Beranda Mimbar Ide Pemilu Niretika : Berpesta Diatas Jeritan Bumi

Pemilu Niretika : Berpesta Diatas Jeritan Bumi

0
Muh. Chairul Sahar

Oleh: Muh. Chairul Sahar*

Perayaan pesta demokrasi lima tahunan telah usai untuk memilih nakhkoda baru yang akan melanjutkan tonggak esftafet ‘kekuasaan’ baik eksekutif maupun legislatif. Euphoria di lapisan masyarakat bawah juga sudah mulai menurun seiring dengan sudah ditetapkannya siapa saja yang akan menduduki kursi-kursi kekuasaan lima tahun kedepan. Namun seiring dengan selesainya pesta demokrasi lima tahunan ini masih banyak hal yang membekas dan mesti direfleksi dari perayaan yang menghamburkan ratusan triliun uang negara. Banyak intrik, gimik, fenomena dan lain sebagainya yang setidaknya menjadi gambaran ‘ketakmajuan’ dari masyarakat dan sistem yang ada. Mulai dari ujaran kebencian, hoax, money politik hingga kesemrawutan baliho dijalan-jalan beberapa contohnya. Pada tulisan ini coba sedikit meneropong refleksi pemilu terhadap dampak lingkungannya.

Sepanjang tahun 2023 hingga februari 2024 ketika menyisiri jalan-jalan di setiap sudut kota pada lampu jalan dan pohon-pohon ada banyak deretan spanduk dan baliho semerawut sana-sini yang merusak pemandangan mata.

Walaupun sudah diatur oleh Komisi Pemilihan Umum bahwa Alat Peraga Kampanye (APK) semestinya dipasang dengan mempertimbangkan etika, estetika, kebersihan dan keindahan namun seakan hal itu tidak diindahkan oleh para peserta pemilu demi berusaha menampilkan diri dan dikenal oleh masyarakat karena mengejar popularitas dan elektabilitas. Bukan hanya persoalan kenyamanan mata saja melainkan ada hal lain yang menghantui bumi akibat hal ini.

Kemajuan dan perkembangan teknologi masih belum mampu dibaca sebagai peluang dengan baik oleh para calon wakil rakyat, padahal pemilu tahun ini didominasi oleh pemilih millennial dan gen z dengan jumlah pemilih masing-masing 66.822.389 (33,60%) dan 46.800.161 (22,85%) yang hampir seluruhnya erat dengan dunia digital dan media sosial.

Kampanye didunia digital memang jadi tren baru di pemilu tahun ini namun seakan hanya menjadi formalitas agar terkesan mengikuti kemajuan peradaban, hal ini belum signifikan dan masif oleh semua peserta pemilu, mereka masih mengandalkan spanduk dan baliho konvensial. Mirisnya metode konvensional semacam ini justru menjadi permasalahan lingkungan baru, kita seakan meraya demokrasi diatas jeritan bumi akibat karbon dari plastik.

Dilansir dari timeforchange.org untuk produksi plastik spanduk dalam 1 kilogram (kg) plastik polyethylene (PET/ LDPE) dibutuhkan 2 kg minyak bumi dan bahan lainnya, dan untuk membakar 1 kg minyak bumi menghasilkan 3 kg karbondioksida (CO2) sehingga untuk 1 kg bahan spanduk menyumbang 6 kg CO2 yang hanya menghasilkan  3 spanduk ukuran 1×1 meter (0,35 kg/spanduk). Karbon yang disumbangkan memang tak kasat mata namun berbahaya bagi bumi dan kehidupan didalamnya, bayangkan saja jumlah DCT caleg DPR RI sebanyak 9917 orang dan DPD RI 668 orang, hampir semuanya membuat APK sehingga berapa juta atau bahkan miliar ton CO2 yang disumbangkan, ini belum termasuk Calon presiden dan juga Caleg DPRD Provinsi dan Kababupaten/Kota. Di lansir dari Kompas.com jumlah emisi CO2 dari pembakaran fosil ditahun 2023 meningkat menjadi 36,8 Miliar ton. Hal ini akan sangat berdampak pada pemanasan global dan persoalan lingkungan lainnya.

Selain dari produksi APK yang tak ramah lingkungan pemasangannya pun turut mengorbankan pohon-pohon yang ada dijalanan, tak sedikit para calon wakil rakyat yang memasang APK di pohon menggunakan paku. Dilansir dari walhisumbar.org pada desember 2023 di wilayah kota Padang saja terkumpul 2 kg paku dari APK yang ada di pohon-pohon. Paku yang ditancapkan caleg nakal dipohon akan merusak kulit pohon dan dapat menghambat transportasi air dan nustrisi, sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan kesehatan serta resiko infeksi penyakit pada pohon. Dampaknya pada penurunan kualitas pohon atau bahkan kematian pohon yang berujung pada kurangnya penyerapan CO2 dan oksigen yang dihasilkan oleh pohon. Hal ini seakan menujukkan bahwa satu tindakan pemasagan APK dapat menimbulkan salah dua permasalahan yang berakibat serius pada kondisi lingkungan dibumi.

Kondisi ini menunjukkan niretika lingkungan dari para calon wakil rakyat yang katanya ingin menyuarakan aspirasi namun justru merusak bumi yang menjadi tempat bernaung rakyat demi hasrat kuasa. Pemilu memang telah usai namun pembelajaran mesti diambil untuk pesta demokrasi kedepannya agar kita tidak lagi berpesta diatas jeritan bumi yang semakin sakit-sakitan, setidaknya diakhir tahun ini kita akan kembali menyongsong pesta demokrasi pilkada serentak 2024 di seluruh provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia, kaum muda mesti bersuara dan terlibat dalam euphoria demokrasi ini, mengambil peran sentris memperjuangkan hal fundamental yang tak banyak dilirik oleh masyarakat pada umumnya.

Permasalahan yang dianggap sepele namun berdampak besar untuk seluruh umat manusia seperti APK niscaya terulang kembali, sehingga kaum muda harus bersuara mengkampanyekan pemilu yang hijau minim baliho plastik dan paku dipohon. Berperan sebagai agen perubahan mode kampanye konvensional yang tak ramah lingkungan menjadi kampanye modern melalui media sosial yang lebih hijau. Serta tak mendukung calon pemimpin yang katanya berjuang untuk rakyat namun justru jalan perjuagannya merusak rumah (bumi)  umat manusia. Anak muda menjadi segmen pemilih terbesar sehingga perjuangan dan suara anak muda akan sangat berpengaruh untuk masa depan Indonesia yang lebih hijau, jangan apatis karena semua akan terdampak dari perilaku niretika lingkungan dari para politisi. Jaga bumi sebagai rahmat dan titipan Tuhan pada manusia. Salam Lestari !!

*) Penulis adalah Ketua Umum Pikom IMM Teknik Unhas

Facebook Comments Box