Home Kesehatan Mengendalikan Stres dengan Pendekatan Stoisisme di Tengah Pandemi Covid-19

Mengendalikan Stres dengan Pendekatan Stoisisme di Tengah Pandemi Covid-19

0
Ikhsan Wahidin
ADVERTISEMENT

Oleh : Ikhsan Wahidin*

“Amor Fati”
“Love of Fate”
“Mencintai Takdir”
-Friedrich Nietzsche

Berawal dari wabah yang diidentifikasi di Wuhan pada pertengahan Desember 2019. Wabah virus ini kemudian menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Indonesia mengkonfirmasi kasus pertamanya pada senin 2 Maret lalu. Dua orang warga Indonesia diduga telah terjangkit Covid19 setelah salah satunya berinteraksi dengan WN Jepang yang masuk ke wilayah Indonesia. Singkat cerita, virus ini mulai menyebar ke wilayah Indonesia yang lain. Pemerintah mulai mengampanyekan gerakan social distancing atau physical distancing untuk menekan laju penyebaran virus Covid19 ini. Pemerintah juga mengeluarkan Permenkes 9 tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka percepatan penanganan Covid19 yang di tetapkan di Jakarta tanggal 3 April 2020 oleh Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Beberapa Pemerintah Daerah mulai menerapkan PSBB dan bersosialisasi agar para warganya tetap di rumah serta tidak bepergian keluar rumah jika tidak diperlukan. Segala kegiatan perkantoran, perbelanjaan selain logistik, seni, olahraga dan kegiatan lain yang menimbulkan kerumunan orang dihentikan dan ditunda untuk sementara waktu. Segala pekerjaan kantor mulai dilakukan dari rumah atau Work From Home (WFH). Alhasil sebagian besar kegiatan dilakukan hanya di dalam rumah. Segala kebijakan pemerintah ini bisa jadi berdampak positif menekan laju penyebaran virus Covid19 ini. Tapi kebijakan tetap di rumah ini juga menimbulkan dampak negatif. Ini dapat menimbulkan perasaan-perasaan negatif seperti stres, gelisah, jenuh dan lain-lain. Kondisi ini disebut Cabin Fever. Melansir dari halaman Wikipedia, Cabin Fever mengacu pada iritabilitas claustrophobic atau kegelisahan yang dialami ketika seseorang atau kelompok terjebak di lokasi yang terisolasi atau terbatas dalam waktu yang lama. Adapun gejala-gejala seseorang mengalami kantuk atau kurang tidur. Tidak memiliki rasa percaya kepada orang lain. Memiliki keinginan untuk keluar bahkan dalam kondisi buruk. Cabin fever sendiri bukan sebuah penyakit. Namun gejala terkait dapat membuat penderita membuat keputusan irasional yang berpotensi mengancam kehidupan mereka. Sementara menurut Wellmind seperti di lansir di halaman ui.ac.id, gejala cabin fever lebih terperinci yaitu kegelisahan, turunnya motivasi, mudah tersinggung, mudah putus asa, sulit berkonsentrasi, pola tidur tidak teratur dan sulit bangun tidur. Selain itu gejala lainnya yaitu mudah lesu, sulit percaya pada orang sekitar, tidak sabaran, merasa sedih dan depresi untuk waktu yang lama. Ditambah dengan ancaman virus Covid19 yang mengintai yang menambah rasa stres.

ADVERTISEMENT

Penyebab stres ini dapat di analisis dengan memakai teori Sigmund Freud. Freud berpendapat bahwa terjadi hubungan interaktif yang kontinyu antara manusia dan lingkungannya. Terutama hubungan antara kebutuhan-kebutuhannya pribadi dengan tuntutan-tuntutan masyarakat. Freud mendeskripsikan pikiran menjadi tiga, yaitu ID atau prinsip kesenangan atau keinginan, EGO yang mengatur kesenangan-kesenangan tersebut dan SUPEREGO yang menjadi norma-norma yang membatasi ID atau prinsip kesenangan. Singkat cerita, hubungan interaktif manusia dan lingkungannya yang dulu terjadi tiba-tiba terblok atau terhenti karena situasi Covid19 ini. ID atau prinsip kesenangan yang dulu teraktualisasikan kini harus terhenti karena timbulnya norma baru dalam masyarakat yaitu himbauan untuk tinggal di rumah saja untuk waktu yang lama. Tentunya ini menimbulkan stress bagi sebagian pihak. Senada dengan Freud, Bannon dan Feist (2007) serta (Myers) mengatakan bahwa stress dapat timbul dari beberapa sumber yaitu yang pertama katastrofi. Katastrofi adalah kejadian besar secara tiba tiba dan tidak dapat di prediksi. Ini senada dengan Covid19 yang telah menjangkiti banyak negara dan masih belum jelasnya kapan kasus ini akan berhenti. Yang kedua adalah perubahan kehidupan. Perubahan kehidupan dari kehidupan yang melibatkan dunia luar menjadi aktivitas yang stagnan di rumah saja.

