Oleh : Andi Hendra Dimansa
(Pemerhati Lingkungan dan anggota SHI)
Di hampir setiap sudut pembangunan, dari jalan desa yang baru dicor hingga gedung-gedung bertingkat di pusat kota, selalu ada benda yang sama: sekantong sak semen. Ia hadir dalam diam, diangkut oleh tangan-tangan kasar buruh bangunan, dituang perlahan ke dalam adukan, lalu mengeras menjadi fondasi. Tak pernah menjadi headline, tak pernah diperdebatkan di panggung politik. Namun justru dari benda yang paling biasa inilah wajah pembangunan sebuah bangsa dibentuk.
Selama ini, pembangunan kerap dibicarakan dalam bahasa angka dan target. Panjang jalan tol, nilai investasi, pertumbuhan ekonomi, atau jumlah proyek strategis nasional. Narasi kemajuan dirangkai dalam grafik dan laporan. Tetapi di balik semua itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan secara serius: siapa yang sesungguhnya menopang pembangunan itu secara struktural? Dari mana material dasarnya berasal, siapa yang menguasai produksinya, dan sejauh mana negara memiliki kendali atas industri-industri yang menjadi fondasi pembangunan.
Di titik inilah nasionalisme menemukan makna yang lebih membumi. Bukan sebagai semboyan atau upacara, melainkan sebagai kesadaran tentang kemandirian. Sebuah bangsa bisa membangun dengan cepat, tetapi tanpa kemandirian industri, kecepatan itu berpotensi rapuh. Semen, sebagai material dasar pembangunan fisik, menjadi cermin yang jujur untuk melihat sejauh mana nasionalisme bekerja dalam praktik, bukan sekadar dalam wacana.
Industri semen memiliki posisi yang unik. Ia bukan industri konsumsi biasa, melainkan industri dasar yang menopang hampir seluruh sektor pembangunan. Infrastruktur, perumahan, kawasan industri, fasilitas pendidikan dan kesehatan semuanya bergantung pada pasokan semen yang stabil dan terjangkau. Ketika industri semen terganggu, efeknya menjalar ke mana-mana. Karena itu, banyak negara menempatkan industri ini dalam kerangka kepentingan strategis nasional.
Kemandirian industri semen bukan berarti menutup diri dari dunia luar. Dalam konteks global saat ini, interaksi dengan modal dan teknologi asing adalah keniscayaan. Namun kemandirian berarti negara tetap memiliki ruang untuk mengatur, mengarahkan, dan menjaga keseimbangan. Ia berarti memastikan bahwa pembangunan hari ini tidak menciptakan ketergantungan struktural di masa depan.
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat dinamika pembangunan di kawasan timur Indonesia. Sulawesi Selatan, dalam hal ini, memiliki posisi yang sangat menentukan. Secara geografis dan logistik, provinsi ini berfungsi sebagai gerbang Indonesia Timur. Pelabuhan-pelabuhan utama, jaringan distribusi, serta kedekatannya dengan berbagai kawasan pertumbuhan menjadikan Sulawesi Selatan bukan hanya sebagai wilayah konsumsi, tetapi juga pusat produksi dan distribusi material pembangunan.
Seiring percepatan pembangunan infrastruktur dan kawasan industri di Indonesia Timur, kebutuhan semen meningkat tajam. Jalan,
pelabuhan, bandara, kawasan ekonomi khusus, hingga perumahan rakyat semuanya membutuhkan pasokan yang besar dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, siapa yang menguasai produksi semen di Sulawesi Selatan memiliki pengaruh yang jauh melampaui batas administratif provinsi. Ia ikut menentukan ritme pembangunan kawasan timur secara keseluruhan.
Investasi tentu memainkan peran penting dalam menjawab kebutuhan tersebut. Modal besar memungkinkan peningkatan kapasitas
produksi, efisiensi distribusi, dan penerapan teknologi yang lebih maju. Dari sudut pandang pembangunan jangka pendek, kehadiran investasi sering kali dipandang sebagai solusi. Lapangan kerja tercipta, produksi meningkat, dan proyek-proyek bisa berjalan tanpa hambatan pasokan.
Namun investasi tidak pernah hadir di ruang hampa. Ia membawa struktur kepemilikan, orientasi pasar, dan kepentingan jangka panjang tertentu. Dalam industri dasar seperti semen, dinamika ini perlu dibaca dengan hati-hati. Bukan untuk menolak investasi, melainkan untuk memastikan bahwa investasi tersebut tidak menggeser keseimbangan industri secara perlahan tetapi pasti.
