Matakita.co, Makassar – Achmad Fauzi merupakan salah satu perupa senior Makassar yang dikenal karena konsistensinya menafsirkan nilai-nilai budaya Bugis-Makassar ke dalam karya-karya lukis dan instalasinya. Dengan pengalaman panjang sebagai seniman, kurator, sekaligus pendidik, ia menjadi salah satu figur penting yang memberi warna pada dinamika seni rupa Makassar dalam tiga dekade terakhir.
Latar Belakang dan Pendidikan
Lahir di Makassar pada 26 Mei 1970, Achmad Fauzi tumbuh dalam lingkungan kota yang menjadi pusat pertemuan budaya Sulawesi Selatan. Ketertarikannya pada seni rupa semakin menguat ketika ia menempuh pendidikan di Jurusan Seni Rupa IKIP Ujung Pandang (kini Universitas Negeri Makassar) pada tahun 1989. Selain aktif berkesenian, ia juga mengabdi sebagai pendidik pada salah satu SMP negeri di Makassar, menjadikan ruang kelas sebagai bagian dari pengabdian kreatifnya.
Perjalanan Karier dan Kontribusi Seni
Di awal kariernya, Achmad Fauzi aktif mengisi ilustrasi cerpen, kartun, dan karikatur di berbagai media lokal. Eksplorasi tersebut kemudian mengantarnya pada fokus baru dalam seni lukis dan seni instalasi. Ia tumbuh menjadi salah satu perupa yang karya-karyanya hadir dalam berbagai pameran, baik di tingkat lokal, nasional, maupun luar negeri.
Kontribusi besarnya tampak melalui gagasan menghadirkan seri pertama Reli Rupa di Find Art Space bersama Ahmad Anzul dan Amrullah Syam. Pameran bertema Leang-Leang Art Project tersebut menjadi salah satu penanda penting yang meneguhkan Leang-Leang sebagai titik nol seni rupa Nusantara. Selain itu, keaktifannya dalam berbagai gerakan seni seperti FindArt dan Makassar Art Initiative Movement (MAIM) menunjukkan komitmennya dalam membangun ekosistem seni rupa kota ini.
Terbaru, ia memprakarsai proyek kolaboratif Gagasan 4 Memandang Rupa, melibatkan empat perupa Makassar yang karyanya divisualisasikan dalam bentuk belah ketupat—sebuah pendekatan simbolik tentang ruang pandang terhadap seni dan budaya.
Gaya, Tema, dan Filosofi Berkarya
Karya-karya Achmad Fauzi banyak menampilkan narasi personal yang bertaut dengan ingatan visual terhadap lingkungan budaya Sulawesi Selatan. Ia dikenal mengusung gaya abstrak-ekspresionis, mengolah kembali pengalaman dan lanskap tanpa menggambarkannya secara realis.
Meski tak menampilkan objek secara literal, jejak budaya Bugis-Makassar tetap kuat dalam setiap goresannya. Beberapa karya seperti “Alegori Sipakatau” dan “Alegori Ininnawa” menampilkan penghormatan pada nilai-nilai seperti kemanusiaan (sipakatau), ketahanan batin, dan semangat kolektif yang menjadi karakter masyarakat Bugis-Makassar.
Kanvas baginya bukan sekadar ruang visual, melainkan ruang ingatan dan ruang pencarian. Ia senantiasa membangun hubungan antara filosofi lokal, pengalaman personal, dan tafsir artistik yang lebih luas.
Pameran dan Pengakuan
Dalam dua tahun terakhir (2023–2024), Achmad Fauzi setidaknya telah menggelar empat pameran tunggal, sebuah pencapaian yang menegaskan produktivitas dan relevansinya di dunia seni. Selain berpameran di Makassar, karyanya juga melanglang ke Banyumas, Manado, dan pada tahun 2025 tampil dalam pameran kolaboratif di Balikpapan.
Kiprahnya tidak hanya terletak pada banyaknya pameran, tetapi juga pada pengaruhnya sebagai kurator, fasilitator, dan penggerak komunitas seni. Kehadirannya menjadi penghubung antara tradisi lokal dan perkembangan seni rupa kontemporer.
Figur Seni dan Kebudayaan
Dengan karya-karya yang kaya makna dan perjalanan panjang dalam dunia seni rupa, Achmad Fauzi menjadi salah satu tokoh yang menjaga hidupnya dialektika antara seni dan kebudayaan di Makassar. Dedikasinya pada tema budaya Bugis-Makassar tidak hanya memperkuat identitas kesenian lokal, tetapi juga menghidupkan kembali narasi kultural dalam dunia seni rupa Sulawesi Selatan.






































