Beranda Ekologi Onesimus, Bersahabat dengan Dugong

Onesimus, Bersahabat dengan Dugong

0

Onesimus, Bersahabat dengan Dugong

Oleh : Idham Malik*

Saya bertemu dengan Onesimus La’a (60) pada November 2019, saat itu ia mengawal kami untuk melihat “Mawar”, seekor dugong jantan dewasa yang senang bermain dengan nelayan dan tamu-tamu yang menyambanginya. Onesimus, yang biasa disapa Pak One’ terlihat serius merapal mantra, sambil mengkecipak-cipak air di permukaan perairan antara Kabola dan Pulau Sika, Kab. Alor. Cukup lama kami menunggu saat itu, hingga akhirnya Mawar datang, menempel-nempel di cadik perahu. Menyelam dan kemudian menyemburkan angin melalui hidungnya yang buka tutup. Tentu, kami sangat senang waktu itu.

Kemudian, di 2023 ini, saya bertemu berkali-kali lagi dengannya, yang membuat kami menjadi lebih akrab. Dimulai pada Selasa, 31 Januari 2023 lalu, Ahimsa dan Ashim kami ajak untuk melihat salah satu keajaiban Alor, tentu saja melihat Mawar. Kami pun mengontak Pak One, sang pawang dugong untuk bertemu di Pantai Mali pada pukul 07.00 wita, tapi kami tiba melewati jadwal yang disepakati, membuat saya agak kurang nyaman, karena sepengetahuanku, Pak One’ orang yang disiplin dan bicara blak-blakan. Untung saja, pagi itu, ia tak banyak mengeluarkan komentar. Kami datang, langsung naik ke perahu, ia menjadi kapten yang duduk di haluan, sembari memantau di kejauhan. Pada kali kedua ini, Pak One terlihat tenang, duduk bersila, dan sinar di wajahnya seperti menunjukkan sudah mengenal betul perairan ini.

Saat Mawar datang, Ahimsa berteriak “wawww ada dugeng”, ia terlihat takut, sebab Mawar berukuran sangat besar, jika dibandingkan dengan ikan-ikan yang selama ini kami lihat. Panjangnya lebih dari seperdua panjang perahu. Kami sangat senang waktu itu, melihat mamalia laut ini memancarkan kebahagiaan, berenang, bermain-main di sisi kanan dan kiri, depan dan belakang, muncul tiba-tiba di samping, membuat anak-anak teriak gembira.

Pada Kamis-Jumat, 9-10 Maret 2023, Pak One salah satu lampu yang menyala terang pada acara pembahasan kurikulum Centre of Excellence (CoE) Universitas Tribuana Kalabahi yang bermitra dengan Yayasan WWF Indonesia. Posisi duduk saya bersebelahan dengannya, jadilah kami mencuri-curi waktu untuk ngobrol, tentu juga dengan tetap menyimak fasilitator acara. Ini kesempatan emas bagi saya untuk mengenalnya lebih dekat.

“Tahu contoh ilmu alamiah?” tanyanya. Saya jawab saja waktu itu, tidak tahu. Ia pun melanjutkan, “Bagaimana bisa ada hewan laut yang begitu dekat dengan manusia?” Di situ saya terketuk. Menurutnya, ilmu sekolahan yang disebutnya ilmu academia itu tak akan sanggup mencapai ilmu alamiah. Alamiah menjadikan manusia dan alam berada dalam satu spektrum, saling mengerti. Para ahli biasa membilangkannya sebagai ilmu holistik/paradigma holistik.

Pak One, dalam kesadaran penuhnya untuk menyatu dengan alam, telah diasuh untuk mengenali lebih jauh lagi tingkah laku Mawar, bagaimana cara ia makan, lamun jenis apa yang disukai oleh dugong ini, hingga pada bagian mana di lamun itu, yang dimamah biak oleh Mawar. Ia pun menjadi tak bosan-bosan untuk bertemu, memantau, meneliti, dengan hanya mencatat jawaban-jawaban itu dalam otaknya. Ia tak terbiasa menuliskan keterbukaan alam itu dalam kertas atau media laptop. Ia menuliskannya langsung dalam ingatan, dan ditularkannya ketika ada orang yang bertanya, atau ada forum-forum yang mana ia diajak berpartisipasi.

