Matakita.co, Sidrap- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 115 Universitas Hasanuddin (UNHAS) melaksanakan program kerja individu yang berjudul “Sosialisasi Pembuatan Alat Penabur Pupuk dari Bahan Sederhana” yang penanggungjawabnya adalah Nur Rahmat Sukardi, mahasiswa Program Studi Sastra Jepang di Desa Otting, Kecamatan Pitu Riawa, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) pada Senin (26/01/2026).
Program Kerja ini lahir sebagai solusi dari masalah efisiensi dari segi waktu dan tenaga dalam penaburan pupuk. Cara penaburan pupuk yang berbentuk bulir pada umumnya ditabur langsung pada bagian tanah dekat akar tanaman, atau pada penaburan dengan cakupan yang luas pada umumnya hanya akan ditebar dengan cara dilempar. Hal ini mengakibatkan berkurangnya keefektifan pupuk dalam memberikan nutrisi tambahan pada tanaman, serta kurang efisien dari segi tenaga dan waktu.
Atas permasalahan itulah, Rahmat memberikan sosialisasi atau peragaan cara pembuatan alat penabur pupuk yang dapat mengefisienkan tenaga serta waktu, serta meningkatkan keefektifan pupuk karena cara penebarannya lebih terfokus pada bagian tanah dekat akar tanaman tersebut. Ditambah alat yang diperagakan dibuat dengan bahan yang sering dijumpai sehari-hari yaitu pipa, ban dalam bekas, dan kayu.
Proses pembuatannya terbagi menjadi 2 tahap, yaitu tahap pelubangan pipa dan tahap perakitan alat. Pada tahap pelubangan pipa, dari 4 jenis pipa (Pipa dengan ukuran 2 inchi, 1 inchi, ¾ inchi, dan ½ inchi) yang perlu dilubangi hanyalah pipa ukuran ¾ inchi dan ½ inchi. Setelah itu, pada tahap perakitan tiap komponen dirakit dengan sambungan pipa serta penutup pipa, sehingga jadilah alat penabur pupuk yang mudah untuk dibuat, bahan yang digunakan mudah didapatkan, dan biaya pembuatan yang ramah di kantong.
Pada sosialisasi alat penabur pupuk ini, para warga sangat antusias dalam melakukan uji coba pada sesi diskusi dan tertarik untuk mencoba membuat alat ini, sehingga besar harapan warga untuk diterbitkannya buku panduan cara pembuatan alat ini. Alasan dari antusias warga untuk menggunakan alat ini diterangkan oleh Kepala Pembangunan Masjid Nurul Huda Dusun 2 Jampu, Hj. Mustamar.
“Kebanyakan penduduk Desa Otting ini punya kebun lombok dek, jadi bisaki terbantu kalau ada ini alat. Nanti saya mau coba pakai di kebun lombokku di rumah” ujarnya.
Dari alasan yang disampaikan oleh Hj. Mustamar, dapat dipahami bahwa inovasi alat ini memiliki potensi dalam perkembangan produksi cabai di Desa Otting. (**)






































