Home Literasi Kenikmatan Sabar

Kenikmatan Sabar

0

Oleh : Fory Armin Naway
Dosen FIP Universitas Negeri Gorontalo

Saat ini ummat Islam tengah berada di bulan Muharam atau tahun baru hijriah 1441. Tentu di tahun baru Islam ini, harapan ideal bagi seorang Muslim sejati, adalah lahirnya keasadaran dan semangat untuk berhijrah ke arah yang lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun baru Hijiriyah tidak hanya sekadar memperingati dan mengenang peristiwa hijrahnya Nabi Besar Muhammad SAW dari Kota Mekkah ke Madinah, tapi lebih dari itu, tahun baru Hijiriyah mengandung hikmah pengajaran yang begitu luhur bagi ummat manusia agar menjadi insan yang lebih baik lagi. Tahun baru Hijiriyah dengan begitu, menjadi momentum yang tepat untuk mengenal diri, mengintropeksi diri untuk kemudian bertekad melakukan perubahan fundamental terhadap sikap, perilaku dan berbagai aspek lainnya ke arah yang lebib baik lagi.

Berhijrah berarti mengandung makna sebagai sebuah tekad, sikap konsistensi atau istiqomah untuk tetap berada di jalan yang benar. Istqomahnya seseorang, sebenarnya bertumpu pada sejauhmana ia mampu mengendalikan diri atau mengendalikan hawa nafsu yang selalu menjadi pemantik untuk berbuat sesuatu yang melampaui batas. Itulah pentingnya kesabaran, yakni tabah dalam menjalani ketentuan atau takdir Allah SWT dan sabar dalam menjalankan segala perintah dan larangan-larangan-laranganNya.

Sabar adalah perisai dan senjata ampuh bagi orang yang beriman. Dalam Al-Qu’ran Surat Al Ashr disebutkan, Demi massa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali bagi mereka yang saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Dalam surat Al-Imran (3) : 42, Allah SWT berfirman : “Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata bagi orang yang sabar”

Masih banyak lagi ayat-ayat yang menjadi petuah bagi ummat manusia untuk mematrikan diri dalam kesabaran. Hidup adalah sebuah perjalanan dan sabar merupakan landasan dalam berpijak. Orang yang tidak tidak sanggup bersabar akan mudah terpuruk ketika diterpa masalah dalam hidupnya. Imam Al-Ghazali pernah mengatakan, orang yang tidak sabar dengan musibah akan lebih menderita dari pada musibah itu sendiri. Orang yang tidak sabar tidak akan mencapai kematangan jiwa dan tidak mampu menyerap ketenangan batin. Bahkan dalam banyak kisah menunjukkan bahwa sabar telah mengantarkan pada kewalian seseorang.

Apalagi dalam konteks kehidupan yang sesungguhnya, semakin tinggi pohon menjulang, makin kencang angin yang menerpa, makin kukuh iman seseorang, makin besar badai ujian yang menerjang. Itulah secercah ungkapan yang sejatinya yang merangsang ruang kesadaran setiap orang, bahwa ketika mendapatkan kesulitan, musibah atau sesuatu yang tidak diinginkan, tidak disukai dan tidak diharapkan dalam hidupnya, untuk tetap bersabar, tidak berkeluh kesah, marah, mengumpat, mengutuk dan bahkan yang paling tragis mendoakan keburukan kepada orang lain yang dianggap bersalah.

Untuk meneguhkan kesabaran ke dalam hakekat yang sesungguhnya sebenarnya bertumpu pada kesadaran kolektif ummat terhadap keberadaannya sebagai “Makhluk Membaca”, yakni membaca realitas hidup, menghayati dan meresapi berbagai peristiwa dan dinamika dalam hidupnya, ke dalam keimanan dan ketauhidan yang sungguh-sungguh. Ouputnya, yakni senantiasa bersyukur dan bertawakal. Oleh karena itu, konsep dasarnya adalah membaca manusia, membaca alam dan membaca seluruh ciptaanNya.

Dalam konteks pergulatan hidup dalam realitas kekinian diberbagai bidang kehidupan, ketimpangan yang terjadi, konflik dan berbagai perselisihan yang terjadi lebih disebabkan oleh ketidaksadaran atau kealpaan terhadap pentingnya “membaca” hakekat kehidupan itu. Akibatnya, amarah meledak, keluh kesah mendera, kebencian dan dendam kesumat kian merasuk ke dalam sanubarinya.

