Beranda Uncategorized Kerjasama Penerbit Subaltern dan IMM Unhas, SHI Sulsel Hadirkan Literasi Jelang Sahur...

Kerjasama Penerbit Subaltern dan IMM Unhas, SHI Sulsel Hadirkan Literasi Jelang Sahur di Akhir Ramadan

0

Matakita.co, Makassar – Sarekat Hijau Indonesia  (SHI) Sulawesi Selatan bersama Koordinator Komisariat (kORKOM) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Hasanuddin (UNHAS) dan penerbit Subaltern menggelar literasi jelang sahur. kegiatan bertema “ Mengabadikan pengalaman beribadah di akhir ramadan diadakan melalui zoom meeting (3/4/2024)

Kegiatan ini menghadirkan narasumber yakni Esye Yusuf Lapimen (Direktur Penerbit Subaltern), Rizal Pauzi (SHI Sulsel) dan Engki Fatiawan (ketua Korkom IMM Unhas) kegiatan ini diikuti puluhan peserta. 

Esye Yusuf Lapimen dalam penjelasannya mengingatkan untuk tidak terjebak pada sesuatu yang simbolik namun dapat berpotensi kehilangan nilai fungsionalitasnya, utamanya pada 10 hari terakhir di bulan suci Ramadan. Hal ini dikarenakan munculnya fenomena-fenomena sosial di akhir ramadan seperti buka bersaama. Sebagaimana anekdot dalam pembagian tiga fase Ramadan 10 hari pertama ramadan merupakan fase pertama ramadan, yang penuh adalah masjid, 10 hari selanjutnya adalah fase kedua adalah warung makan, dan 10 hari selanjutnya adalah perburuan panasnya matahari (pusat perbelanjaan).

“Buka bersama misalnya. Janganlah kita terjebak pada yang simbolik dan kehilangan nilai fungsionalnya misalnya buka bersama harus pada tempat tertentu. Jika tidak pada tempat tersebut, merasa grade-nya akan turun padahal nilai fungsi dari buka bersama adalah merawat silaturahmi.” Jelas Penulis novel berjudul Labeddu.

Oleh karena itu, mahasiswa program magister sastra tersebut menegaskan untuk kembali pada makna 3 fase bulan ramadan yang seharusnya di internalisasi, yakni fase pertama yakni perubahan kebiasaan diri. Fase kedua yakni memohon ampunan, dan fase ketiga adalah terhindar dari api neraka.

Senada dengan hal tersebut, Engki Fatiawan Ketua Koordinator Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Hasanuddin juga menitikberatkan paparannya pada 10 hari terakhir ramdahan sebagai malam yang dinantikan oleh seluruh umat islam sebagai malam lailaturl qadr yang dimakani semagai malam kemuliaan. Sebagaimana dalam Tafsir Buya Hamka, Tafsir Al Azhar. Selain itu juga dimaknai sebagai penentuan Khittah, langkah kedepannya. Juga diyakini sebagai malam turunnya Al-Quran dengan surah Iqra yang artinya bacalah. Ayat pertama ini mememrintahkan umat islam untuk berliterasi yakni membaca, kemudian memrenungkan, memaknai serta memetik hikmah. Apabila telah mampu membaca kita mampu melakukan pemkanaan sehingga beribadah bukan hanya bersoal pada spiritual pribadi yang hanya memiliki garis vertikal kepada Tuham tetapi harus mampu berdampak sosial dan ekologis secara berkesinambungan.

“Penggabungan literasi dan perjuangan sosial ekologis menjadi kesimpulan dari malam lailatur Qadr” Pungkas penulis buku Lingkungan Berkearifan.

Menyambung paparan Engki, Direktur Polinet kembali menegaskan untuk melakukan pemaknaan nilai-nilai ramadan dalam sebuah dokumentasi. Artinya perjalanan spiritual di akhir ramadhan bukan hanya bersoal pada kalkulasi kebaikan di akhirat tetapi totalitas beribadah disertai dengan perubahan perilaku yang adil terhadap lingkungan yang disebut sebagai sprit hijau ramadan.

Hal tersebut menjadi penting dikarenakan nilai-nilai ketauhidan bukan hanya melulu hubungan personal akan tetapi habluminnanas termasuk dengan semesta oleh karena itu penting untuk melakukan aktivitas ibadah tanpa merusak lingkungan. 

“Misalnya dalam beribadah kita menghabiskan sepertiga di masjid dengan memabwa bekal, kantong plastik serta dos makanan, yang terkadang masih dibuang sembarang, padahal beribadah juga dintentukan oleh perilaku kita” Jelas penulis buku Predator Demonstran. 

Rizal membagikan tiga cara dalam mengabadikan kebaikan sebagai bagaian dari spirit literasi dan spirit hijau bahwa isu lingkungan memerlukan keterlibatan kita semua. Pertama, menulis sebagai bentuk refleksi baik berupa catatan harian dan esai. Kedua, menulis sebagai sebuah kisah dalam bentuk etnografi, cerpen dan novel. Hal ini untuk penting menguatkan imajinasi dan optimisme pembaca. Terakhir mendokumentasikan secara visual sehingga konten media sosial semakin dipenuhi dengan konten edukasi dan menguatkan realitas. 

Menutup diskusi jelang sahur, pengajar di Fakultas Fisip Unhas tersebut menyampaikan Manifesto Politik SHI “…Untuk itu kita perlu menghargai integritas ekosistim dan menjamin keanekaragamannya sebagai prasyarat untuk mendukung kelangsungan kehidupan manusia. Dengan itu sekaligus terdapat jaminan bagi generasi saat ini untuk melangsungkanprikehidupannya dengan baik, dan jaminan generasi mendatang untuk menikmati kualitas alam yang sama baiknya…”

Facebook Comments Box