Home Literasi Diam

Diam

0
Hamdika Hatta
Advertisement

Oleh : Hamdika Hatta*

Catatan Harian Sadika (1)

Hari itu, Senin tertanggal dua puluh dua bulan dua tahun dua ribu enam belas. Masalah itu bermula. Hingga saat ini, Sadika belum mampu memberikan penjelasan akar persoalan yang telah terjadi. Begitulah Sadika, lebih baik diam dan sabar menghadapi masalah ketimbang kasak kusuk menyelesaikan, apalagi terburu-buru. Baginya diam adalah kunci dari segalanya, diam itu emas, diam itu jalan menuju kesuksesan.

Sadika lahir di keluarga petani, dibesarkan dengan ketekunan dan kerja keras, ketimbang banyak bicara. Keluarga Sadika tidak ada yang berbakat menjadi politisi-orang yang pandai menjual janji. Ayah Sadika hemat bicara, kecuali ibunya yang kerap ngomel seperti ibu-ibu kebanyakan. Tapi bukan soal pergunjingan terhdap orang lain, melainkan mengomeli Sadika yang malas bangun pagi ke sekolah.

Sadika banyak belajar dari kedua orang tuanya; jangan sekedar bicara jika tidak subtansial, diam lebih banyak menyelesaikan masalah. Tapi kali ini, Sadika salah besar!
Karena diamnya, Nusa yang awalnya menaruh hati kini menutup diri. Karena diamnya, Sadika si penyabar dianggap penjagal. Sadika lebih kejam dari pagar makan tanaman. Bagi Nusa, Sadika tak berarti apa-apa. Dan, Nusa tak butuh jawaban bagaimana.

Nusa bersikeras dan bertahan pada firasatnya. Bahwa, Sadika telah mencuri uang Ari. Informasi yang tidak diverifikasi kebenarannya, telah berbuah pahit.

“Saya akan mengambil uang di tasmu, jika kunci motorku tidak kamu kembalikan,” ucap Sadika kepada Ari, sebelum kejadian itu. Nusa mendengarnya, itu baru satu alasan.

Alasan kedua Nusa, yang menurutnya paling kuat; sesaat setelah Ari menyadari uangnya hilang beberapa hari sebelumnya, Sadika adalah orang yang selalu terakhir keluar dari kelas untuk sholat dzuhur.

“Kamu sendiri yang bilang mau ambil uang Ari, kan? Kedua kamu yang paling terakhir keluar dari kelas. Mengaku mako! Tak kusangkanya kau mau makan teman sendiri, Dika!” desak Nusa. Sadika hanya diam.

Sadika ingin berdiri ingin menginggalkan Nusa. Nusa menarik lengannya. Sadika menepis dengan cepat.

“Kamu mau kemana? Selesaikan dulu ini persoalan. Kembalikan uangnya Ari. Mumpung masih kita berdua yang tahu dan saya yakin kamu yang mengambilnya,” Nusa kembali mendesak. Sadika hanya menatap tajam tanpa suara. Dia ingin meninggalkan lokasi, tapi tubuh Nusa menghadangnya.

“Kamu pengecut! Menyesal saya kenal kamu,” Nusa mendorong lengan kiri Sadika.

“Saya tidak mau berdebat, Nusa. Kalau kamu yakin, maka tak perlu mematahkan keyakinan orang. Karena yang benar tetaplah benar, dan yang salah pasti akan menemukan celah, sebab tidak ada kesalahan yang sempurna,” Sadika meninggalkan Nusa.

Sadika menuju belakang kelas. Menyendiri dan menuliskan kesedihannya. Sama seperti biasa, jika Sadika mengalami hal-hal tertentu dalam hidupnya.

Aku tak sehina yang kau kira. Meski aku lahir sebagai anak hina sekalipun.

Diamku adalah jawaban betapa aku ingin menjaga perasaanmu

Sebab, orang kuat itu bukan orang yang pandai berkelahi dan berdebat

Akan tetapi, yang kuat adalah orang yang bias menahan amarahnya ketika sedang marah

Belum selesai catatan itu, pulpen Sadika digenggam erat. Air matanya mengalir, ada sesuatu yang ia sembunyikan.

(bersambung)

*) Penulis adalah Ketua PD IPM Maros

Facebook Comments
ADVERTISEMENT