Home Mimbar Ide Gnostisisme dan Politik Ali-Syariati

Gnostisisme dan Politik Ali-Syariati

0
ADVERTISEMENT

Oleh : Gunawan Hatmin*

Hendak, lilitan imaji sempat membara dengan sosok tercerahkan itu. Seketika saya pun bertanya tak henti-henti pada diri saya, dari mana harus kulalui dan apa yang semestinya ku lakukan? Perkakas pikir tersebut selalu mengintai setiap jejak langkaku. Tetiba saja, rak buku yang dihuni dengan beragam puluhan buku Ali-Syariati, mencoba memantik semangat baru dalam gerak saya untuk bergulat dengan berbagai macam warna-warni kehidupan. Apatah lagi, Dinding besar dalam kamar saya, tertempel wajah sang Revolusioner sejati yang menjadikan sekawan dalam aktivitas keseharian dalam kamar.

Acap kali, nama syariati sering digaungkan dalam dunia pemikiran. Sebab, kontribusi dan jejak karirnya dalam kehidupan sangat berefek pada kehidupan sehari hari. Dalam jejak sejarahnya, Ali-syariati sangat memberikan kontribusi aktif melalui mimbar ceramah dan bangku kuliah pada kalangan pemuda. Pikiran-pikiran dalam ceramahnya telah membuat para pemuda dan mahasiswa iran tergugah semangatnya untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Advertisemen

Ali-Syariati lahir dalam keluarga terhormat. Dalam keluarga Ali-Syariati ritual dan ritus keagamaan ditunaikan dengan seksama. Ali-Syatiati lahir pada 24 November 1993, bertepatan dengan periode ketika ayahnya menyelesaikan study keagamaan dasarnya dan mulai mengajar di sebuah sekolah dasar syerafat. Dalam diri Ali-Syariati, semangat dalam belajar sangat kuat. Pada masa kanak-kanak, ketika teman-teman asyik bermain dan menyibukkan diri mereka pada hal-hal yang tidak berniali, syariati malah asyik membaca buku-buku baik filsafat, sastra dan keagamaan di rumahnya.

Sejak pertamanya disekolah menengah atas, ia asyik menyibukan dirinya untuk memperkosa buku-buku di perpustakaan milik ayahnya. Dicatat bahwa dalam perpustakaan ayahnya memiliki 2.000 buku yang terselip di rak-rak perpustakaan sehingga membuat dirinya jarang meluangkan waktunya bersama teman-teman segawangnya. Tak hanya itu, Ali-syariati juga  salah satu tokoh dalam kalangan pemuda yang membantu perjuangan Imam Khomeini dalam menumbangkan rezim westernisasi yang dipatroni oleh Syah Reza Pahlevi. Kelaziman dalam merespon kehidupan di iran, membuat kepekaan syariati dalam melihat tatanan kehidupan pada masa itu. Bagi ali-Syariati menegakan kebenaran dan keadilan merupakan seruan dalam agama islam. Sebab, dalam jiwa setiap insan asma-asma Tuhan sebagai koridor dalam meleburkan diri pada realitas kehidupan.

Pada diri Ali-Syariati, memang kepribadiannya lebih mencolok ke ahli sosiologi dan sejarah. Bahkan dalam karya-karyanya ia telah menuliskan beberapa buku mengenai sejarah. Seperti; sejarah agama-agama, sejarah peradaban dan sejarah islam. Akan tetapi, tidak hanya itu, keterlibatanya dengan karya-karya dalam sosiologi pun selalu dituangkan. Ali-Syariati sempat menuliskan tentang Renaisance dan akar-akar sosial ekonomi yang murni lahir dari hubungan humanismenya dengan masyarakat islam iran.

Sepak terjang Ali-Syariati, pada saat tumbangnya Rezim dictator yang di kepalai oleh Syah Reza pahlevi yang telah lama menjadi musuh bagi bangsa iran. Keberpihakan ia pada kalangan pemuda dan masyarakat Islam Iran, membawa ia pada suatu pengembara dalam membebaskan bencana kebodohan, ketertindasan, keterasingan dan eksploitasi pada masa itu. Moderisasi dan sentralisasi kekuasan yang dilakukan dengan polarisasi penerapan ala militer yang sangat brutal terhadap mereka yang menantang, menjadi ciri khas atas rezim syah reza pahlevi. Dalam pikirannya, haluan ekonomi, institusi dan pencapaiaanya yang menganut rezim westernisasi, pikirnya dapat memajukan bangsa iran dengan konsep yang sama di negara-negara barat lainnya. Menurutnya, keperpihakan politik pada dirinya adalah hal yang tabuh dalam dirinya. Pasalnya, kiblat dalam mengkontrol bangsa iran tidak hanya berada pada tangannya, akan tetapi ia punya koalisi yang cukup banyak dengan negara-negara barat.

