Cerdas Dalam Bertindak “Eksis” Di Media Sosial
Penulis : Rahmawanda
MataKita.co, Opini – Hampir semua kalangan masyarakat telah mengenal media sosial. Media sosial merupakan sebuah media yang diciptakan untuk semua orang, media sosial merupakan sebuah media daring yang para penggunanya dapat dengan mudah berpartisipasi berbagi dan menciptakan berbagai macam kekreatifan. Ada beberapa macam media sosial yang digunakan masyarakat di Hampir semua kalangan seperti Youtube, WhatsApp, Facebook, Instagram, Line, Twitter, dan masih banyak lagi. Kamis (20/05/2020).
Seseorang pada umumnya mempergunakan media sosial sebagai sarana komunikasi. Para penggunanya pun menjadikan media sosial sebagai tempat berbagi, bercerita, mencari teman atau pasangan, dan mencari penghasilan. Banyak yang merasa tertolong dengan adanya media sosial namun tidak sedikit orang yang justru terjerumus dalam tindak kriminal dan berbagai pelanggaran akibat terlalu bebas dalam menggunakan media sosial.
Seperti sekarang ini banyak orang yang berlomba-lomba ingin tampil eksis di berbagai media sosialnya mereka berusaha sebisa mungkin menampilkan kekreatifan masing-masing agar dapat eksis hampir segala macam kekreatifan bisa kita jumpai di media sosial sekarang ini. Menyanyi, masa, menarik, menulis, menggambar, berfoto segalanya ada dengan tujuan sebagai hiburan dan pembelajaran.
Namun sebagian dari mereka yang menggunakan media sosial menampilkan sesuatu yang justru mengundang perkelahian dan mengundang emosi para pengguna media sosial yang lain. Seperti pada beberapa kasus media sosial yang saat ini lagi hangat-hangatnya dibahas yaitu, seorang ABG yang memplesetkan doa buka puasa yang dianggap oleh masyarakat yang khususnya beragama Islam sebagai penghinaan atas doa atau agama mereka, yang kedua kasus sembako yang bersih sampah yang sempat viral di media sosial oleh salah seorang YouTubers yang berniat untuk membuat konten hiburan akan tetapi dianggap tidak bermoral oleh masyarakat karena dengan sengaja memberi sembako kepada para waria dan anak-anak yang bersihkan sampah yang dilakukannya hanya untuk sebuah konten dalam Youtube tanpa mempertimbangkan akibat yang akan muncul dari tindakan tersebut. Dan masih banyak lagi kasus-kasus lain di media sosial dengan tujuan hiburan malah mendapat bencana bagi dirinya.
Para pelaku tidak hanya mendapat hukuman sesuai aturan undang-undang yang terkait, akan tetapi mereka juga mendapatkan hukuman tersendiri dalam masyarakat. Mereka dianggap sebagai pembuat onar ,dianggap sebagai sampah dalam masyarakat. Itu merupakan hukuman yang teramat sulit menurut saya. Saat kita kehilangan segalanya, di jauhi oleh masyarakat sekitar, di bully karena tindakan yang mereka perbuat yang awalnya dengan tujuan hiburan malah berakhir derita. Demi konten dan followers mereka mengabaikan sebab di kemudian hari.
Dilihat dari sisi teoritis nya saya menggunakan teori konflik sosial dalam memandang fenomena tersebut. Pada zaman millennial seperti sekarang ini, konflik sosial bahkan dapat dengan mudah terjadi tanpa mengenal ruang dan waktu melalui media sosial dan jejaring internet lainnya. Konflik-konflik atau kasus seperti di atas pada umumnya bersifat spontan dipicu oleh dorongan sesaat yang dilandasi dengan alasan sepele hanya demi memuaskan diri sendiri yang pada akhirnya menciptakan konflik antara pihak satu dengan pihak-pihak yang merasa dirugikan.
Mengenai masalah-masalah di atas, tidak salah jika kita ingin eksis ingin tampil lebih Dan dikenal banyak orang. Namun Kita juga harus mengerti Tidak semua yang kita lakukan yang kita anggap bukan masalah semua orang akan berpikiran sama. Pintar pintarlah dalam memilih dan membuat sebuah konten atau postingan dalam media sosial jangan sampai yang awalnya hanya untuk hiburan justru menjadi bencana untuk diri sendiri.
Kurangnya wawasan atas batasan antara hal privat dan publik juga dapat menimbulkan banyak dampak negatif seperti kasus-kasus tersebut. Kita hidup di masa dimana segala hal yang kita lakukan di media sosial merupakan bom yang sewaktu-waktu dapat menghancurkan apabila kita salah dalam bertindak.
Kenali dirimu dan kenali lingkunganmu agar kita dapat hidup saling berdampingan satu sama lain tanpa ada yang dirugikan.
Ini hanya opini tunggal saya, jika ada kesalahan dalam kata ataupun kalimat saya pribadi meminta maaf karena di sini saya baru belajar. Sekian Terima kasih semoga bermanfaat.
(El)








































