Beranda Mimbar Ide Ryano Panjaitan dan Gagasan Aktivis Preneur

Ryano Panjaitan dan Gagasan Aktivis Preneur

0
Muhammad Ryano Panjaitan
ADVERTISEMENT

Oleh : Furqan Jurdi*

Ada anak muda yang sedang berjalan membawa map untuk mencari pekerjaan, ada yang sedang memetik gitar memainkan musik, ada yang sedang memetik bunga untuk cintanya kepada sang gadis, ada yang sedang duduk dipojok perpustakaan membaca buku-buku, ada yang menulis di atas secarik layar, ada juga yang sedang memegang gadget bermain game, ada yang sedang berkeringat dikepung asap ban bekas di tengah jalan sambil berorasi.

Mereka semua adalah wajah pemuda Indonesia, yang akan mewarisi jalannya peradaban bangsa ini. Kepada mereka estafet kepemimpinan akan diarahkan. Diantaranya adalah kaum intelektual, sebagaian lagi anak-anak hedonis yang sedang menggeliat dalam pusaran gaya zaman. Dan mereka disebut kaum milenial.

Milenial seyogyanya bukanlah anak emas zaman, tapi mereka punya peran untuk membuat zaman keemasan. Mereka lahir dalam suasana kemajuan, tapi hanya menjadi budak industri tekhnologi.

Mereka adalah bonus demografi terbesar abad ini, selalu didengungkan dalam mimbar-mimbar politik dan bisnis. Pasar mereka adalah pasar potensial, apa saja dijual ke para milenial ini akan laku. Tapi mereka tidak sadar bahwa mereka adalah bonus demografi yang besar dan potensial itu.

Para pemuda milenial itu sebagian besar adalah “Kaum Intelektual” atau orang-orang yang terpelajar. Oleh Gramsci  kaum intelektual itu disebut sebagai seorang pendiri, organiser, pejuang yang militan dan mampu bertarung dalam segala medan.

Mereka mampu membangkitkan perlawanan budaya untuk hegemoni, dan mereka juga dapat menyiapkan perjuangan politik yang akan berpuncak pada perebutan kekuasaan dari kelompok dominan.

Kaum intelektual itu memiliki dua wajah, kata Gramsci, yaitu Intelektual Tradisional dan intelektual organik. Intelektual Tradisional adalah “kaum mapan” yang hidup hanya untuk mengikuti saja apa yang telah ada tanpa keinginan untuk merubahnya, mereka juga dalam struktur kekuasaan hanya mempertahankan status quo dengan membeo pada kekuasaan dan yang telah terkooptasi oleh penguasa, mereka yang mencari suaka dan mencari uang dengan aktivisme, bahkan mereka berada dalam comfort zone!

Sementara kaum intelektual organik adalah mereka yang membicarakan tentang hegemoni kekuasaan, melawan struktur elit yang mapan, dan meruntuhkan hegemoni itu. Mereka menantang kemapanan oligarki, menggugat hegemoni kuasa elit mapan maupun elit tua yang bercokol di puncak yang disebut gerontokrasi.

Jiwa dan semangat perlawanan itu diberi label aktivis. Yaitu mereka yang selalu “berpikir revolusioner”, membangun kekuatan untuk melawan hegemoni, mengorganisir pergerakan, membangun jaringan sosial dan politik yang kuat.

Tapi belakangan aktivis dikenal sebagai sekelompok demonstran, kaum anarkis, massa bayaran dan orang-orang yang sering membuat keributan. Mereka senang berkonvoi di jalan, memblokade jalan dengan barisan massa, membuat kemacetan ditengah lalu lintas masyarakat.

Ada juga aktivis pemuja kekuasaan, yang mencari suaka politik dari isu-isu kemanusiaan, menjual murah harga diri secara lahir batin demi kebutuhan perut.

Aktivis di indentikkan juga dengan advokasi-advokasi sosial, advokasi kemanusiaan dan mendampingi masyarakat dari berbagai tindakan represif negara.

Aktivis bukan hanya sebagai manusia organik yang hanya tergerak dengan kesadaran dan pengetahuanya untuk membangkitkan kesadaran perlawanan terhadap agenda-agenda penguasa.

Aktivis adalah mereka yang mampu menggunakan sumber-sumber kekuatan yang dimiliki yaitu ilmu pengetahuan, jaringan dan basis massa untuk berupaya melakukan empowerment, membangkitkan diri dan kesadaran masyarakat mengenai masalah-masalah sosial yang dialaminya.

Ryano Menggagas Aktivis Preneur

Di tengah kemelut akan gerakan aktivisme itu, ada ide cemerlang yang dibangun oleh seorang aktivis muda yang juga pengusaha Muda, namanya Muhammad Ryano Panjaitan. Ibarat gayung bersambut, ditengah kemelut gerakan aktivis, muncul ide cemerlang yang lahir dari gagasan aktivis muda dan juga pengusaha Muda, namanya Muhammad Ryano Panjaitan.

Ryano membangun sebuah kesadaran di tengah terperangkapnya para aktivis pada perjuangan seremonial. Ia membangun kesadaran para aktivis untuk bangkit merebut pos-pos ekonomi yang selama ini tidak pernah dideteksi oleh aktivis.