Pada forum itu, ia sering menegur sembari berkelakar, tentang pentingnya pemateri dan fasilitator menggunakan bahasa yang sederhana. Saya sendiri, sewaktu sesi Focus Group Discussion (FGD), berkali-kali ditegurnya, saat pembahasan kategori kurikulum dan mata ajar, sebab seringnya ada istilah-istilah sulit dalam dokumen itu. Saya terpaksa menerjemahkan istilah-istilah asing itu ke bahasa sederhana. Jadilah forum dua hari itu menjadi forum rakyat, fasilitator dan pemateri mencoba menerjemahkan istilah-istilah asing ke Bahasa yang dapat dipahami peserta, yang umumnya memang adalah tokoh-tokoh lokal, yang besar dengan bahasanya masing-masing.

One’ pun sesekali menekankan kalau pembelajaran yang paling utama yaitu seperti apa mentor mengajak anak didik untuk mencintai lingkungan. Saya menangkapnya, kurikulum pembelajaran konservasi ini memang harus dimulai dengan pendidikan manusia untuk mencintai lingkungan. Tidak sekadar berbagi informasi mengenai hukum alam, objek-objek alam, tapi lebih pada seperti apa sikap kita dan kepedulian kita pada lingkungan?

Ini terdengar gampang, tapi sebenarnya sulit. Kepedulian itu semestinya dibentuk sejak manusia masih kanak-kanak. Ini belum lama saya tercerahkan setelah membaca salah satu buku Romo Mangunwijaya tentang “Menumbuhkan Sikap Religius Anak-Anak”. Di dalam diri anak-anak bermarkas jiwa agung yang senantiasa menanyakan apa saja yang dilihat dan dirasakannya. Saat-saat itulah kita memberikan rangsangan untuk bertanya, dan memberi jawaban yang membekas, tentang seperti apa seharusnya kita bersikap terhadap alam/lingkungan. Seperti apa perlakuan kita terhadap hewan, terhadap tumbuhan, seperti apa kekaguman kita pada lautan, gunung dan hutan. Anak-anak pun dapat merasakan getaran energi positif dari orang dewasa mengenai kekaguman orang dewasa terhadap kemegahan alam semesta, serta perlunya alam dijaga dan dilestarikan.

Pun, jika kurikulum ini diperuntukkan untuk orang dewasa, saya pikir sama halnya, seorang mentor/aktivis lingkungan harus betul-betul menunjukkan keteladanan dalam berinteraksi dengan alam, memberi contoh apa yang harus dilakukan, memberi inspirasi, bahwa dengan tindakan-tindakan kecil, sudah bisa menyelematkan kehidupan-kehidupan kecil di alam. Pun, sikap positif itu akan menular jika disampaikan dengan limpahan perasaan dan kasih sayang, dengan kejujuran dan ketulusan.

Pada pertemuan-pertemuan berikutnya, saya menanyakan lebih jauh lagi kiprahnya dalam dunia konservasi. “Saya mengenal konservasi pada tahun 1998, saat itu saya dengan istri tersentuh untuk melakukan aktivitas penanaman mangrove”. Kemudian, pada 2000, ia berkenalan dengan Ayi Ardisastra, pimpinan WWF-ID cabang NTT atau Lesser Sunda Seascape (LSS). Pak One adalah salah satu yang mendorong WWF-ID untuk segera mengurus konservasi Alor. Pada tahun-tahun itu pula One mulai bersahabat dengan Mawar. Tiba-tiba suatu waktu ia bolak balik mengurus mangrove, si Mawar mengikutinya. Dari situlah ia menjalin hubungan antar species dengan Mawar.

Saya menanyakan ke Pak One, kenapa namanya Mawar? One menjawab kalau itu timbul secara tiba-tiba saja, atau ia istilahkan alamiah saja. Mungkin saat itu, One’ membayangkan atau menghasratkan dugong ini berkelamin betina. Baru pada tahun-tahun berikutnya, ia memeriksa kelamin Mawar, ternyata dugong satu-satunya yang berinteraksi dengan manusia ini berkelamin jantan. Meski begitu, nama Mawar sudah demikian melekat, jadilah orang-orang kadang-kadang memplesetkan menjadi ‘Mawardi’.