Dalam biografi politik dan intelektual Ali-Syariati, yang ditulis oleh Ali Rahnema diceritakan bahwa, di antara aturan-aturan yang dikenali untuk memoderenkan masyarakat dan aparatur  negara, dua instrument yang sangat khusus yang memiliki implikasi yang sangat serius. Aturan pertama ialah sekumpulan undang-undang yang dirancang untuk memoderenkan system hukum. Hukum sipil dikodifikasi menggunakan system prancis sebagai model dalam polarisasi penerapannya.aturan kedua ialah undang-undang mengenai penyeragaman pakaian yang diratifikasi oleh majles. Dalam sub undang-undang ini, system ini berlaku untuk semua laik-laki  maupun perempuan diharuskan untuk berpakaian dengan trand barat dan memakai topi/kelep yang dikenal dengan topi pahlevi.
Dalam fatiyan Ali-Syariati menemukan sebuah konklusi dalam tatanan kehidupan yang menggabungkan cinta kasih Tuhandengan tindakan social untuk keadilan dan kesetaraan cinta kepada kemanusiaaan. Hal ini adalah murni lahir dari cerminan dalam melihat kehidupan yang terjadi di bangsa iran. Dalam tingkat yang lebih personal, dia mengidentifikasikan dengan perilaku yang bisa di contohkan dari anggota tatanan ini, yang menyambut kepedihan dan menerima ketidaknyamanan diri untuk menghilangkan kesulitan orang lain. Sehingga tidak heran, Ali-Syariati sendiri sempat mengadopsikan suatu gerakan yang bernama Serbedaran sebagai pola dasar dalam perjuanagan  social politik yang berakar dalam tradisi futuwwat.
Disatu sisi, kedalam disiplin ilmu Ali-Syariati dan corak berpikirnya sangat radikal. Radikal dalam artian, ia memiliki kedalaman dalam menyelesaikan suatu problem dan menyediakan berbagai macam keragaman sulusi dalam tatanan kehidupan pada saat itu, sehingga ketararahan dalam geraknya menciptakan sebuah gerakan yang progresif dan massif. Ketahuilah, menjadi radikal dalam konteks dunia pemikiran merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan pradikat thinker atau pemikir.

Syariati bukanlah sosok pribadi yang ketika menyelesaikan suatu problem wabil khusus, bangsanya sendiri tanpa melakukan sebuah perenungan transenden, dalam cacatan bukunya (kavir) seringkali diceritakan mengenai pengalaman dalam perjalanan spritualnya. Hal ini bisa dilihat ketika dia memutuskan untuk keluar dari sebuah organisasi pergerakan dan memilih lebih banyak untuk merenung dan menyelesaikan pergulatan hidupnya dengan melakukan sebuah perjalanan spiritual. Sehingga tidak salah ketika ada sebuah pengakuan yang di ungkapkan oleh kerabatnya yang bernama Farsi bahwa syariati ketika keluar dari organisasi, teman-teman politiknya menuduhnya menjadi seorang sufi dan meninggalkan dinamika perjuangan politik yang dia hadapi.

Keterlibatan Ali-Syariati yang intens dalam gnostisisme didorong oleh tiga factor yang mungki akan saling berhubungan. Pertama ialah keterkejutan secara kultural ketika melihat arus aktivitas politik. Kedua ialah kekecewaan dia dengan kondisi social dan lingkungan. Ketiga ialah kelelahan akan peleburan dalan aktivitas politik. Adanya haln ini, bisa kita Tarik benang merahnya, Ali-Syariati mensyaratkan adanya ketertutupan, keterasingan, keterlepasan dari masyarakat, ketidaksukaan terhadap keduniawian dan ketitaktertarikan terhadap apapun kecuali Dia.

Pada tahun 1965 dia diperhadapkan dengan dilema ontologis. Terperangkap pada situasi diantara kewajiban moral dan sosialnya dan kepuasan personal karena menjadi gnostik. Dalam bukunya dituliskan bahwa: saya ingin duduk disebuah sudut melihat sekeping langit Tuhan  sampai mengambil kehidupan saya. Dalam analisisnya terhadap peran sufisme dalam  sejarah Islam, Ali-Syariati mengidentifikasikan dua dimensi yang kontradiktif, pertama dikarakterkan dengan anti keduniawian dan pencapaiaan kedamaian batin. Ali-Syariati menyatakan bahwa kerangka sufi seperti ini tidak diharapkan kerena adanya apatisme social dan politik yang ditimbulkan.

*) Penulis adalah mahasiswa UIN Alauddin Makassar

Facebook Comments
ADVERTISEMENT