Beranda Mimbar Ide Merayakan Hari Kemerdekaan dengan Buku

Merayakan Hari Kemerdekaan dengan Buku

0

Oleh : Idham Malik*

Elvi Padafani meramu rasa merdeka dengan membaca buku. Pada 17 Agustus 2023 ini, ia tak repot-repot mengibarkan bendera atau turut baris berbaris di jalan raya, justru ia mengumpulkan anak-anak Desa Welai Barat dan desa tetangga untuk membaca buku di Rumah Belajar Melang. Taman ini ia dirikan bersama lima kawannya pada 18 Agustus 2021, dua tahun yang lalu.

Sekitar 20 puluhan anak-anak Welai Kabupaten Alor dengan serius membolak-balik buku, umumnya berisi cerita-kisah anak-anak. Anak-anak pun dengan merunduk, mengangkat buku dengan kedua lengan, kaki terlipat, kaki selonjoran, membaca buku dalam hati, ada pun dengan mengeraskan suara.

Saya pun duduk-duduk di situ, mendengar anak-anak mengeja bacaan, seperti ada yang teringat, kenangan-kenangan masa kecil di sebuah tempat, seperti di tempat mengaji, di mesjid, sayangnya dulu waktu kita kecil tak ada rumah belajar seperti Melang ini.

Elvi memiliki sebuah tekad untuk membangun anak-anak Welai dengan kebiasaan membaca. Ia sendiri mengaku tak menempuh sekolah dasar, tapi semangat untuk belajar justru tumbuh berkembang. Apalagi sejak ia menjadi kasir sebuah toko di dekat SPBU Kota Kalabahi. Bos tokonya kebetulan pecinta buku, edisi Laskar Pelangi lengkap dikoleksinya, bahkan serial Winnetou, si Indian yang cerdas itu ada pula di perpustakaannya. Si bos ini, yang tak lain adalah Denny Lalitan, anggota DPRD Alor yang membantunya untuk mencintai buku. Ia selalu merekomendasikan ke Elvi buku yang bagus dibaca. Jadi, waktunya tak sia-sia saat bekerja di toko.

Pada 2019 akhir ia juga sempat mengikuti suatu pelatihan anak muda, disebut Active Citizen, di situ ia berkumpul dengan anak-anak muda Alor yang keren-keren abis, seperti Petrus Lukas yang saat ini mengembangkan kerajinan tangan berbahan batok kelapa untuk dijadikan miniature hewan-hewan laut, juga Chelo yang terus menerus mengajak anak-anak muda Alor untuk memungut sampah plastic di laut. Pada momen itu Elvi melontarkan idenya untuk membangun rumah belajar di kampungnya. Momentum idenya ini pun menjadi kehendak saat covid berlanjut hingga 2021, anak-anak tak belajar di sekolah dan sepertinya juga tak belajar di rumah.

“Anak-anak di sini hanya sempat membaca di hari libur, karena hari-hari lainnya mereka biasa membantu bapa dan mamanya di kebun,” kata Elvi. Makanya Elvi membuka rumah belajar Melang secara rutin pada hari minggu. Di hari-hari lain pun anak-anak biasa datang, kalau mereka datang, mereka tetap membukakan pintu.

Selama dua tahun berjalan, kerja sosial-literasi yang menurutnya tak merepotkan ini, bahkan membuatnya riang gembira telah mendorong beberapa orang-orang baik untuk berbagi buku. Salah satunya Bhuana Ilmu Populer (BIP) menyumbangkan sekitar 40 buku bacaan anak. Buku-buku ini juga disenangi oleh Ahimsa, anak buah yang turut datang ke Rumah Belajar Melang. Ia mencoret-coret buku mewarnai, sambil membawakan beberapa buku untuk dibacakan. Namun, koleksi buku ini perlu ditambah, khususnya untuk buku-buku bacaan orang dewasa. Koleksi bacaan untuk remaja dan dewasa masih terbatas, bisa dihitung jari. Sementara Elvi dan rekan-rekannya tampak haus bacaan. Saya pun mencoba untuk menawarkan serial ‘Gerundelan Peristiwa’ untuk turut dikoleksi dan tentu dibaca.

Melihat kegembiraan No Elvhie bersama anak-anak, dengan paket-paket latihan yang dia buat, seperti paket TTS (Teka Teki Silang) kemerdekaan, anak-anak diberi kuis untuk mengisi TTS tersebut. Kemudian, kakak yang lain mengajari adik-adik yang lebih kecil untuk mewarnai dan susun-susun lego, sembari melatih anak-anak beberapa kata Bahasa Inggris, seperti Flag untuk bendera, Independent Day untuk hari kemerdekaan. Semuanya dilakukan sembari bersenang-senang, tak ada beban dalam belajar. Pada sore itu pun setelah kuis, masing-masing anak diberi es krim.

Menghikmat itu, Saya pun mengingat tulisan-tulisan Almarhum Nirwan Ahmad Arsuka, anak-anak, khususnya di pelosok-pelosok negeri, bukannya malas membaca seperti digembar gemborkan para pejabat yang mengatakan rendahnya semangat baca anak-anak Indonesia, tapi justru mereka sangat merindukan suasana dan kegiatan membaca bersama. Itulah api yang membakar Nirwan, sebagai bentuk balas budi dan perjuangan untuk menggiatkan literasi di seluruh pelosok-pelosok Indonesia, melalui gerakan “Pustaka Bergerak”.

Pustaka Bergerak ini mendorong pemerintah untuk memudahkan pengiriman buku-buku ke pelosok-pelosok, daerah-daerah pinggir Indonesia, melalui bebas biaya pengiriman via POS Indonesia setiap tanggal 17 Agustus. Kita berharap, berpulangnya Nirwan tidak menghanguskan ide bebas paket pengiriman buku itu, mengingat sangat perlunya anak-anak pelosok, seperti anak-anak Pulau Alor ini terhadap pasokan buku-buku bagus, yang biasanya cuma beredar di kota-kota besar. Saya pun tak tahu, apakah ada buku yang dikirim ke Alor pada 17 Agustus ini? Jika belum, bagusnya kita turut membantu anak-anak Alor, terlebih di kampung-kampungnya, untuk turut merasakan gairah membaca, kesenangan menambah ilmu.

Semoga semangat Elvi menular dan mendorong para pecinta literasi untuk turut mendukung gerakan literasi Elvi di Welai Barat, sembari Elvi menularkan semangat ini ke para pegiat sosial lain yang ada di setiap desa di Kabupaten Alor.

Terimakasih Kakak Petrus sudah mengajak saya ke surga dunia yang terselip di Welai Barat ini.

*) Penulis adalah Aktivis Kader Hijau Muhamamdiyah

Facebook Comments Box