Beranda Mimbar Ide Puasa Ramadan; Titik Balik Menuju Spritualitas Hijau

Puasa Ramadan; Titik Balik Menuju Spritualitas Hijau

0

Oleh : Syawal Bottae*

Pertengahan Ramadan tahun ini, publik dihebokkan dengan peristiwa korupsi tata niaga komoditas timah PT Timah Tbk. Kasus tersebut menyeret 16 tersangka. Taksiran atas kerugian negara mencapai Rp 271,06 triliun. Guru Besar IPB, Bambang Hero Suharja menyampaikan bahwa nilai tersebut mengacu pada taksiran kerugian kerusakan lingkungan [1].

Kasus di atas hanya secuil dari sekian banyaknya praktik yang menyimpang dalam pengelolaan lingkungan. Beberapa tahun terakhir, kerusakan hutan di Indonesia terus mengalami peningkatan. Tercatat sepanjang tahun 2023, deforestasi terjadi pada sekitar 257.384 hektar hutan. Angka tersebut meningkat dari tahun sebelumnya, di mana deforestasi terjadi 230.760 hektar [2].

Meluasnya laju deforestasi di Indonesia, merupakan ancaman yang serius terhadap kelangsungan hidup. Bagaimana tidak, hutan yang semestinya menjadi penyangga kehidupan justru kerap kali dialihfungsikan sebagai lahan pertanian, kawasan pemukiman, pariwisata, bahkan dijadikan area tambang.

Peristiwa di atas, satu bentuk penegasan bagaimana implikasi dari cara pandang manusia yang menuhankan keuntungan, berkaitan langsung dengan tingkat kerusakan lingkungan. Hasrat akan keuntungan menjadikan manusia tamak dan abai terhadap kepentingan orang lain. Berbagai cara yang tidak patut sekalipun akan ditempuh untuk mencapai itu.

Absennya nilai-nilai agama kian memperparah kerusakan yang terjadi. Pengabaian manusia terhadap dimensi ekologis dalam firman-firman Ilahi menjadikan manusia dan alam berada pada kerangka hubungan yang tidak semestinya. Alam dijadikan objek semata. Manfaat yang mestinya dirasakan secara kolektif, kenyataannya hanya dinikmati segelintir orang. Alhasil, manusia berada dalam bayang-bayang bencana.

***

Ramadan, momen yang tepat dan dapat menjadi titik balik bagi kita untuk menjawab problematika ekologi. Ramadan yang berasal dari Bahasa Arab “ramada” yang berarti “membakar”, “panas”, “menyengat”, atau “kekeringan” dapat memberikan gambaran bahwa ramadan adalah bulan untuk membakar segala ketimpangan sosial termasuk kerusakan yang ada di muka bumi.

Puasa sebagai salah satu instrumen bulan Ramadan, mestinya tidak hanya dibatasi pada pemaknaan teologis-transendental. Puasa mesti menjadi  ruh dan spirit perubahan diri (spirit of self transformation) dan modal perubahan sosial (modal of social transformation). Hal ini diperlukan guna mencapai tujuan syariat islam (Maqashid Syariah) yakni jalan kebaikan, keadilan , kemanusiaan, kerahmatan, serta kemaslahatan. [3]

Oleh karena itu, sekiranya puasa hanya menyoal makan dan minum, maka unta akan lebih mulia ketimbang manusia, karena unta dapat menahan lapar dan minum selama 40 hari. Sebagaimana yang  disinggung oleh Ali bin Abi Thalib Kw bahwa “betapa banyak yang berpuasa, tapi tak ada apa pun yang didapatkannya dari puasa itu kecuali rasa lapar dan haus saja.” [4]

Pernyataan di atas menerangkan bahwa puasa tidak sekadar haus dan lapar. Tujuan puasa tidak lain adalah membentuk atau melatih manusia agar tidak merusak segala ciptaan Allah Swt. Puasa memberikan kesempatan kepada manusia untuk terhindar dari perilaku pengkhianatan yang merugikan makhluk lainnya. Adanya larangan makan dan minum mengisyaratkan agar umat Islam tidak mudah menuruti keinginan nafsunya. Dengan demikian, puasa mengajarkan tentang pengendalian diri. Sehinggga manusia yang berpuasa mestinya paham batas etika dalam berinteraksi dengan makhluk lainnya,  tidak terkecuali saat berinteraksi dengan bumi, mestinya manusia dapat memberikan perlakuan yang adil.

Jika puasa diterjemahkan dalam konteks sosial, maka puasa adalah medium transformasi sosial. Puasa Ramadan mengisyaratkan bahwa meskipun kekayaan itu kita peroleh, tetapi kita tidak diperbolehkan memakannya sebelum waktu berbuka puasa.

Salah satu ikhtiar untuk menyempurnakan puasa adalah dengan mengeluarkan zakat. Aktivitas ini mengandung filosifi bahwa di dalam harta yang dimiliki, terdapat hak orang lain (QS.al-Ma’arij24-25). Jika hal ini kita kaitkan dengan pengelolaan lingkungan, maka dapat kita pahami bahwa bumi yang kita pijak, tidak semata-mata untuk kita, melainkan juga untuk manusia dan makhluk lainnya.  Merusak bumi sama dengan mengambil atau melucuti hak makhluk yang lain. Maka dari itu, merawat bumi merupakan kesemestian bagi setiap manusia.

Pelestarian terhadap bumi dapat mewujud manakala manusia mampu mengontrol sifat ketamakan dan keserakahan dalam dirinya. Makna puasa sebagai instrumen sosial dapat terwujud manakala puasa tidak hanya berkutat pada ranah teologis saja, melainkan harus diterjemahkan menjadi spirit perubahan diri serta modal perubahan sosial. Karena jika puasa tak berdampak pada aspek ekologis maka puasa itu tidaklah sempurna. Inilah yang menjadi penghukuman bahwa puasa kita hanya sebatas haus dan lapar yang tidak berefek terhadap manusia, alam dan kekasih.

*) Penulis adalah Seorang Petani Ubi di Dusun Bottae, Pinrang

Referensi

[1] Kerugian Kerusakan Lingkungan Rp 271 Triliun dari Kasus Korupsi Timah (kompas.com)

[2] Indonesia Alami Deforestasi 257.384 Hektar pada 2023 – Kompas.id

[3] Moh. Syafrudin dan Nasaruddin, “Tafsir Ayat-Ayat Sosial Kemasyarakatan Dalam Al- Quran”, Tajdid Volume 7, Nomor 1, April 2023.

[4] Nahj al Balāghah (Khotbah, Surat dan Ujaran Ali Bin Abi Thalib Kw), Terjemahan Sayid Radhi, Tehran.

Facebook Comments