Beranda Berdikari Ekonomi Tiga Tahun Berjalan, Proyek SustainaBlue Perkuat Ekonomi Biru Berkelanjutan di Indonesia dan...

Tiga Tahun Berjalan, Proyek SustainaBlue Perkuat Ekonomi Biru Berkelanjutan di Indonesia dan Malaysia

0
Matakita.co, Makassar — Proyek SustainaBlue mencatat sejumlah capaian setelah tiga tahun memperkuat kolaborasi internasional dalam pengembangan ekonomi biru berkelanjutan di Indonesia dan Malaysia. Melibatkan 11 mitra dari empat negara, proyek yang didukung Uni Eropa ini telah menghasilkan pusat pengembangan ekonomi biru, platform digital, hingga program peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Salah satu mitra yang terlibat adalah PT Pandu Bina Sejahtera dari Indonesia. Perusahaan ini berkolaborasi dengan Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), serta sejumlah perguruan tinggi dan organisasi dari Malaysia, Yunani, dan Siprus.

Proyek yang didanai bersama oleh Uni Eropa melalui program Erasmus+ tersebut mengembangkan pendekatan Quintuple Helix, yakni model kolaborasi yang mengintegrasikan perguruan tinggi, industri, pemerintah, masyarakat sipil, dan lingkungan.

Pendekatan ini diarahkan untuk memastikan pengembangan ekonomi kelautan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan ekosistem laut.

Presiden Aegean Rebreath, Sarelakos Giorgos, mengatakan SustainaBlue dirancang untuk mempertemukan inovasi, kebijakan, dan pendidikan dalam satu kerangka pembangunan berkelanjutan.

“Melalui SustainaBlue dan pendekatannya yang menyeluruh, kami memastikan bahwa setiap inovasi, kebijakan, dan upaya pendidikan mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga kesehatan ekosistem laut bagi generasi mendatang,” ujar Giorgos dalam keterangan proyek, Jumat (9/10/2026).

Bangun Pusat Ekonomi Biru di Empat Perguruan Tinggi

Salah satu capaian utama SustainaBlue adalah pembentukan empat Sustainable Blue Economy Centers (SBECs) atau Pusat Ekonomi Biru Berkelanjutan di perguruan tinggi mitra di Indonesia dan Malaysia.

Pusat tersebut dirancang sebagai ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, pelaku industri, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengembangkan pengetahuan, inovasi, serta praktik ekonomi biru.

Keberadaan SBECs didukung kerangka kerja bersama, mandat kelembagaan, dan rencana aksi tahunan untuk memastikan keberlanjutan program.

Selain membangun pusat pengembangan ekonomi biru, konsorsium SustainaBlue juga melakukan pemetaan pemangku kepentingan dan memperluas jejaring kerja sama melalui sejumlah nota kesepahaman.

Keterlibatan PT Pandu Bina Sejahtera menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara dunia usaha, perguruan tinggi, dan organisasi internasional dalam pengembangan ekonomi biru berkelanjutan.

Kolaborasi tersebut juga menghasilkan Blue & Green Acceleration Platform, sebuah platform digital yang mempertemukan pengetahuan, peluang kerja sama, dan pengalaman praktis dalam pengembangan ekonomi biru dan hijau.

Platform ini diharapkan menjadi ruang pertukaran informasi sekaligus memperluas akses terhadap inovasi dan jejaring kolaborasi lintas sektor.

Identifikasi Kebutuhan Keterampilan Tenaga Kerja

Selain penguatan kelembagaan, SustainaBlue menaruh perhatian pada kesiapan sumber daya manusia menghadapi perubahan kebutuhan industri kelautan.

Melalui kajian pasar tenaga kerja di Indonesia dan Malaysia, proyek ini mengidentifikasi kesenjangan keterampilan teknis, digital, dan hijau yang dibutuhkan dalam pengembangan ekonomi biru berkelanjutan.

Hasil kajian tersebut menjadi dasar penyusunan rekomendasi penguatan pendidikan dan pelatihan, khususnya peningkatan keterampilan digital, pengembangan pendidikan vokasi, serta perluasan kerja sama antara perguruan tinggi dan industri.

Langkah ini dinilai penting untuk menjembatani kebutuhan dunia kerja dengan kompetensi lulusan pendidikan tinggi.

SustainaBlue juga menyelenggarakan berbagai program peningkatan kapasitas bagi tenaga akademik dan administrasi di empat perguruan tinggi mitra.

Program tersebut dilaksanakan melalui webinar, lokakarya, modul pembelajaran khusus, serta pelatihan Training of Trainers (ToT) secara daring.

Melalui kegiatan ini, tenaga akademik dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan kurikulum inovatif yang relevan dengan kebutuhan industri ekonomi biru dan hijau.

Perkuat Kolaborasi Internasional

SustainaBlue melibatkan 11 organisasi dari empat negara. Selain tiga mitra Indonesia, konsorsium ini mencakup Universiti Malaysia Terengganu, Universiti Sains Malaysia, dan Persatuan Pembangunan Akuakultur Malaysia.

Dari Yunani, proyek ini melibatkan University of the Aegean, Aegean Rebreath, dan Symplexis. Sementara itu, mitra dari Siprus terdiri atas Oceanography Centre–University of Cyprus dan Center for Social Innovation.

Kerja sama lintas negara tersebut memungkinkan pertukaran pengetahuan dan pengalaman, termasuk penerapan praktik kolaborasi Quintuple Helix yang telah dikembangkan di negara-negara anggota Uni Eropa.

Praktik tersebut kemudian disesuaikan dengan karakteristik sosial dan ekonomi Indonesia serta Malaysia agar lebih relevan dengan kebutuhan pembangunan di kedua negara.

Melalui berbagai capaian itu, SustainaBlue diharapkan dapat memperkuat peran perguruan tinggi dan dunia usaha dalam menghasilkan inovasi, meningkatkan kompetensi tenaga kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kelautan yang berkelanjutan.

Proyek bertajuk Enhancing the Blue Economy in Higher Education Institutions in Malaysia and Indonesia ini juga diarahkan untuk memodernisasi pendidikan tinggi dan meningkatkan kesiapan kerja mahasiswa pada sektor ekonomi biru.

Informasi mengenai SustainaBlue dan pengembangan Blue & Green Acceleration Platform dapat diakses melalui situs resmi SustainaBlue.

Facebook Comments Box