Beranda Mimbar Ide Menemui dan Menemukan Tuhan

Menemui dan Menemukan Tuhan

0

Oleh : Asratillah*

“Biar susah sungguh

Mengingat Kau penuh seluruh”

(Chairil Anwar)

Pernah saya menyangka bahwa Tuhan merupakan entitas yang transenden sepenuhnya, Dia di luar sana berupa hal tak terjamah dan tentunya terpisah dari makhluk sepenuhnya. Tuhan menjadi sesuatu yang berada di luar sejarah, tak terperikan oleh budaya, dan tak tersentuh oleh segala bentuk proses sosial. Tuhan menjadi sosok perkasa yang berada di luar sekaligus memandangi “sungai sejarah”, lalu sekali-kali ikut campur melalui mukjizat, wahyu dan ilham.

Tapi ternyata soalnya tak sesederhana itu. Jika kita bertanya, dimanakah kita menemukan Tuhan yang kita Imani sekarang? Maka alangkah tidak jujurnya jika kita menjawab bahwa kita menemukannya seorang diri. Tuhan kita kenali pertama kali melalui nasihat moral kedua orang tua kita, Tuhan kita temukan saat kakek mengancam kita dengan panasnya api neraka karena mencuri mangga tetangga, Tuhan kita pahami melalui mimbar masjid atau gereja dan tentunya melalui institusi sekolah.

Yahhhh, selama ini kita tidak menemukan Tuhan, namun justru Tuhan yang menemui kita. Apa yang kita maksud dengan “Tuhan yang menemui kita”? Bahwa Tuhan yang kita kenal adalah Tuhan yang pelan namun pasti menemui kita melalui lembaga-lembaga budaya dan sosial, itu juga berarti Tuhan yang menyejarah. Tuhan menemui kita melalui sarana “bahasa”.

Di titik ini antara Tuhan dengan sejarah, yang sosial, dan budaya tidak bisa dipisahkan. Lalu apa yang problematis jika Tuhan “menemui” kita dengan cara demikian? Sebagian besar orang menganggap bahwa hal tersebut tidaklah menjadi soal, namun jika kita merefleksikan lebih lanjut Tuhan yang kita imani adalah Tuhan yang kebetulan diimani oleh sebagian besar orang di sekitar kita. Jika kita mengikuti gagasan Max Weber, agama dan Iman yang kita ikuti merupakan dikte “agama dan iman oleh orang pada umumnya”.

Lalu masih mungkinkah kita menemukan “Tuhan”? Tentu kata Tuhan yang saya sebutkan bisa sangat problematis. Karena saat saya menyebut atau menuliskan kata “Tuhan”  akan ditafsirkan secara berbeda-beda pula oleh setiap orang berdasarkan latar belakang identitasnya yang beragam. Tuhan sebagai istilah mungkin telah dianggap final lalu dicantumkan dalam kamus bahasa, namun interpretasi terhadapnya akan senantiasa membuncah tiada henti. Tuhan merupakan konsep yang selesai, tapi jauh dari kata rampung.

Masih mungkinkah kita menemukan Tuhan? Barangkali masih mungkin, walaupun dengan mengakomodir keluasan dan kemajemukan tafsiran terhadapnya. Apakah itu berarti kita mesti melampaui bahasa, atau meninggalkan bahasa agar bisa menemukan Tuhan? Mengingat Tuhan menemui kita melalui sarana bahasa.

Sepertinya teramat sulit jika tak dikatakan hampir mustahil, jika kita meninggalkan bahasa, apatah lagi “Bahasa merupakan rumah ada” bagi menusia menurut Nietzche. Artinya cakrawala eksistensi manusia ditopang oleh cakrawala bahasanya. Luas dunia yang dipahami oleh manusia sangat bergantung oleh keluasan khazanah kebahasaannya. Singkat kata, hanya kematian yang bisa membuat kita meninggalkan bahasa.

Lalu jalan apa yang bisa kita tempuh  untuk menemukan Tuhan? Kita bisa memulainya dengan semacam keinsyafan yang pernah diucapkan oleh penyair  Toto Sudarto Bachtiar “Karena kata tak cukup buat berkata”. Maksudnya kata, konsep, terma yang kita tulisakan dan pergunjingkan senantiasa tak memadai untuk membicarakan kenyataan. Jangankan untuk membincang sesuatu yang sangat transenden semacam Tuhan, membincang hal yang paling intim dari diri kita bahkan seringkali membuat bahasa ngos-ngosan.

Begitu banyak rasa sepi, sendu, cemas, derita, galau, dan bahagia yang tak mampu ditampung dan digambarkan bahasa. Kadangkala kita paham persis bahwa dua pengalaman hidup membuat kita cemas dan sangat berbeda secara kualitatif, walaupun keduanya kita istilahkan dengan terma yang sama yakni “cemas”. Hal serupa juga kita rasakan dengan pengalaman-pengalaman hidup lain. Jika kita meminjam istilah penyair Hartoyo Andangjaya, begitu banyak Sunyi dalam hidup ini yang  sulit diubah menjadi Bunyi (bahasa).

Akhirnya saya tak mampu berucap banyak bagaimana agar kita mampu menemukan Tuhan, tapi hanya menawarkan langkah awal untuk melakukannya. Di sisi lain langkah awal tersebut tidak bisa diprediksi akhirnya. Jika Kafka bernah berucap bahwa menulis merupakan tegangan kreatif antara “menemui bahasa” dan “menemukan bahasa”, maka bisa jadi “ber-iman” merupakan tegangan kreatif antara “menemui Tuhan” dan “menemukan Tuhan”.

*) Penulis adalah Direktur Profetik Institute

Facebook Comments Box