Beranda Literasi Untuk Padang-Padang Hijau dan Para Tungku Api Abadi di Sanubariku

Untuk Padang-Padang Hijau dan Para Tungku Api Abadi di Sanubariku

0

(Sebuah Risalah Eksistensial-Substansial Pendek tentang Makna Perpisahan antara Guru dengan Murid)

Oleh: Muhammad Syarif Hidayatullah*

Hati dan pikiran yang tenang di balik pakaian rapi dan bersih, di dalamnya terbakar. Sebab, masih saja, wajah-wajah itu muncul di pikiran. Remaja laki-laki dan perempuan yang selama ini tiada pernah aku melihatnya menangis, kini mereka menangis. Remaja sekumpulan itu terisak, sambil menggerutu panjang, mengusap-ngusap pipinya yang amat memerah dialiri basah air mata. Di antaranya tidak menangis; hanya matanya sayu, raut wajah selama ini penuh senang juga kelakar menjadi diam bisu.

Sekelompok remaja yang mesti tahu, bahwa ternyata hidup adalah tidak melulu tentang ketepatan kemauan dan keinginannya. Ternyata hidup, dan masa depan mereka ditentukan oleh menejemen pikiran positif dan negatif yang mampu dikontrol. Yang negatif tidak boleh lebih banyak menguasai pikiran dibanding pikiran yang positif.

Positif mesti lebih banyak dimasukkan ke dalam pikiran dan jiwa; jika mereka ingin maju. Seberapa banyak orang hebat yang bisa mengubah mereka menjadi lebih baik, bahkan terbaik. Atau jika beruntung dan kuat tekad, seberapa besar kemampuan orang besar dan hebat memengaruhi hidup mereka, walaupun yang mampu ditemuinya hanya satu atau dua orang saja. Siapa saja yang menurutmu, mengubah cara pandang dan mampu membuatmu terdorong untuk menjadi berubah? Dari hari menuju hari selama ini, di rentetan perjalanan hidupmu siapakah yang sebetulnya mengubah kamu menjadi lebih baik dari hari kemarin?

Siapakah yang menginspirasimu menjadi dirimu yang sekarang sehingga setidaknya engkau terus menjadi tumbuh dan mekar? Meskipun begitu amat banyak orang-orang yang datang ke dalam hidupmu, namun mereka yang mampu mengubahmu mungkin hanya sedikit saja.

Kalian yang menangis atau hanya diam membisu lesu, tiada usah khawatir. Kamu menangis dan yang tak menangis tapi lesu itu jadi tanda. Itu jadi tanda bahwa kamu sudah menemukan dan pernah bertemu orang-orang yang kalian anggap penting di dalam hidupmu. Orang-orang hebat yang mengubah cara pandangmu melihat dunia untuk menjadi pribadi yang lebih baik, melebihi dirimu yang ada di masa kemarin sebelum engkau bertemu orang hebat yang mengubahmu.

Terima kasih Shaquille, Raisha, Auryn, Kyla, Alin, Akram, Christine, Jeje, Narend, Otniel, Jidan, dan Richie. Dan juga seluruh siswa yang nama kalian tidak kusebut, sebab semuanya telah tersebut dan tertulis di dalam hatiku dan doa-doaku.

Orang yang kalian anggap roller coaster itu, yaitu dia yang “Like a roller coaster of feelings we joke laugh we are angry we are sad thanks to the great and wonderful person,” sebetulnya tidak hilang. Ia masih hidup di banyak tempat; di pikiranmu, di syahdu hatimu, di syaraf-syaraf jaringan jutaan sel-sel badanmu. Di ponselmu. Dan orang-orang hebat tersebut masih ada. Jika berkesempatan dan tekadmu kuat, serta ingin lagi bertemu; maka dia masih ada untuk kalian temui, sekarang pun nanti. Jika tidak secara fisik, maka sepanjang hidup kau bisa datangi secara non-fisik menggunakan syahdu doa-doamu.

*) Penulis adalah Pendidik, Direktur Eksekutif Salaja Pustaka Institut

Facebook Comments Box