Untuk mengatasi perasaan-perasaan negatif ini, perlu untuk mendamaikan tuntutan ID dan tuntutan SUPEREGO. Terdapat banyak tips untuk mengendalikan dan mendamaikan perasaan perasaan negatif, salah satunya adalah dengan pendekatan filosofi stoik atau stoisisme. Filosofi stoik atau stoisisme di ajarkan oleh seorang filsuf bernama Zeno di sebuah teras berpilar atau dalam bahasa yunani disebut stoa/stoik yang terletak di agora. Henry Manampiring di dalam bukunya menyebutnya “Filosofi teras” karena banyak orang yang kesulitan untuk menyebutkan “stoisisme”. Salah satu prinsip dari Filosofi Stoik ini adalah “Some things are up to us, some things are not up to us” yang dikemukakan oleh salah satu tokoh stoisisme yaitu Epictetus. Ada hal-hal yang di bawah kendali kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali kita. Prinsip ini disebut dikotomi kendali (dichotomy of control). Henry Manampiring dalam bukunya Filosofi Teras mengatakan bahwa Stoisisme mengajarkan bahwa kebahagian sejati itu berasal dari segala sesuatu yang dapat kita kendalikan. Kebahagiaan dan kedamaian sejati tidak bergantung pada hal hal yang tidak bisa kita dikendalikan. Kebahagiaan tidak didapatkan pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang tidak bisa dikendalikan adalah tidak rasional. Hal-hal yang bisa dikendalikan ini bersifat internal dalam diri manusia yaitu segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita sendiri. Hal hal yang tidak bisa kita dikendalikan adalah sesuatu hal yang sifatnya eksternal dari diri manusia yaitu segala sesuatu yang berada di luar pikiran dan tindakan manusia. Berkaca pada fenomena Covid19 ini, kita tidak dapat mengambil keputusan mengenai PSBB atau mencabut langsung kebijakan tinggal di rumah saja karena keputusan mengenai jalan dan pemberhentian PSBB ini merupakan kebijakan pemerintah dengan kata lain berada di luar diri kita. Artinya kita tidak dapat mengendalikan hal ini. Yang dapat kita lakukan adalah mengendalikan pikiran kita dengan menafsirkan kondisi ini dengan logis dan mengambil hikmah serta manfaat dari kondisi ini.

Epictetus berkata “It is not things that trouble us, but our judgement about things”. Bukan hal-hal atau peristiwa tertentu yang meresahkan kita, tetapi pertimbangan/pikiran/persepsi akan hal-hal dan peristiwa tersebut. Mungkin situasi sekarang ini yang mengharuskan kita berdiam diri di rumah itu tidak mengenakkan. Tapi menurut stoisisme, peristiwa ini sebenarnya bersifat netral. Persepsi kitalah yang membuatnya buruk. Dalam stoisisme, terdapat pemisahan antara objek-objek eksternal yang di tangkap oleh aparatus indrawi dan makna dari objek eksternal itu. Penyematan makna pada objek eksternal ini sering kali di pengaruhi oleh persepsi dan interpretasi sendiri yang belum tentu benar. Stoisisme mengajarkan kita untuk melawan interpretasi kita yang belum tentu benar ini, dalam artian melawan diri sendiri. Mungkin karena berada di rumah dalam waktu yang lama timbul pikiran pikiran negatif seperti mempertanyakan produktifitas diri, tidak dapat bersenang senang seperti ketika beraktivitas di luar dan pemenuhan kebutuhan sehari hari serta ke depannya. Walaupun situasi ini tidak dapat dikendalikan, stoisisme tidak mengajarkan kita untuk menyerah pada keadaan. Stoisisme tidak mengajarkan kita pasrah akan keadaan. Stoisisme mengajarkan kita untuk mencintai takdir. “Amor Fati”. Mencintai takdir, seperti yang dikatakan Friedrich Nietzsche. Stoisisme mengajarkan kita fokus hanya kepada hal hal yang dapat kita kendalikan. Kita tidak hanya duduk diam tetapi berjuang menjalaninya dan tidak menyerah pada keadaan. Memaksimalkan ikhtiar dan Allah yang menentukan.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah Keadaan (nasib) sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan (perilaku) yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. al-Ra’d: 11)”

Adapun hal-hal yang dapat kita lakukan adalah tidak menyalahkan keadaan dan fokus dengan mencari kebahagian di dalam rumah sendiri seperti
1. Menemukan hobi baru
2. Mengembangkan hobi lama yang dulu terhenti karena pekerjaan atau kesibukan
3. Mengembangkan kreatifitas, keterampilan atau skill diri
4. Menemukan bisnis baru
5. Ajang bersilaturahmi dengan kawan kawan lama lewat sosial media. Kawan kawan lama yang mungkin telah lama tidak komunikasi karena kesibukan masing-masing
5. Memanfaatkan momen Ramadhan yang tinggal menghitung hari ini sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah.
6. Dan lain-lain

Semoga bermanfaat. Mari memanfaatkan momen Ramadhan yang tinggal menghitung hari ini untuk mengalahkan diri sendiri dan meraih kemenangan di Idul Fitri nanti.

*) Penulis adalah Pegawai Imigrasi Kelas I Makassar

Facebook Comments
ADVERTISEMENT