Matakita.co, Makassar- Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak.” Kalimat inilah yang menjadi bahan bakar bagi kami hingga akhirnya, hari yang dinanti itu tiba.
Rabu, 24 Desember 2025, bertempat di Hotel Four Point Makassar, menjadi saksi bisu atas sebuah mimpi yang akhirnya mewujud nyata. Bersama keluarga besar SIT Ibnu Sina Makassar dan disaksikan oleh seluruh peserta Parenting Akbar dan Penerimaan Rapor, kami dengan penuh rasa syukur merilis dua buah karya tulis yang merupakan hasil kontemplasi dari perjalanan panjang di dunia pendidikan:
1. “Pelangi di Balik Pintu Kelas TK”
Buku ini sangat spesial bagi kami. Buku ini ditulis oleh salah satu guru di SIT Ibnu Sina Makassar, Syamsinar Asis yang mengangkat sub-judul “Jejak Cinta Seorang Guru”, isinya mencoba memotret dunia anak-anak usia dini yang penuh warna seperti pelangi. Di balik tawa dan tangis mereka, ada dedikasi guru yang luar biasa. Buku ini adalah bentuk apresiasi untuk setiap pendidik yang berjuang dengan cinta.
2. “Sekolah Kehidupan: Cahaya dari Ruang Kelas” Buku ini ditulis dan merupakan hasil kolaborasi dari Ketua Yayasan (Dr. Hj. Irmawati Thahir, S.T.,M.Pd.) dan beberapa guru-guru hebat yaitu Muhammad Haerul, S.Pd., M.Pd., Gr, Syahid Munir Bin Syahrir, S.Pd, Juliza Adeliza, S.Pd., M.Pd, Indah Islamiah Hasanuddin, S.Si, Suaib, S.Pd, Umar, S.Pd.,Gr, Alfatihah, S.Pd, Hartati, S.Pd, Sriwati, S.Pd., Gr.
Buku ini adalah refleksi tentang betapa ruang kelas bukan hanya tempat transfer ilmu, melainkan sebuah laboratorium kehidupan. Di sana, kita tidak hanya mengajar, tapi juga banyak diajar oleh ketulusan dan dinamika para siswa. Ada “cahaya” yang selalu terpancar jika kita mau melihatnya dengan hati.

Satu momen yang paling menyentuh dalam acara peluncuran ini adalah saat Ketua Yayasan Ibnu Sina Makassar memberikan sambutannya. Beliau menyampaikan pesan yang sangat mendalam bagi kita semua peserta khususnya para pejuang pendidikan:
”Lahirnya buku ini bukan sekadar pencapaian pribadi seorang guru, melainkan bukti nyata bahwa semangat Ibnu Sina untuk mencetak peradaban terus menyala. Seorang pendidik yang menulis adalah ia yang sedang membangun jembatan ilmu yang takkan putus dimakan zaman. Kami sangat bangga, karena dari tangan-tangan guru yang penuh kasih inilah, hikmah dari ruang kelas tidak hanya menguap di udara, tapi terpatri dalam aksara yang bisa dipelajari oleh generasi mendatang.”
Kata-kata beliau menjadi pengingat bagi saya bahwa tugas seorang guru tidak berhenti saat bel pulang sekolah berbunyi. Tugas kita adalah memastikan bahwa nilai-nilai kebaikan yang kita ajarkan memiliki “napas” yang lebih panjang melalui tulisan.
Buku ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan kristalisasi pengalaman, tawa, dan air mata di dunia pendidikan.
Mengapa kami Menulis?
Menulis bagi kami adalah cara untuk mengabadikan hikmah agar tidak hilang tertelan waktu. Kami menyadari bahwa setiap huruf yang ditulis dalam buku ini memikul tanggung jawab besar. Harapan kami sederhana namun mendalam: semoga setiap kata yang terbaca bisa menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, meski raga tak lagi ada.
Seperti yang tertulis pada banner peluncuran: “Semoga setiap huruf yang ditulis dalam buku ini menjadi saksi kebaikan di akhirat kelak dan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir bagi penulisnya.”
Tujuan kami merilis buku ini bukan tentang predikat “Penulis”, melainkan tentang menitipkan pesan. Kami ingin buku ini menjadi teman duduk bagi rekan-rekan guru yang mungkin sedang lelah, atau bagi orang tua yang sedang mencari arah dalam mendidik buah hatinya.
Terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah mendukung proses lahirnya buku ini. Rekan-rekan guru, keluarga, dan tentu saja para pembaca sekalian.
Mari kita rayakan literasi dan jadikan membaca sebagai bagian dari perjalanan belajar kita. Semoga bermanfaat bagi dunia pendidikan di Indonesia.








