Dalam lanskap inilah kehadiran PT Conch produsen semen besar asal Tiongkok yang beroperasi di Indonesia. Hal itu, dapat dibaca sebagai bagian dari dinamika yang lebih luas. Sebagai salah satu pemain dengan kapasitas produksi dan jangkauan distribusi yang signifikan, perusahaan ini menunjukkan bagaimana industri semen bergerak menuju skala yang semakin besar dan terintegrasi. Efisiensi, kemampuan produksi, dan jaringan distribusi yang luas menjadi kekuatan utama.
Pada saat yang sama, kehadiran pemain besar selalu membawa implikasi struktural. Ketika kapasitas dan distribusi terkonsentrasi pada segelintir entitas, ekosistem industri berubah. Produsen nasional yang lebih kecil menghadapi tantangan untuk bersaing. Ruang bagi tumbuhnya kapasitas lokal menjadi semakin sempit. Ini bukan persoalan satu perusahaan semata, melainkan persoalan arah industri secara keseluruhan.
Dalam jangka pendek, perubahan ini mungkin tidak terasa sebagai masalah. Pasokan tetap tersedia, pembangunan tetap berjalan, harga relatif stabil. Namun dalam jangka panjang, konsentrasi industri berpotensi mengurangi fleksibilitas kebijakan negara. Ketika pusat pengambilan keputusan semakin jauh dari kepentingan nasional dan regional, negara bisa kehilangan ruang manuver dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kemandirian.
Kemandirian industri nasional jarang runtuh secara tiba-tiba. Ia lebih sering terkikis secara perlahan, melalui perubahan struktur pasar, pergeseran kepemilikan, dan dominasi distribusi. Proses ini berlangsung senyap, hampir tak terlihat, hingga suatu saat negara menyadari bahwa kendali atas industri dasar telah melemah.
Dalam konteks semen, kehilangan kendali berarti kehilangan kemampuan untuk mengarahkan pembangunan secara utuh. Harga, distribusi, dan prioritas produksi tidak lagi sepenuhnya berada dalam ruang kebijakan nasional. Sak semen, yang tampak sederhana, ternyata menyimpan implikasi strategis yang besar.
Selain persoalan ekonomi, industri semen juga membawa dampak sosial dan lingkungan yang perlu dikelola dengan cermat. Ekspansi produksi sering kali bersinggungan dengan ruang hidup masyarakat, sumber daya alam, dan tata ruang wilayah. Di wilayah strategis seperti Sulawesi Selatan, dampak ini memiliki dimensi regional yang lebih luas. Pembangunan yang pesat membutuhkan tata kelola yang kuat agar tidak menciptakan ketimpangan baru atau konflik laten.
Isu-isu ini sering kali tenggelam di balik narasi besar pembangunan. Padahal, nasionalisme yang matang justru diuji pada kemampuan sebuah bangsa mengelola dampak-dampak tersebut secara adil dan berkelanjutan. Bukan hanya membangun, tetapi memastikan bahwa pembangunan tidak mengorbankan fondasi sosial dan ekologisnya.
Nasionalisme, dalam pengertian ini, bukanlah konsep yang keras atau eksklusif. Ia bekerja dalam diam, melalui kebijakan industri, regulasi pasar, dan keputusan-keputusan teknis yang jarang menarik perhatian publik. Namun dari keputusan-keputusan inilah arah bangsa ditentukan.
Ketika negara mampu menjaga industri dasarnya tetap kuat dan berdaulat, nasionalisme menemukan bentuknya yang paling konkret. Ia tidak perlu diteriakkan, karena hadir dalam kapasitas nyata untuk menentukan masa depan sendiri. Sak semen yang setiap hari diangkat dan dituangkan oleh masyarakat menjadi simbol kerja kolektif yang sesungguhnya. Di sana, nasionalisme bukan jargon, melainkan praktik.
Pembangunan memang tidak bisa dihentikan. Ia adalah kebutuhan dan keniscayaan. Namun cara kita membangun akan menentukan kualitas kemandirian kita sebagai bangsa. Apakah kita membangun dengan kesadaran akan fondasi yang kita gunakan, atau sekadar mengejar kecepatan tanpa memperhatikan siapa yang menopangnya.
Nasionalisme dalam sekantong sak semen mengajak kita melihat pembangunan dari sudut yang lebih tenang, tetapi juga lebih jujur. Bahwa kemajuan bukan hanya soal seberapa banyak yang dibangun, melainkan seberapa kuat dan berdaulat fondasi yang kita miliki. Pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang membangun dengan cepat, tetapi bangsa yang tahu siapa yang menopang bangunannya dan memastikan bahwa fondasi itu tetap berada dalam kendali bersama.







































