Home Mimbar Ide Curahan Hati Kepada Tuhan : Refleksi Alam Semesta

Curahan Hati Kepada Tuhan : Refleksi Alam Semesta

0
Advertisement

Oleh : Fatimah Ar rahma*

MataKita.Co, Opini –Tulisan ini saya buat sambil duduk di ruang tamu dan bertanya-tanya bagaimana rasanya menjadi Tuhan yang tahu semuanya. Ini dan itu. Kadang semuanya terasa benar. Namun juga tidak jarang terasa aneh dan tidak masuk akal. Akhirnya saya berinisiatif untuk menumpahkan segala pertanyaan yang hampir saja meledakkan kepala saya itu ke dalam tulisan sederhana ini.

Saya letakkan laptop di pangkuan lalu kembali mengulang pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Tuhan, bagaimana rasanya menjadi yang paling tahu? Yang Maha Mengetahui?

Begini. Katanya semesta kita bermula dari ledakan besar. Gara-gara ledakan itu, lahirlah bintang, planet, asteroid, satelit, bahkan waktu. 12 miliar tahun kemudian, makhluk hidup pertama muncul di planet kita. Kecanggihan evolusi membawa planet kita pada keragaman flora dan fauna. Lalu beberapa tahun kemudian kita sudah bisa membuat ledakan sendiri. Datang ke gereja, masjid, terminal, kantor polisi, atau hotel kemudian membuat ledakan kecil di sana. Ledakan itu melahirkan tangisan, ketakutan, dan kebencian.

Ya kalau ledakan besar yang menciptakan semesta mampu melahirkan kehidupan dan cinta, maka anaknya, Si ledakan-ledakan kecil (yang dibuat oleh kita sebagai anak-anak evolusi) mampu melahirkan ketakutan dan kebencian.

Ledakan kecil ini bisa jadi bukanlah sesuatu yang spesial seperti ide beberapa fisikawan tentang keberadaan semesta lain. Neil deGrasse Tyson, dalam serial dokumenter Spacetime Odyssey, bahkan menyebutkan bahwa beberapa ilmuwan menduga semesta kita hanyalah satu gelembung semesta di antara lautan gelembung semesta lainnya. Multiverse.

Ada sebuah teori di kalangan ilmuwan yang disebut String theory. Teori ini digadang-gadang sebagai teori yang akan menyatukan semua teori yang ada tentang alam semesta. Namun keberadaannya mendorong lahirnya teori yang lain, yaitu dimensi tambahan (extra dimension).

Selama ini kita tahu bahwa semesta terdiri dari tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu. Keberadaan string theory mendorong adanya teori dimensi tambahan, sepuluh dimensi ruang dan satu dimensi waktu. Tidak ada yang tahu bagaimana bentuk dimensi tambahan itu. Ilmuwan telah membuat berbagai kandidat bentuk  yang bisa jadi merupakan bentuk dari dimensi tambahan itu. Jumlahnya miliaran dan akan terus bertambah.

Seorang fisikawan teoritik asal Amerika Serikat, membuat dugaannya. Bisa jadi kandidat-kandidat bentuk dimensi tambahan itu masing-masing berlaku pada semesta yang lain. Adapun JIKA ini benar, maka multiverse benar adanya.

Tapi, siapa yang tahu?

Alih-alih memusingkan perdebatan para ilmuwan, pikiran saya pun mulai beranjak ke bilik sebelah. Saat di mana 66 juta tahun yang lalu, asteroid menghantam bumi dan memusnahkan dinosaurus beserta banyak flora dan fauna lainnya. Jadilah kepunahan massal. Kalau kalian bertanya-tanya ke mana perginya hewan-hewan besar yang dahulu menguasai planet kita, mereka dimusnahkan oleh kehendak alam. Sekarang kita hanya bisa menikmatinya melalui buku, layar komputer, atau museum.

Itu adalah versi baik dari kisah ini.

Versi lainnya adalah versi yang cukup mengerikan. Nenek moyang kita, setelah menciptakan bahasa dan mampu bekerja sama dalam kapasitas besar, memusnahkan dinosaurus beserta banyak flora dan fauna, bahkan jenis manusia (homo) lainnya. Menyisakan kita sebagai satu-satunya jenis homo yang ada saat ini. Versi ini membuat saya bertanya-tanya, mungkinkah kedamaian hanya akan tercapai jika tersisa satu manusia di planet ini? Meskipun sebenarnya pemusnahan massal oleh homo sapiens tetaplah bagian dari kehendak alam. Kalau kata Harari (2014), “dalam perspektif biologis, tidak ada yang tidak alami. Apapun hal yang mungkin terjadi, berarti adalah alami.”

Yah, entah mana yang benar.

Sekali lagi, saya menyerah menuntaskan cerita ini. Namun terakhir, izinkan saya kembali menuangkan kebingungan yang saya rasakan.

Begini. Pada tahun 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Kota Hiroshima dan Nagasaki. Berkat itu, negara kita berhasil melepaskan diri dari jeratan penjajahan Jepang, memaksa memerdekakan diri. Setelah itu, dari buku sejarah yang saya baca sewaktu sekolah, berbagai upaya dilakukan untuk mempertahankan kemerdekaan negara kita. Melawan penjajah yang ingin kembali menguasai negara kita, menumpas pemberontak yang ingin memecah persatuan negara kita, dan mengambil kembali milik negara kita yang diklaim oleh negara lain. Heroik sekali kisahnya. Ya, meski dalam prosesnya banyak sekali nyawa-nyawa tak bersalah yang ditumpas.

Lagipula begini, kata Karl Marx, “Sejarah masyarakat adalah sejarah pertarungan kelas.” Sejarah yang kita baca di buku-buku adalah hasil antara yang menguasai dan dikuasai. Yang menang dan yang kalah. Sejarah pun tak luput dari kepentingan-kepentingan. Dari dominasi-dominasi. Ya mungkin sejarah adalah produk para pemenang.

Dan saya akui, mungkin kurang menarik mendengarkan kisah dari yang kalah.

Tapi, kira-kira bagaimana kisah yang akan ditulis oleh Partai Komunis Indonesia? Atau Nazi? Atau homo denisovan? Atau penyembah ubur-ubur?

Jadi, siapa yang tahu?

 

*) Penulis adalah Mahasiswi Fisika Universitas Gadjah Mada dan peserta kelas menulis Kampus Gagasan

Facebook Comments
ADVERTISEMENT