Home Hukum Kebenaran : Milik Masyarakat atau Negara?

Kebenaran : Milik Masyarakat atau Negara?

0
Safrin Salam
Advertisement

(Sebuah Perspektif Kebenaran Oleh Prof. Dr. H. Aminuddin Salle, S.H., M.H. )

Oleh : Safrin Salam*

Pengantar Kebenaran

Pada hari selasa tanggal 1 Juni 2021 rakyat Indonesia memperingati hari Lahir Pancasila. Peringatan hari lahir pancasila oleh masyarakat Indonesia adalah sebuah refleksi atas hadirnya pancasila sebagai pedoman hidup dalam tata pergaulan berbangsa dan bernegara. Pedoman hidup ini dimaknai sebagai sebuah hukum tertinggi masyakarat Indonesia dalam mengatur hubungan antara Negara dan masyarakat, masyarakat dan masyarakat. Tujuannya adalah untuk menciptakan kehidupan yang damai, harmonis, bahagia dan sejahtera. Hadirnya pancasila sebagai pedoman hidup masyarakat Indonesia adalah sebuah kebenaran yang tidak dapat diabaikan apalagi dikesampingkan. Kehadirannya menjadi sebuah keniscayaan bahwa Negara Indonesia memiliki sumber hukum tertinggi yang menjadi pegangan hidup bagi Negara dan masyarakat untuk mendapatkan porsi hak dan kewajibannya yang adil dalam tata pergaulan berbangsa dan bernegara.

Makna Kebenaran

Kebenaran memiliki banyak makna. Salah satu perspektif kebenaran yang mutakhir untuk ditelaah adalah kebenaran menurut perspektif Prof. Dr. H. Aminuddin Salle, S.H., M.H. Seorang Guru besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Alasan kemutakhiran makna kebenaran yang disampaikan beliau tentang makna kebenaran olehkarena memiliki relevansi dengan kondisi empirik masyarakat marginal (masyarakat adat,petani, buruh, masyarakat miskin, dll) yang sulit memperoleh kebenaran dan keadilan. Menurut Aminuddin Salle kebenaran dalam perspektif bugis-makassar adalah Tojeng. Tojeng adalah Yang Benar. Secara lengkapnya, beliau terjemahkan kebenaran itu Bagaikan Bambu yang Terapung atau yang dalam pepatah Makassar disebut Tojengnga Antu Kontui Bulo Ammawang (Aminuddin Salle, 2021). Beliau melukiskan kebenaran tersebut bahwasanya Kebenaran kalau diinjak pokok akan muncul pucuknya. Kalau diinjak pucuknya akan muncul pokoknya, kalau diinjak tengah-tengahnya maka orang yang menginjak itu akan terpelanting.

Pepatah Makassar ini memiliki makna konsmologi yang mendalam tentang pemikiran yang optimis, yakin dan semangat tinggi tentang eksistensi kebenaran. Menurut Aminuddin Salle  bahwa setiap orang jangan ragu-ragu, apalagi pesimis untuk menghendaki kebenaran. Bagaimana pun kondisinya, kebenaran akan tetap muncul seperti bambu lurus yang muncul di permukaan laut.

Perspektif kebenaran ini menunjukkan bahwa pada dasarnya kebenaran itu ada ditengah-tengah masyarakat. Bahkan jika orang itu memiliki kuat sekalipun namun punya niat buruk untuk menghilangkan apalagi mau mengubah kebenaran itu maka kebenaran itu akan tetap muncul bahkan membuat orang itu akan jatuh dan hancur karena kebenaran.

Kebenaran Alamiah Vs Kebenaran Buatan

Keberadaan kebenaran di masyarakat masih sering dijumpai. Namun bentuk kebenaran itu sudah dalam bentuk dua kategori yakni kebenaran alamiah dan kebenaran buatan. Kebenaran alamiah adalah sesuatu yang benar sesuai bentuknya. Sedangkan kebenaran buatan adalah sesuatu yang benar dibentuk berdasarkan keinginan (kepentingan tertentu) orang per orang atau pun badan hukum. Pengkategorian kebenaran ini bersumber dari benturan kepentingan hak-hak mendasar masyarakat marginal dengan kepentingan Negara. Contoh : Nenek minah yang berumur 80 tahun diputus bersalah karena mengambil beberapa ranting kayu untuk makan sehari-hari, masyarakat adat kinipan yang dirampas hutan adat oleh Negara melalui penerbitan izin HPH kepada perusahaan kelapa sawit, beberapa masyarakat adat yang mendapatkan kriminalisasi yang akhirnya dijebloskan penjara namun dilepas karena tidak cukup bukti, juga kriminalisasi perkara pidana dalam bentuk salah tangkap yang akhirnya melelaui putusan pengadilan seseorang yang dijadikan tersangka diputus bebas (putusan bebas), dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Kasus-kasus ini mempertontonkan benturan antara dua kebenaran menurut masyarakat dan kebenaran menurut Negara. Tentu keadaan ini sangat miris olehkarena Negara dan masyarakat saling berhadapan, saling beradu dalam memperebutkan kebenaran itu sendiri. Tentu saja hal ini sangat bertentangan degnan rasa keadilan dan kemanusiaan masyarakat yang mana Negara harusnya menjadi sandaran keadilan bagi masyarakat namun harus saling berhadapan pada posisi saling melawan. Pada sisi yang lain lahirnya kasus-kasus ini muncul ke publik melalui media adalah buah dari wujud kebenaran yang diperjuangkan oleh masyarakat marginal untuk memperoleh keadilan. Kasus-kasus yang seharusnya menjadi urusan pribadi menjadi urusan banyak orang olehakarena kebenaran menunjukkan wujudnya dengan mengetuk hati para masyarakat Indonesia sehingga kasus-kasus tersebut mengundang perhatian, dukungan dari hati nurani masyarakat Indonesia. Inilah salah satu contoh yang disebut dengan Tojengnga Antu Kontui Bulo Ammawan.

Siapa Pemilik Kebenaran?

Lahirnya kebenaran buatan dan kebenaran alamiah dari kasus-kasus tersebut semakin mengaburkan makna kebenaran tersebut. Siapakah pemilik kebenaran itu ? Masyarakat Atau Negara ?. Makna Tojengnga Antu Kontui Bulo Ammawan secara filosofis menunjukan bahwasanya kebenaran itu ada dengan sendirinya, Aminuddin Salle mengatakan siapa yang menginjak pokok maupun pucuknya, ini menunjukan sebenarnya kebenaran itu tidak boleh diusik, diganggu, apalagi diubah. Karena hakekatnya kebenaran adalah Bulo Ammawan (bamboo lurus di permukaan) yang bermakna kebenaran itu adalah yang benar. Bukan yang benar karena diusik, diganggu apalagi diubah sehingga menjadi kebenaran buatan untuk berpihak kepada golongan tertentu. Olehkarena itu, kebenaran adalah yang benar. Yang benar adalah Pancasila. Pancasila adalah kita yakni masyarakat Indonesia. Selamat hari lahir pancasila indonesiaku.

*) Penulis adalah Dosen Hukum Adat Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Buton

Facebook Comments
ADVERTISEMENT