Beranda Politik Kepemimpinan Munafri Arifuddin Angkat Daya Saing Makassar di IDSD 2025, Dampak Nyata...

Kepemimpinan Munafri Arifuddin Angkat Daya Saing Makassar di IDSD 2025, Dampak Nyata Dinantikan Warga

0

Matakita.co, Makassar — Hasil Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 (dirilis oleh BRIN, dan penanggungjawab disseminasinya di Kota Makassar adalah BRIDA Kota Makassar) yang menempatkan Kota Makassar dengan skor 4,17 atau berada di atas rata-rata Provinsi Sulawesi Selatan dan nasional dinilai sebagai sinyal positif bagi perkembangan kota tersebut. Namun demikian, capaian tersebut diingatkan agar tidak membuat pemerintah kota terlena, karena ukuran utama keberhasilan pembangunan tetap terletak pada dampaknya terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.

Direktur Profetik Institute, Asratillah, menilai skor yang diperoleh Makassar menunjukkan bahwa kota ini memiliki fondasi pembangunan yang relatif kuat dibandingkan daerah lain di Sulawesi Selatan. Menurutnya, posisi Makassar sebagai pusat perdagangan, jasa, pendidikan, dan layanan keuangan membuat kota ini memiliki keunggulan struktural yang mendukung peningkatan daya saing daerah.

“Saya memandang hasil Indeks Daya Saing Daerah 2025 untuk Kota Makassar sebagai sinyal positif tentang posisi kota ini dalam peta pembangunan daerah. Skor Makassar yang mencapai 4,17 dan berada di atas rata-rata provinsi maupun nasional menunjukkan bahwa kota ini memiliki fondasi ekonomi dan kelembagaan yang relatif kuat. Makassar memang sejak lama menjadi pusat perdagangan, jasa, pendidikan, dan layanan keuangan di Sulawesi Selatan. Keunggulan-keunggulan struktural itu membuat Makassar memiliki kapasitas tumbuh lebih cepat dibandingkan daerah lain di provinsi ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa secara logika pembangunan, kondisi tersebut membuat Makassar wajar memiliki skor yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata daerah di Sulawesi Selatan. Namun demikian, capaian indeks tersebut harus dipahami secara proporsional karena tidak secara otomatis mencerminkan tingkat kesejahteraan masyarakat.

“Indeks daya saing lebih menggambarkan kesiapan ekonomi daerah untuk berkembang, bukan otomatis mencerminkan kesejahteraan warga secara merata. Kota bisa saja terlihat unggul dalam indikator makro, tetapi warga masih menghadapi masalah nyata seperti biaya hidup yang tinggi, transportasi yang belum efisien, atau pelayanan administrasi yang masih lambat. Karena itu angka indeks tidak boleh dijadikan ukuran tunggal keberhasilan pembangunan kota,” jelasnya.

Menurut Asratillah, jika dilihat dari komponen penyusunnya, kekuatan Makassar terlihat pada sektor ekonomi dan teknologi yang menunjukkan bahwa kota ini telah bergerak menuju ekonomi modern. Namun masih terdapat sejumlah catatan penting, terutama pada aspek infrastruktur perkotaan dan kemudahan berusaha yang dinilai masih perlu ditingkatkan.

“Pertumbuhan ekonomi Makassar belum sepenuhnya diikuti dengan perbaikan kualitas ruang kota dan ekosistem usaha yang sehat. Kota yang kompetitif seharusnya tidak hanya besar secara ekonomi, tetapi juga efisien dan nyaman untuk berusaha maupun untuk ditinggali,” katanya.

Ia menekankan bahwa pemerintah kota sebaiknya menjadikan hasil indeks ini sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki kebijakan pembangunan ke depan. Menurutnya, pekerjaan rumah utama pemerintah kota berada pada peningkatan kualitas layanan dasar yang langsung dirasakan masyarakat.

“Peningkatan layanan transportasi, pengelolaan banjir, kebersihan kota, hingga kepastian layanan perizinan usaha perlu menjadi prioritas. Daya saing yang kuat harus diterjemahkan menjadi birokrasi yang cepat dan pelayanan yang sederhana. Tanpa itu, keunggulan indeks hanya akan terasa di atas kertas,” ujarnya.

Asratillah juga mengapresiasi posisi Makassar sebagai daerah dengan tingkat daya saing tertinggi di Sulawesi Selatan. Namun ia mengingatkan bahwa capaian tersebut harus menjadi motivasi untuk terus berbenah menghadapi perubahan yang semakin cepat.

“Kota yang berhenti berbenah biasanya akan tertinggal oleh perubahan zaman. Makassar sudah memiliki fondasi yang baik, dan justru karena itu harapan masyarakat juga semakin tinggi. Ke depan, ukuran keberhasilan Makassar bukan lagi sekadar skor indeks, melainkan sejauh mana pemerintah kota mampu menghadirkan pelayanan publik yang adil, efisien, dan benar-benar meningkatkan kualitas hidup warganya,” tutupnya.

Facebook Comments Box
ADVERTISEMENT