Beranda Lensa Penuh Nilai Adat dan Spiritualitas, H. Ferry Tass., Dt. Toembidjo Dampingi JamDatun...

Penuh Nilai Adat dan Spiritualitas, H. Ferry Tass., Dt. Toembidjo Dampingi JamDatun Prof. Narendra Hadiri Baralek Putri Ikhwan Nul Hakim di Padang

0

Matakita.co, PADANG, 5 April 2026 — Ferry Tass., Dt. Toembidjo selaku Pelaksana Harian Direktur Perdata mendampingi Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (JamDatun), Prof. Dr. Narendra Jatna, S.H., LL.M., menghadiri prosesi akad nikah dan resepsi pernikahan Firdha Ainil Hakim, M.Pd. dengan Nefri Rahmadhi Pinko, S.Pd., Gr., yang digelar di UPGRISBA Convention Center, Padang, Minggu.

Kehadiran JamDatun bersama jajaran pejabat tinggi menghadirkan suasana penuh kehormatan, kehangatan silaturahmi, sekaligus memperkuat nuansa adat Minangkabau dalam momentum sakral keluarga besar Ikhwan Nul Hakim, S.H., M.H.

Dalam kapasitasnya sebagai sumando urang Minang bergelar adat “Sutan Marajo”, JamDatun menyampaikan pesan yang memadukan nilai adat, spiritualitas, dan harapan luhur bagi kedua mempelai.

Highlight Pernyataan JamDatun

“Pada hari yang berbahagia ini, adat badiri, cupak tatagak, limbago dituang. Seperti pepatah urang Minangkabau: asam di gunuang, garam di lauik, batamu dalam balango. Hari ini kita bersama-sama menyaksikan Ananda Koko yang berasal dari Kota Pekanbaru dan Ananda Pipit yang berasal dari Kota Padang dipertemukan jodohnya oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’aala di gedung ini dalam ikatan janji suci untuk membentuk keluarga bahagia yang sakinah, mawaddah, warahmah.”

Pernyataan tersebut disambut hangat para undangan karena dinilai mampu menggambarkan perpaduan adat, agama, dan marwah keluarga dalam satu momentum kebahagiaan.

Suasana semakin hidup ketika JamDatun menutup sambutannya dengan pantun penuh makna:

Burung punai hinggap di dahan
Dahan diikat dengan getah
Kedua mempelai kuatkan iman
Insya Allah rumah tangga dilimpahi berkah

Tak hanya itu, pantun bernuansa jenaka yang beliau sampaikan turut mencairkan suasana dan mengundang senyum seluruh tamu:

Ke Pulau Penyengat memakai sampan
Untuk mencari pohon dijadikan rakit
Walau banyak cowok yang tampan
Cuma Mas Koko pilihan Pipit.

Gelak tawa dan tepuk tangan pun mengisi ruangan, memperlihatkan hangatnya ikatan emosional antara keluarga, sahabat, dan para tamu kehormatan.

Mengalir dari sambutan JamDatun tersebut, Ferry Tass., Dt. Toembidjo sebagai Niniak Mamak Minangkabau kemudian menegaskan makna adat dari peristiwa sakral tersebut.

“Dalam adat Minangkabau, pernikahan adalah momen batali darah jo batali budi. Nan disatukan hari ko bukan hanya Ananda Koko jo Ananda Pipit, tapi juo dua keluarga nan insya Allah saling manjago marwah, saling manyayangi, dan saling mangku tanggung jawab dalam nilai adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.”

Menurutnya, kekuatan rumah tangga tidak hanya dibangun oleh rasa cinta, tetapi juga oleh iman, tanggung jawab, serta kemampuan kedua mempelai menjaga kehormatan keluarga besar di tengah kehidupan sosial.

Turut hadir dalam acara tersebut SesjamDatun Ahelya Abustam, S.H., M.H., Sesjambin Rina Verawaty, Sesjampidsus Andi Herman, S.H., M.H., Plh. Sesjampidmil Dr. Zet Tadung Allo, S.H., M.H., Dirjen Kementerian ATR/BPN Dr. Arief, Kajati Sumatera Barat Muhibbuddin, S.H., M.H., Wakajati Kepulauan Riau Dr. Diah Yuliastuti, S.H., M.H., Direktur Tim Hukum JamDatun Irene Putri, Asnawi, mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat, serta Gubernur Jambi Dr. H. Al Haris, S.Sos., M.H., yang turut menambah kehormatan dan kekhidmatan suasana.

Seluruh rangkaian acara berlangsung lancar, khidmat, dan penuh keakraban. Momen ini menegaskan bahwa baralek bukan sekadar seremoni penyatuan dua insan, tetapi juga ruang pemuliaan adat, penguatan marwah keluarga, dan perawatan jejaring persaudaraan yang bernilai luhur.

Facebook Comments Box
ADVERTISEMENT