Home Literasi Opini: Masyarakat Petani Ditengah Anjloknya Harga Komoditas Cengkeh

Opini: Masyarakat Petani Ditengah Anjloknya Harga Komoditas Cengkeh

0

Opini: Masyarakat Petani ditengah Anjloknya Harga Komoditas Cengkeh

Oleh: Edi Maahudin
Staf Kebijakan Publik Makassar

MataKita.co, Opini – Berdasarkan data dari _Food and angri culture Orgazation_ (FAO). terbesar di dunia jauh meninggalkan negara-negara lainnya. _Food and angri culture Orgazation_ (FAO) mencatat bahwa Indonesia pada tahun 2016 mampu menghasilkan 139.522 ton cengkeh yang dimana dengan jumlah produksi tersebut menjadikan Indonesia sebagai produsen cengkeh nomor satu di dunia.

Pada tahun 2016 dengan hasil produksi komoditi cengkeh terbanyak di dunia namun harga cengkeh masih terbilang tinggi karena masih berkisar diharga 115.000 – 120.000.

Sedangkan pada tahun 2019 hasil produksi komoditi cengkeh mencapai 124.000 ton. (detik.com).

Adapun kebutuhan cengkeh untuk pabrik rokok setahun adalah 11.532 ton dimana sisanya digunakan untuk obat-obatan, kebutuhan Farmasi dan bumbu -bumbuan sehingga sisi industri produksi dalam negeri sudah mampu memenuhi kebutuhan sektok pengolahan industri,
Namun lain halnya dengan kondisi sekarang yang dimana para petani resah dan gelisah diakibatkan oleh anjloknya harga komoditi cengkeh pada tahun ini.

Berdasarkan hasil survei petani di kabupaten Pulau Taliabu dan CV. Fukie Abadi gudang cengkeh mengatakan bahwa pada tahun ini harga cengkeh untuk yang kering berkisar 60.000 – 75.000 itu untuk skala nasional dikalangan petani sedangkan untuk diluar Jawa berkisar 60.000 – 62.000, dan ditambah lagi hasil produksi cengkeh tahun ini tdk begitu signifikan dari tahun-tahun sebelumnya.

Kondisi ini jelas sangat merugikan sebagian besar masyarakat petani cengkeh. Dengan harga yang terbilay cukup rendah, banyak petani cengkeh urung menjual langsung cengkeh yang dikeringkan.
Rendahnya harga komoditi cengkeh ini karenakan beberapa faktor.

Persaingan antara pengusaha yang satu dengan yang lainnya yg dimana hal ini berkaitan dengan keluarnya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.75/M-DAG/PER/9/2015 tentang Pencabutan Atas Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 528/MPP/KEP/7/2002 Tentang Ketentuan Impor Cengkeh yang menjadi bagian dari paket deregulasi dan debirokratisasi yang diluncurkan oleh pemerintah (AgroIndonesia, 2016).

Dengan dikeluarkannya Permendag No. 75 Tahun 2015, praktis impor cengkeh dapat dilakukan secara bebas, namun demikian regulasi tersebut hingga saat ini masih mengundang pro dan kontra (AgroIndonesia, 2016). Bagi petani cengkeh, pembebasan impor akan menekan harga dan pendapatan di tingkat petani.

Terkait dengan hal ini kami meminta kepada pemerintah, terutama kepada kementerian perindustrian dan perdagangan, untuk mencarikan solusi terkait Anjloknya hasil komoditi cengkeh yang dimana dengan Anjloknya komoditi cengkeh ini, taraf ekonomi masyarakat petani menurun.

Facebook Comments