Beranda Mimbar Ide FAS Dengan Adab, Ketekunan dan kebangkitan ditengah Brutalitas Politik Transaksional

FAS Dengan Adab, Ketekunan dan kebangkitan ditengah Brutalitas Politik Transaksional

0

Oleh : Ahmad Faisal Idrus*

Politik seringkali disebut sebagai alat pencapaian kepentingan kekuasaan, atau kalau bukan alat maka sebagian menyebutnya sebagai seni mengolah kepentingan untuk sebuah kekuasaan. Kemudian muncullah adegium yang mengatakan bahwa “tidak ada kawan dan musuh abadi dalam politik, yang ada hanya kepentingan”. Tentu tidak ada yang salah dengan hipotesis demikian, apalagi bagi sekian banyak manusia-manusia yang mengalami langsung pengalaman politik praktis dalam PILEG 2024 yang baru saja. Banyak yang langsung mengaitkan potensi di pemilihan walikota Parepare sudah tergambar dalam angka-angka perolehan suara di PILEG yang barusan terjadi. Hal ini juga tentu tidak salah, apakah kemudian ketika rakyat memilih wakil mereka di parlemen akan sama dengan memilih pemimpin kota mereka. Nah, ini perlu kajian dan riset ilmiah.

Pertarungan ditahun politik PILKADA Parepare, saat ini sudah memasuki masa inisiasi, berbagai manuver telah dijalankan oleh para person yang telah mengukur dirinya dalam berbagai aspek, berbagai faktor dan indikator kemudian mengambil keputusan bahwa dia mampu bertarung dan menjadi walikota parepare. Hampir semua percakapan social media dipenuhi dengan perbincangan politik kontestasi pemilihan walikota Parepare.

Nah…, dari sekian banyak person yang menginisiasi kampanye publiknya dengan mem-boosting publikasi diri untuk dikenal masyarakat. Ada yang menarik dari fenomenalitas FAS atau akronim dari Faisal Andi Sapada dalam kontestasi pemilihan walikota parepare ini, seorang yang pantang menyerah dalam mengikuti kontestasi kepemimpinan di kota Parepare, berlatar belakang birokrat selama puluhan tahun dan menjabat jabatan politik sebagai wakil walikota yang ruang ekspresi ide dan gagasannya ditutup oleh kekuasaan nomor satu pada saat itu, tenang-tenang tanpa riak kenapa disebut menarik, karena beberapa hal :

1) lahir dari kalangan bangsawan pejuang namun feodalismenya humanis dan tidak berkarakter tiran.,

2) seringkali disurvey dengan angka yang sangat signifikan apalagi jika dihadapkan dengan afiliasi incumbent, namun kenyataannya tidak di dukung partainya sendiri , yang konon hanya karena ukuran finansial yang tidak sama.

3) sering diasumsikan sebagai kandidat yang paling minim finansial, namun selalu mendapatkan tempat signifikan atau tertinggi di survey-survey awal pilkada kota Parepare 2024.

Seringkali masyarakat berkaca pada PILEG 2024 Februari lalu dimana masyarakat membincangkan tentang brutalnya kekuatan kapital dalam pertarungan merebut suara, disebut brutal karena terkesan para CALEG dengan ambisi meraih kursi lalu kemudian menaikkan angka atau nilai setiap suara, kemudian penyampaiannya dilakukan secara terang-terangan dan hampir disemua tingkatan CALEG DPRD kab/ kota provinsi dan DPR RI.  Kemudian kesan brutal juga terlihat dari terbukanya pemilik suara meminta bayaran atas suaranya di bilik TPS. Ini benar-benar pemandangan yang luar biasa ketika kita bersandar pada nilai-nilai dalam sebuah proses politik yang beradab.

Tidak ada riset-riset ilmiah yang bisa memotret dampak terhadap rakyat dari hasil proses politik transaksional yang luar biasa ini, dan terlihat seperti biasa-biasa saja, dalam pandangan kasat mata, toh pemerintahan tetap berjalan. Inilah yang membuat hal tersebut menjadi terus menerus berlangsung dan semakin kuat, bahkan mungkin saja menjadi kebiasaan dan mem-budaya dalam kehidupan politik kita. Maka sepertinya boleh-boleh saja jika kita mengatakan bahwa pilihan politk kekinian adalah pilihan uang bukan pilihan orang. Apakah kita akan menitipkan masa depan kota ini pada piliuhan uang atau pilihan orang , jawabannya ada di hati nurani kita masing-masing.

*) Penulis adalah Ketua umum HIPMI Pare

Facebook Comments Box