Matakita.co, Makassar — Alauddin Informatics Festival (AIFEST) 2025 resmi ditutup dengan sukses besar di Benteng Fort Rotterdam. Selama empat hari penyelenggaraan, mulai 20 hingga 23 November 2025, festival yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika (HMJTI) UIN Alauddin Makassar ini menghadirkan kolaborasi besar antara seni dan teknologi yang menjadi ciri khas generasi muda saat ini.
Dengan mengangkat tema “Art & Technology”, AIFEST 2025 menjadi ruang pertemuan bagi seniman muda, desainer, pengembang teknologi, dan mahasiswa kreatif yang ingin mengekspresikan ide-ide inovatif mereka.
Branding Sprint Contest Membuka Kemeriahan Festival (20–21 November)
Rangkaian kegiatan AIFEST dibuka di Makassar Creative Hub melalui Branding Sprint Contest, kompetisi intens dua hari yang menantang peserta merancang identitas visual secara cepat namun tetap matang.
Ruang kompetisi dipenuhi energi:
para peserta berdiskusi, menyusun konsep, memutuskan visual style, dan mempresentasikan brand direction terbaik dalam waktu yang sangat terbatas. Dari sinilah lahir karya-karya visioner dengan pendekatan desain yang eksperimental dan progresif.
Festival Day di Benteng Fort Rotterdam (22–23 November)
22 November — Presentasi, Showcase, dan Interaksi Kreatif
Hari pertama festival dipusatkan pada sesi presentasi finalis, diikuti showcase karya, talkshow inspiratif, live mural, micro-workshop, dan area pameran teknologi & seni.
Suasana terasa inklusif—pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan kreator, mendengar cerita proses kreatif mereka, hingga mencoba instalasi yang dipamerkan.
23 November — Hiburan dan Penutupan Festival
Malam penutupan berlangsung meriah dengan deretan hiburan: musik, stand-up comedy, hingga DJ performance. Benteng Fort Rotterdam berubah menjadi ruang ekspresi yang santai, energik, dan penuh kegembiraan, menandai berakhirnya festival dengan kesan mendalam.
Ketua Panitia: AIFEST adalah Ruang Kolaborasi Generasi Muda
Ketua Panitia AIFEST 2025, Rifaldi Abdillah Al-Farizi, C.H, menegaskan bahwa tujuan utama festival ini adalah memberikan ruang berkarya bagi mahasiswa dan komunitas kreatif.
“AIFEST bukan hanya tentang kompetisi, tetapi tentang bagaimana mahasiswa bisa berkolaborasi, berkarya, dan menunjukkan bahwa kreativitas mereka layak mendapat panggung,” ujar Rifaldi.
Ia juga menambahkan bahwa AIFEST dirancang sebagai gerakan yang mempertemukan gagasan, komunitas, dan inovasi.
“Kami ingin AIFEST menjadi tempat tumbuh—bukan hanya bagi peserta, tapi juga bagi seluruh ekosistem kreatif di Makassar,” jelasnya.
Festival ini didukung oleh berbagai sponsor, kolaborator, serta media partner yang membantu menyebarkan semangat dan nilai AIFEST ke audiens yang lebih luas.
AIFEST 2025 Usai — Tradisi Kreatif yang Harus Dilanjutkan
Penutupan AIFEST 2025 bukanlah akhir, melainkan permulaan bagi tradisi baru di Makassar. Festival ini diharapkan terus menjadi agenda tahunan yang memperkuat peran mahasiswa dalam dunia seni dan teknologi, sekaligus menjadikan Makassar sebagai pusat kreativitas generasi muda.
AIFEST 2025 tidak hanya menjadi acara, tetapi sebuah gerakan kreatif yang menyatukan ide, bakat, dan visi besar anak muda tentang masa depan yang penuh inovasi






































