Matakita.co, Parepare– Pementasan teater berjudul “Gugatan Hening dari Bau Pesisir Kota” sukses menggugah kesadaran masyarakat dalam Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Parepare di Aula Disdikbud Parepare, Sabtu (6/12/2025). Pertunjukan yang dibawakan siswa-siswi UPTD SMP Negeri 6 Parepare dari Sanggar Seni Matanna Tikka ini melampaui fungsi hiburan semata, menjelma menjadi refleksi mendalam sekaligus peringatan keras mengenai isu lingkungan. Kritik terhadap rendahnya kepedulian masyarakat terhadap kebersihan pesisir terasa semakin relevan, terutama di tengah suasana duka akibat bencana hidrometeorologi yang baru-baru ini melanda Sumatra.
Di bawah arahan Riko Adrianto, seniman yang ditugaskan sebagai sutradara dalam Program GSMS, panggung diolah menjadi ruang surealis yang merepresentasikan pesisir kota yang dipenuhi sampah. Naskah puitis garapannya menjadikan tumpukan sampah bukan sekadar properti, melainkan simbol yang menggugat secara diam kealpaan manusia. Muhammad Rahman Nur, yang bertugas sebagai Asisten Seniman sekaligus astrada, turut mengawal proses kreatif para pemain hingga pesan pertunjukan tersampaikan kuat dan terarah.
Dialog filosofis dan tragis yang disampaikan dari sudut pandang sampah itu sendiri menjadi tamparan moral bagi masyarakat. Kritik satir mencuat ketika sang tokoh melontarkan kalimat: “Setelah kalian menikmati isinya, kalian lemparlah bungkusnya. Enak sekali ya rupanya,” yang seketika membuat penonton terdiam, larut dalam keheningan emosional.
Daya gema kritik sosial dari teater ini menjalar melampaui batas pesisir Parepare. Pesan moral tentang ketidakpedulian lingkungan menemukan konteks yang menyakitkan dalam tragedi banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra, yang merenggut nyawa dan merusak infrastruktur. Bencana hidrometeorologi ini diyakini para ahli sebagai kombinasi cuaca ekstrem dan degradasi lingkungan yang berlangsung lama. Jika sampah di Parepare hanya mampu melancarkan “gugatan hening”, maka alam di Sumatra telah memberikan “jawaban” yang mematikan atas praktik perusakan lingkungan dari hulu hingga hilir.
Ungkapan dalam naskah bahwa sampah “hanya diam selama yang kami bisa… butuh waktu beratus-ratus tahun untuk kami dikatakan mati,” kini terdengar sebagai metafora getir. Di Sumatera, alam tidak lagi diam; ia bereaksi dengan kekuatan destruktif yang menegaskan bahwa kerusakan lingkungan bukan persoalan lokal, melainkan ancaman keselamatan nasional.
Pertunjukan yang melibatkan penonton untuk melemparkan sampah ke panggung sebagai simbol kontribusi setiap orang dalam kerusakan lingkungan, menjadi panggilan kolektif bahwa kesadaran dan tindakan nyata harus dimulai dari diri sendiri.
Muhammad Rahman Nur berharap karya ini menjadi alarm kesadaran yang tidak berhenti di ruang pertunjukan. “Seni pertunjukan adalah cara yang beradab untuk menyampaikan kritik dan mengajak masyarakat berpikir,” ujarnya. Lebih dari sekadar ajakan untuk menjaga kebersihan pesisir Kota Parepare, kini karya siswa ini menjadi pengingat bahwa ketidakpedulian dalam bentuk apa pun pada akhirnya akan dibayar mahal.
Citizen Reporter : Muhammad Rahman Nur







