Itulah sebabnya, dalam ruang lingkup kehidupan masyarakat lokal Gorontalo, para leluhur sejak zaman dulu telah mewariskan nilai-nilai kesabaran dan keikhlasan ke dalam ranah yang paling dekat dan ada dalam setiap individu, yakni menamakan Rongga Dada, dimana hati dan qalbu bersemayam sebagai “Duhelo” yang secara terminologi mengandung arti dan makna sebagai “Dutuwa Lo’u Mohelo”, tempat dimana semua persoalan diterima dengan lapang dada sehingga hidup ini terasa ringan. Tidak heran, jika orang tua dulu ketika mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan atau mendapatkan musibah, maka yang sering terungkap “Bo moleyapu duhelo”- “mopo’otanggala duhelo” yang bermakna ia menerima dengan lapang dada, ikhlas dan menyerahkan segalanya kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta.

Hal ini berbeda dengan seseorang yang tidak memiliki kesabaran, yang terkadang ketika diremehkan orang, dizhalimi atau mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dalam waktu yang lama, maka ia dengan nada emosi, marah dan jengkel mengatakan bahwa sabar ada batasnya, sehingga ia melabrak orang yang menyakitinya itu. Padahal sabar adalah sikap yang tiada batasnya, batas kesabaran adalah ketika nafas telah tercerabut, ketika nadi tidak lagi bedenyut.

Dalam konteks yang lebih spesifik, tentu tulisan ini bermaksud hendak mengetuk hati, menggugah nurani siapapun, bahwa dalam merajut kehidupan ke arah yang lebih baik, kita perlu meneguhkan sikap sabar sebagai perisai untk terus maju. Ketika seseorang yang tengah merintis usaha memperbaiki kondisi kehidupan ekonomi keluarga misalnya, sudah pasti tidak terlepas dari berbagai rintangan, tantangan dan kendala yang menghadang, maka sabar adalah sikap yang harus terpateri sembari kita terus berikhtiar untuk mengatasi berbagai rintangan itu dengan penuh keteguhan iman.

Demikian juga, berbagai konflik, perseteruan, kebencian, dendam dan berbagai penyakit hati lainnya tidak akan pernah menggejala, jika kita mampu berdialog dengan diri sendiri. Yakni dialog yang bertumpu pada keimanan bahwa Allah SWT selalu menguji hambaNya untuk meraih kebaikan. Setiap tetes keringat kesusahpayahan dari seorang hamba merupakan butir-butir permata yang akan dituai di suatu masa yang telah dijanjikan.

Jika kita mampu meresapi dan menyediakan ruang kesadaran tentang hakekat pentingnya sabar ke dalam relung hati kita yang paling dalam, maka berbagai persoalan di negeri kita tercinta akan dapat ditekan dan diminimalisir. Berbagai program pemerintah, seperti program perlindungan perempuan dan anak, perlindungan kepada kaum lansia misalnya, partisipasi masyarakat sangat diharapkan, minimal setiap orang tua mampu menunjukkan kesabarannya untuk menumpahkan kasih sayangnya, sabar menghadapi tingkah laku anak yang terkadang rewel, sabar dalam membina dan membimbing anak yang beranjak remaja dan dewasa, meneguhkan kesabaran untuk merawat dan memperhatikan orang tua kita yang sudah lanjut usia, sabar dalam merangkai ikhtiar mendepak rintangan dalam bekerja atau membangun usaha guna memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga. Semua itu akan terpateri, jika kita memiliki kadar keimanan yang tinggi.

Khaliel Anwar dalam bukunya, Lelah berbuah Falah, meraih kesusksesan dengan energi sabar (2019) mengatakan, gagal yang sebenar-benarnya gagal adalah pribadi yang gagal menyikapi kenyataan gagal yang dihadapi dengan respon yang positif. Bagi orang yang beriman, kegagalan bahkan bisa menjadi acuan untuk meraih sukses. Dengan kata lain, kata gagal tak dikenal dalam kamus orang yang beriman. Orang yang tidak sabar dalam menghadapi tantangan hidup adalah mereka yang imannya rapuh. Bagi orang yang beriman kata Khaliel Anwar, semua kenyataan entah sukses atau gagal selalu terlihat menakjubkan karena sikap sabar yang ia hadirkan ketika mendapatkan masalah dan bersyukur ketika mendapatkan nikmat. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhamad SAW : “Memang sangat menakjubkan keadaan orang yang beriman. Segala urusan sangat baik baginya. Hal itu tidak akan terjadi kecuali apabila seseorang beriman mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, suatu hal yang sangat baik baginya. Dan apabila tertimpa kesusahan, dia bersabar, suatu hal yang juga sangat baik baginya”. (HR Muslim). Semoga dengan kebesaran jiwa dan kelapangan hati, kita menjadi insan dan pribadi yang tangguh. Karena sesungguhnya, sabar itu indah. (***)

 

*) Penulis Salah Satu Bunda Baca Kabupaten Gorontalo.

Facebook Comments