Beranda Mimbar Ide Pengaruh Media Terhadap Stereotip Gender dan Peran Perempuan

Pengaruh Media Terhadap Stereotip Gender dan Peran Perempuan

0

Oleh : Fira*

Media memiliki pengaruh besar terhadap stereotip gender dan peran perempuan karena media adalah salah satu sumber utama informasi dan hiburan yang dikonsumsi oleh masyarakat. Representasi yang seringkali tidak seimbang dan stereotipik dari gender dalam film, televisi, iklan, dan media lainnya memperkuat pandangan tradisional tentang peran laki-laki dan perempuan. Perempuan sering digambarkan dalam peran domestik atau sebagai objek seksual, sementara laki-laki ditampilkan sebagai pemimpin dan penyedia utama. Representasi ini menciptakan dan memperkuat norma sosial yang membatasi peluang dan aspirasi perempuan, serta mempengaruhi bagaimana individu memandang dan memperlakukan satu sama lain berdasarkan gender. Akibatnya, media berkontribusi pada pemeliharaan ketidaksetaraan gender dalam masyarakat.

Berdasarkan keterwakilan perempuan Menurut sebuah penelitian oleh The Indonesian Film Board (BPI), hanya sekitar 20-30% dari film yang diproduksi di Indonesia memiliki karakter perempuan sebagai tokoh utama. Sebagian besar film masih didominasi oleh karakter laki-laki. Dimana Peran Stereotip Perempuan sering kali digambarkan dalam peran tradisional seperti ibu rumah tangga, istri, atau objek seksual. Misalnya, film-film populer perempuan sering kali digambarkan dalam peran yang lemah dan tunduk. Karakter perempuan yang kuat atau mandiri jarang terlihat.

Studi menunjukkan bahwa jumlah sutradara dan produser perempuan di industri film Indonesia masih rendah. Menurut data dari BPI, hanya sekitar 10-15% dari film yang disutradarai oleh perempuan. Adapun dampak Kurangnya sutradara perempuan berkontribusi pada kurangnya perspektif perempuan dalam narasi film dan penggambaran karakter perempuan.

Ketidaksetaraan gender dalam media, seperti televisi, iklan, dan film, telah lama menjadi masalah yang mendalam. Peran perempuan sering kali digambarkan secara stereotip, lemah, tunduk, pasif, dan menjadi figur pendamping belaka. Hal ini memperkuat dan memperpanjang stigma serta norma-norma yang merugikan perempuan dalam masyarakat. Ketidaksetaraan ini dapat merusak persepsi dan harga diri perempuan serta menyebabkan pembatasan pada aspirasi dan peluang mereka.

Namun, dalam film “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak” (2017) menunjukkan bahwa representasi perempuan yang kuat dan kompleks dapat diwujudkan dalam media. Kisah Marlina, seorang janda yang mengambil tindakan tegas melawan kekerasan yang dialaminya, memberikan gambaran yang kuat tentang kekuatan dan ketegasan perempuan. Film ini mendapat pujian internasional, menunjukkan bahwa masyarakat di seluruh dunia menghargai narasi yang memperlihatkan perempuan sebagai tokoh yang mampu bertindak secara mandiri dan menentang ketidakadilan.

Meskipun film “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak” (2017) memberikan contoh yang kuat tentang perempuan yang tangguh dan mandiri, satu film saja tidak cukup untuk mengatasi ketidaksetaraan gender dalam media. Masih banyak film, iklan, dan program televisi lainnya yang terus memperkuat stereotip gender yang merugikan perempuan. Sebuah film sukses tidak cukup untuk mengubah pandangan masyarakat secara luas terhadap peran perempuan dalam media.

Selain itu, beberapa kritikus berpendapat bahwa film-film seperti “Marlina” bisa menjadi pengecualian daripada aturan dalam industri film. Kesenjangan gender dalam industri perfilman masih jelas terlihat dalam jumlah film yang disutradarai oleh perempuan, pendanaan film yang diberikan kepada proyek-proyek yang dibintangi oleh perempuan, dan masih banyak lagi.

Sebaiknya dalam beberapa hal diperlukan komitmen yang berkelanjutan dari industri media, pembuat kebijakan, dan masyarakat untuk menampilkan representasi perempuan yang lebih beragam, realistis, dan menginspirasi. Dengan menghadirkan berbagai narasi dan cerita tentang perempuan yang kuat dan mandiri, kita dapat mengubah pandangan dan harapan masyarakat terhadap peran perempuan dalam media dan masyarakat secara keseluruhan.

Dalam mengejar kesetaraan gender dalam media, perjuangan tidak boleh berhenti di satu film atau satu narasi. Mari kita terus mendukung dan mendorong representasi yang lebih inklusif, realistis, dan menginspirasi dalam media kita. Saya harap Setiap langkah kecil menuju perubahan adalah langkah yang penting, dan dengan bersama-sama, kita bisa menciptakan dunia di mana perempuan dan laki-laki diperlakukan dengan adil dan setara dalam semua aspek kehidupan.

*) Penulis adalah mahasiswa lmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar.

Facebook Comments Box