempat duduk agak jauh dari beliau. Ketika akan membayar coto, kasir bilang bahwa sudah ada yang membayarnya.

Kebetulan sekali, ini kedua kalinya beliau traktir makan coto. Sebelumnya adalah pagi hari di Kota Siwa, sebelum belok ke Desa Jauh Pandang bersama Prof. Radhi. Ini terjadi saat meresmikan pondok pesantren tersebut di atas.

Alhamdulillah. Kala saya ditraktir coto saat itu, beliau masih menjabat Ketua Pemuda Muhammadiyah Wajo dan Wakil Bupati Wajo. Sekarang sudah naik kelas. Menjadi Bupati Wajo. Belum lama ini dilantik. Terima kasih Bang Amran Mahmud. Terima kasih juga atas hospitalitinya kepada peserta Workshop Kurikulum ISMUBA Majelis Dikdasmen PWM Sulsel zona IV Bosowa saat ini. Semoga dapat melaksanakan amanah dalam redha Allah Swt.

*) Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar

Facebook Comments