Matakita.co, Jakarta – Besarnya potensi ekonomi biru Indonesia belum sepenuhnya bergerak sepadan di tingkat daerah. Kesenjangan antara kebijakan nasional dan implementasi di wilayah pesisir, kepulauan, serta kawasan perbatasan masih menjadi titik lemah pembangunan, meski narasi ekonomi biru kian sering digaungkan. Persoalan tersebut mengemuka dalam Dialog Strategis Nasional bertajuk “Ekonomi Biru Indonesia: Menjembatani Kebijakan Nasional dengan Implementasi Daerah” yang digelar Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Pusat, Beyond Borders Indonesia, dan Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara di Universitas Sahid Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Ketua Umum JMSI Pusat Teguh Santosa menegaskan, ekonomi biru berisiko berhenti sebagai jargon pembangunan apabila suara dan realitas daerah tidak masuk ke arus utama perumusan kebijakan nasional. Di titik inilah, menurutnya, media daerah memegang peran strategis.
“Media daerah menentukan apakah kebijakan pusat benar-benar bekerja di lapangan atau hanya berhenti di dokumen. Tanpa fungsi pengujian dari media lokal, banyak kebijakan kehilangan konteks,” ujar Teguh.
Ia menambahkan, JMSI memposisikan diri sebagai penghubung antara kebijakan nasional dan kondisi riil daerah. Upaya tersebut dilakukan
melalui penguatan narasi media lokal, distribusi konten lintas provinsi, serta penjagaan standar etika dan profesionalisme pers agar isu ekonomi biru tidak hanya elitis, tetapi menyentuh kebutuhan masyarakat pesisir.
Dialog ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Guru Besar Universitas Indonesia Martani Huseini, Guru Besar Politeknik AUP Maman Hermawan, serta Bupati Maluku Tenggara Muhammad Thaher Hanubun. Forum diikuti akademisi, mahasiswa, wartawan, serta anggota JMSI dari berbagai daerah.
Dalam paparannya, Hanubun mencontohkan Maluku Tenggara sebagai wilayah dengan potensi ekonomi biru dan pariwisata yang tumbuh relatif konsisten. Sepanjang 2025, kunjungan wisata ke Kepulauan Kei menunjukkan tren peningkatan, dengan puncak kunjungan terjadi pada Juli hingga Oktober seiring musim liburan nasional dan penguatan promosi digital.
Data pemerintah daerah mencatat, destinasi yang paling banyak dikunjungi wisatawan meliputi Air Terjun Soindrat (18.275 pengunjung),
Bukit Indah Bombay (16.275), Air Terjun Bombay (14.250), Pantai Ngursarnadan (13.851), dan Pantai Ngurtafur (10.910). Wisatawan masih didominasi domestik dan lokal, namun jumlah wisatawan mancanegara meningkat signifikan pada semester kedua 2025.
Pelaksana tugas Kepala Dinas Pariwisata Maluku Tenggara Victor E. Budhi Toffi menambahkan, Kota Langgur berperan sebagai simpul utama transportasi dan layanan publik. Keberadaan Bandara Karel Sadsuitubun menjadi pintu awal pengalaman wisata di Kei, sekaligus faktor penting dalam pergerakan ekonomi lokal.
Forum ini menegaskan satu pesan kunci: tanpa media daerah yang aktif, kritis, dan berperspektif lokal, ekonomi biru berpotensi terus menjadi wacana pembangunan. Sebaliknya, dengan penguatan peran media lokal, ekonomi biru dapat menjadi mesin kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat pesisir dan kepulauan.






