Ryano mengajak pada kesadaran yang paling berharga, bahwa Aktivis harus bekerja secara intelektual, dengan kemampuan yang dimiliki untuk memadukan potensi, baik potensi sosial, ekonomi, politik dan kemanusiaan. Aktivis seperti itu yang diharapkan oleh zaman sekarang dan akan datang.

Aktivis tidak lagi berkutat pada sumpah serapah  kekuasaan, mengutuk zaman dengan wajah yang lesu, dan meninju kemajuan dengan bertahan pada kebiasaan gerakan lama. Aktivis harus mengambil alih kendali ekonomi, dengan demikian ia akan mengambil alih kendali politik.

Karena itu sangat penting Paduan antara aktivisme dan jiwa interpreunship. Apabila itu mampu direalisasikan maka aktivis seperti itu disebut “aktivis jenius”. yaitu membangun basis aktivis berdasarkan pada basis kemandirian ekonomi, kecakapan dalam berfikir, kemampuan mobilisasi jaringan, dan kematangan dalam struktur lembaga. Hal itu dapat membuat aktivis menjadi sebuah “gelar” kebanggaan. Ryano Panjaitan menyebutnya sebagai Aktivist Preneur. Perpaduan antara intelektualitas dan jaringan adalah merupakan modal yang sangat besar dalam dunia usaha. Jiwa sosial dan jiwa kemanusiaan aktivis sangat mendukung akan terbentuknya jaringan usaha dan mempercepat perkembangannya dalam dunia bisnis.

Dengan demikian aktivis tidak hanya dikenal sebagai para demonstran belaka, tetapi dikenal sebagai “konglomerat”. Apabila realisasi gagasan aktivis Preneur ini mampu dijalankan maka akan lahir sebuah kekuatan baru di abad 21 yaitu kekuatan aktivis Preneur.

Tapi kita juga menyadari bahwa tidak semua aktivis memiliki jiwa usaha, namun bukan berarti tidak ada jalan bagi aktivis untuk menjadi pengusaha. Karena perkembangan zaman ini membuka peluang bagi siapa saja untuk membangun usaha dengan berbagai akses dan kemudahannya.

Dalam era 4.0, era terjadinya digitalisasi ekonomi yang terjadi cukup pesat, para pelaku usaha dituntut untuk dapat memiliki visi jauh ke depan serta menuntut mereka untuk dapat beradaptasi dengan berbagai macam perubahan.

Revolusi industri 4.0 dapat memberikan berbagai peluang baru bagi setiap jenis dan ukuran bisnis di Indonesia. Tak terkecuali bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Sementara bagi pelaku industri yang sudah mapan ini merupakan tantangan.

Anak milenial yang akrab dengan teknologi memiliki kesempatan emas untuk membuka usaha bisnis. Karena yang diandalkan dalam bisnis sekarang ini adalah kecanggihan teknologi dan kemampuan untuk membangun jaringan bisnis dan pasar. Tentu jaringan ini sangat kuat bagi aktivis.

Apabil aktivis mampu memadukan antara aktivisme dan jiwa interpreunship seperti yang menjadi gagasan Ryano Panjaitan, maka kembali lagi pada konsep Gramsci, bahwa perjuangan  kaum intelektual “organik” untuk meruntuhkan kekuasaan mapan termasuk kekuasaan oligarki ekonomi dan oligarki politik dapat tercapai.

Selama ini kita selalu mengutuk oligarki, mengecam persekongkolan antara pengusaha dan penguasa, tapi tidak pernah berupaya mengambil alih dunia usaha untuk mengakhiri persekongkolan itu.

Maka tawaran akan konsep Aktivis Preneur adalah jalan keluar dari kemelut yang selalu mengatakan “Aktivis itu adalah kaum dhuafa secara ekonomi”.

Saatnya gagasan aktivis Preneur itu menjadi jalan baru bagi anak-anak muda yang berjuang di organisasi kemahasiswaan untuk merebut kekuasaan. Bukan hanya secara organik seperti yang ajarkan Gramsci tetapi merebut hegemoni ekonomi ditangan oligarki ekonomi yang kuat.

Kaum intelektual dapat membangkitkan massa dengan ide-ide revolusionernya untuk menciptakan suatu perubahan. Hanya dengan integrasi antara aktivisme dan jiwa interpreunship yang mampu menjawab ide revolusioner itu.

Karena menciptakan perubahan tidak hanya sekedar “memupuk kelaparan”, tapi juga harus menciptakan kemapanan sosial yang kuat sehingga pergerakan perubahan itu bukan sekedar hanya untuk “amukan massa” tetapi juga hasrat kebangkitan dan kesejahteraan.

Perjuangan tidak akan mencapai keberhasilan apabila dipertahankan dengan memupuk kelaparan, struktur akan bubar apabila dibangun diatas derita yang panjang tanpa kejelasan, karena tujuan utama perjuangan adalah kesejahteraan dan keadilan sosial.

Wallahualam bis shawab.

*) Penulis adalah Ketua Pemuda Madani dan Aktivis Muda Muhammadiyah.

Facebook Comments
ADVERTISEMENT