Beranda Mimbar Ide Nganut Pancasila Haruslah Pancasilais

Nganut Pancasila Haruslah Pancasilais

0
Abdul Gani

Oleh : Abdul Gani*

Lebih dari 1400 tahun yang lalu nabi Muhammad menyampaikan ramalan melalui hadisnya, kelak diakhiruzzaman akan terjadi suatu peristiwa pembunuhan, dimana yang membunuh tak tau mengapa ia membunuh dan yang dibunuh tak tau mengapa ia dibunuh, peristiwa itu hanya akan mempertontonkan kezaliman yang diikuti oleh kebingungan-kebingungan. Itulah yang terjadi pada hari ini, fenomena kebangsaan belakangan ini dilanda peristiwa-peristiwa yang menggegerkan. diwamena 31 orang dibantai secara tidak manusiawi pada November 2019, padahal kita adalah bangsa yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Di Sulawesi tenggara oknum polisi menembak mati salah satu peserta demonstrasi juga pada bulan November ditahun yang sama, pada saat itulah demokrasi ini telah terciderai.

Realita yang terjadi dilapangan menyisahkan banyak kebingungan, karena antara konsep yang dianut sebagai landasan bernegara justeru Nampak kontradiktif dengan aktualisasi dilapangan. Katanya Bangsa kita ini bangsa yang berkarakter, nyatanya karakter apa yang kita mau banggakan.? Yang ada adalah sentiment primordialisme masih kerap terjadi. Kita ini bangsa yang besar, namun kalau kita mensejajarkannya dengan bangsa lain, dalam banyak hal kita masih dilihat kecil. ataukah besar itu hanya diukur lari luas wilayah semata.?

Sehingga fenomena ini menjadi autokritik bagi kita, apa yang salah dengan bangsa ini ?,kesalahan itu ada pada pemerintah sebagai pemegang kekuasaan yang menentukan arah perjalanan bangsa,? ataukah kita sebagai rakyat juga memiliki konstribusi moral atas berbagai peristiwa yang terjadi. Kalau kita melakukan pendekatan skriptualis, sebagaimana kisah firaun yang disebutkan dalam alquran bahwa ia menjadi pemimpin yang fasiq bagi kaum yang fasiq, karena .pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya, boleh jadi pemimpinnya seperti ini dengan gayanya karena kita sebagai rakyat yang seperti itu dengan cara kita. Sehingga dua kejelekan itu menjadi kombinasi yang sempurna untuk merepresentasikan kita sebagai bangsa yang kacau.

Pernah pada masa bani umayyah, salah seorang raja diberi pernyataan sekaligus pertanyaan oleh salah seorang rakyatnya, “pada masa umar dan abu bakar, keadaan kita ini baik-baik saja, tapi pada masamu terjadi banyak kekaacauan hingga perang saudara” jawab sang raja maka jadilah kalian rakyat sebagaimana rakyatnya umar dan abu bakar. Kisah singkat ini menjadi sindiran keras bagi kita bahwa segala dinamika kebangsaan yang terjadi pada hari ini merupakan kombinasi dari semua komponen yang ada.

Tulisan sederhana ini ingin mengajak pembaca untuk menghayati falsafah bangsa sebagai dasar kehidupan bernegara, yang tumbuh dengan spirit pancasila. generasi hari ini adalah pemimpin dimasa depan, oleh karena itu segala keganjilan yang terjadi dinegeri ini bisa diperbaiki lewat usaha mengajak generasi hari ini untuk memperbaikinya dengan kembali menerjemahkan falsafah berbangsa dalam kehidupan sehari-hari.

Kita adalah bangsa yang bertuhan, maka perilaku kehidupan berbangsa kita haruslah sejalan dengan nilai-nilai ketuhanan. Apa arti bertuhan jika ia hanya dibatasi dalam konteks keyakinan namun tidak dalam praksis kemanusiaan, Nilai luhur pancasila harus dapat diterjemahkan dalam menghadapi situasi bangsa hari ini. Indonesia sebagai bangsa yang berasas pancasila dengan Ketuhanan yang maha esa pada aliniah pertama, maka harus menunjukan perilaku-perilaku yang bertuhan. Pembunuhan hingga pembantaian tak dapat dibenarkan oleh ajaran agama manapun yang ada diberbagai belahan dunia. kata cak nur, “ketuhanan tanpa kemanusiaan dikutuk oleh tuhan itu sendiri. Silah pertama dan silah kedua memiliki keterkaitan yang erat, bahwa ketuhanan harus berujung pada kemanusiaan. “being human is given, but keeping our humanity is a choice” menjadi manusia itu fitrah, kita mau pake fitrah kemanusiaan itu adalah pilihan kita.

Banyak orang yang bertuhan namun tak banyak yang berkarakter ketuhanan, bertuhan adalah kesiapan individu dalam menerima Tuhan sebagai kepercayaan, sedangkan kebertuhanan adalah esesnsinya yang termanifestasi dalam perilaku manusia. Jauh dari dalam diri manusia itu ada sifat ketuhanan, ketika Tuhan adalah zat yang pengasih maka manusia dapat saling mengasihi, ketika Tuhan adalah zat yang maha pengampun, maka manusia dapat saling memaafkan, walau yang dapat menyandang kata maha Hanyalah ia sebagai Tuhan. Lalu mengapa begitu sulit bagi manusia-manusia hari ini melakoni potensi yang telah ada dalam dirinya.

Dalam pandangan algazali manusia pada dasarnya ibarat langit yang cerah, pada bagian tertentu ada yang ditutupi awan gelap gulita, maka tugas kita adalah menggeser kegelapan itu hingga bisa memancarkan cahaya bagi kehidupan semesta.

Poin ketiga yaitu persatuan, untuk sampai kepada cita-cita bersama maka seluruh komponen yang ada haruslah bersatu dalam membangun sesuai dengan perannya masing-masing. Sembilan orang yang membangun namun satu yang meruntuhkan tidak dapat mengantarkan kepada cita pembangunan. Meruntuhkan selalu lebih mudah dari pada membangun. Martin lutertin,mengatakan “Kita belajar hidup bersama sebagai saudara atau kita hancur bersama sebagai orang bodoh”. sentimen primordialisme tak membawa keuntungan apapun, yang ada hanyalah menyisahkan duka bagi mereka yang dijadikan tumbal.
kerakyatan, dalam demokrasi seluruh warga Negara mempunyai hak yang sama dalam menyampaikan pendapat, maka jika pada prakteknya hari ini mereka yang menyampaikan pendapat itu justeru dikekang dan dianggap sebagai momok yang menggerogoti Negara, itu justeru mempertontonkan sebuah kekuasaan yang bertentangan dengan asas berdemokrasi.
Keadilan sosial, adil ialah engkau tidak melakukan sesuatu kepada orang yang engkau tidak ingin orang lain lakukan itu padamu.
Berteiak “aku pancasila dan aku NKRI” tidak cukup untuk menjadikanmu paling pancasilais dan paling NKRI, karena apa arti slogan jika tak terwujud dalam sikap. Sebaliknya jikapun engkau tak meneriakkannya tapi mampu diterjemahkan secara actual, maka itulah yang dapat disebut pancasilais. Nganut pancasila HARUSLAH PANCASILAIS. Segala Tembok Ego yang menghalangi adalah musuh besar yang harus diruntuhkan.

*) Penulis adalah Pengurus DPD IMM Sulsel

Facebook Comments Box
ADVERTISEMENT