Tahun 2010, adalah tahun-tahun intensif One’ terlibat dalam jejaring komunikasi dengan komunitas masyarakat untuk mendorongkan konservasi laut Alor. Pada 2014, ia mewakili masyarakat Kabola Bersama 17 komunitas masyarakat kawasan perairan pesisir ikut dalam penggodokan advokasi pembentukan Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Alor-Pantar, yang saat itu terdapat marathon konsultasi publik hingga Kawasan konservasi terbentuk pada 2015. Menurutnya, yang membentuk KKPD tentulah adalah masyarakat, karena itu masyarakat harus terus dilibatkan dalam pengelolaan Kawasan konservasi laut.

Beberapa tahun belakangan, sejak 2018, ia serius memimpin Forum Komunikasi Nelayan Kabola (FKNK). Dalam posisinya itu, Bapak One’ dengan nelayan-nelayan Kabola bekerjasama dalam pengaturan tamu-tamu yang berminat mengunjungi Dugong-Mawar, sehingga nelayan-nelayan lokal mendapatkan pembagian atau distribusi yang baik berasal dari tamu-tamu lokal maupun internasional. Pemilik-pemilik perahu pun begitu bersyukur dengan keberadaan Mawar, yang karena satu hewan mamalia laut ini mereka dapat memperoleh penghidupan yang berkelanjutan.

Saya bertanya lagi, kenapa Mawar setia berada di perairan Pulau Sika-Kabola, tidak pergi dari situ? Pak One’ menjawab, sebenarnya Mawar menyadari jika ia pergi dari perairan tersebut, maka nyawanya bisa terancam. Ia sudah merasa nyaman dengan lamun-lamun perairan Pulau Sika, serta nelayan-nelayan yang selalu mencarinya. Sepertinya terbentuk suasana batin dan ketergantungan yang sama antara Mawar dengan Pak One, serta Mawar dengan nelayan-nelayan FKNK. Tentu, barangkali, Mawar menyenangi setiap orang yang mendatanginya, yang terus menerus menyapanya… Mawaaar, Mawaar….

Kemarin, 18 Maret 2023, Pak One’ mendampingi peserta pelatihan CoE untuk kunjungan wisata Dugong dan Pulau Sika. One’ bersama nelayan-nelayan mitra terlihat sibuk bolak-balik mengantar para peserta pelatihan. Saya menikmati betul berwisata di Pulau Sika, pulau ini ditumbuhi begitu banyak pohon Cantigi (Vaccinunium varingiaefolium), sebagian kecil species mangrove sejati, seperti Rhizophora. Saya kira, pepohonan inilah yang menjadi sarang yang nyaman bagi berbagai jenis burung, yang kemungkinan jenis Remetuk Laut, Kipasang Belang, Perenjak juga jenis-jenis lain. Duduk-duduk atau berbaring di beranda rumah singgah di pulau ini memberi efek penyegaran. Belum lagi keberadaan Makam seorang sultan yang juga keturunan dari Sunan Gunung Jati. Tentu saja, keberadaan makam itu menambah nilai sacral dari pulau yang dijaga dan dikelola oleh Pak One dan para mitranya.

“Saya meminta kepada teman-teman semua di sini, untuk memberikan saran kepada saya untuk program-program apa saja yang dapat dibangun di pulau ini. Saya tidak berfikir ini untuk saya, tapi lebih pada untuk anak dan cucu saya kelak,” ujar Pak One.

Sepertinya, landasan berfikir inilah yang mendorongnya untuk terus menerus belajar dari alam. Saya pun tiba-tiba mengingat komentarnya saat pelatihan di Kalabahi, kalau semua yang kita lakukan ini untuk perbaikan alam adalah ibadah. Saya pun duduk di sampingnya, “Pak One, saya ada beberapa daftar burung, nanti kita coba identifikasi burung-burung yang ada di sini bersama ya Pak,” ujar ku. kata Pak One, “Boleh Mas Idam”.

Kami meninggalkan Pulau Sika diiringi lagu rakyat Kabola yang dinyanyikan oleh Mama Martha. Mendengar lagu itu, perasaan terhanyut dan bahkan tenggelam, saya melihat dasar perairan yang terdapat terumbu karang. Beruntunglah hidup saya masih dapat bertemu dengan tokoh-tokoh lingkungan di Pulau Timur Matahari ini.

*) Penulis adalah Aktivis Kader Hijau Muhammadiyah

Facebook Comments