Beranda Kampus Post Traumatic Stress Disorder; Mari Mendukung Kondisi Mental Para Korban  

Post Traumatic Stress Disorder; Mari Mendukung Kondisi Mental Para Korban  

0
Nurul Amaliah A. Natsir

Oleh : Nurul Amaliah A. Natsir*

Setiap tahun, Bumi Pertiwi kita ini dilanda oleh bencana alam. Mulai dari banjir, tanah longsor, puting beliung, tsunami, kekeringan dan masih banyak lagi. Di mana kejadian-kejadian tersebut menimbulkan kerugian seperti kerusakan ekosistem, kehilangan harta benda, korban jiwa hingga dapat menimbulkan masalah kesehatan. Salah satu kerugian masalah kesehatan yang banyak dialami oleh korban namun masih terabaikan dan nyatanya hal ini patut mendapat perhatian dan membutuhkan penanganan yakni terkait kondisi kesehatan mental para korban.

Menurut survei oleh Global Health Data Exchange pada tahun 2017, yaitu 27,3 juta orang di Indonesia menderita masalah kesehatan mental.

Apa kesehatan mental itu?

Berdasarkan UU Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, kesehatan jiwa didefinisikan sebagai kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. Definisi lain yang dikemukakan oleh salah satu ahli kesehatan, Merriam Webster menyatakan kesehatan mental atau kesehatan jiwa merupakan suatu keadaan emosional dan psikologis yang baik, dimana individu dapat memanfaatkan kemampuan kognisi dan emosi, berfungsi dalam komunitasnya, dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Berdasarkan pengertian di atas, penulis menyimpulkan bahwa kesehatan mental adalah kondisi mental yang baik dan memungkinkan seseorang untuk bekerja secara optimal dalam komunitas serta kehidupannya sehari-hari.

Lalu, mengapa kondisi kesehatan mental seseorang dapat terganggu?

Gangguan kesehatan mental merupakan hal yang kompleks. Beberapa faktor yang memengaruhi kondisi kesehatan mental seseorang dikategorikan dalam 3 dimensi besar yaitu biologis, psikologis, dan sosial budaya. Ketiga faktor tersebut diketahui memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kualitas kesehatan mental seseorang. Untuk itu, keseimbangan dimensi-dimensi tersebut sangat penting dalam menunjang kehidupan kita.

Diketahui bahwa terdapat berbagai macam penyakit mental yang dapat dialami oleh seseorang. Salah satunya yaitu post traumatic stress disorder disingkat PTSD. PTSD atau gangguan stres pascatrauma adalah gangguan kondisi kesehatan jiwa yang terjadi pada orang-orang yang pernah mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis salah satunya seperti bencana alam.

Hadirnya sebuah bencana dalam kehidupan manusia menyebabkan adanya kegoncangan psikologis pada diri mereka sehingga ketidakseimbangan psikologis yang dialami membuat para korban kerap kali memunculkan sikap-sikap yang tidak terduga. Ketidaksanggupan para korban menerima kenyataan yang dialaminya menjadi pemicu bagi para korban dapat mengalami gangguan mental di kemudian hari.

Baru saja, tercatat pada tanggal 21 November 2022 kejadian Gempa dengan kekuatan magnitude 5,6 terjadi di Cianjur, Jawa Barat. Disusul gempa dengan magnitude 6,4 menguncang Garut, Jawa Barat. Tidak berselang lama tepatnya pada hari Minggu, 4 Desember 2022 kejadian bencana alam kembali melanda Malang, Jawa Timur dengan kejadian letusan gunung Semeru. Bencana terserbut telah menimbulkan kerugian baik materil dan non-materil yang dapat dialami oleh siapa pun.

Dengan demikian, sebagaimana Indonesia diketahui sebagai salah satu Negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana alam yang cukup tinggi maka perlu untuk memerhatikan kondisi gangguan mental yakni post traumatic stress disorder terhadap para korban.

Apa yang perlu dilakukan?

Masalah ini merupakan masalah yang tidak untuk diabaikan. Sebab banyak orang yang masih berpikir bahwa kesehatan hanya berupa kesehatan fisik semata, mereka belum menyadari bahwa kesehatan mental juga sangat penting bagi keberlangsungan hidup seseorang.

Untuk mencegah gangguan kesehatan mental menurut WHO, ada beberapa langkah yang harus dilakukan Negara itu sendiri antara lain mempromosikan kesehatan mental untuk semua orang dan melindungi orang-orang berisiko seperti anak-anak, remaja, dan pekerja. Selain itu, perlu untuk menyediakan layanan kesehatan yang mudah diakses dan terjangkau oleh masyarakat.

Namun, apabila orang terdekat kita mengalami hal demikian tentunya peranan kita dalam membantu mengembalikan kondisi mental mereka sangat dibutuhkan. Bentuk dukungan yang dapat kita lakukan ialah meliputi dukungan sosial, emosional, atau praktis kepada korban yang mengalami peristiwa-peristiwa traumatis.

Beberapa bentuk dukungan sosial yang dapat dilakukan:

– Tidak mengungkit kejadian traumatis yang dialami korban

– Membuat suasana yang menyenangkan bagi korban

– Mengajak untuk berkonsultasi pada tenaga profesional

– Selalu ada untuk memberikan rasa aman dan dukungan sebagai pondasi utama dalam menjaga kondisi kesehatan mental para korban.

Lekas pulih Bumi Pertiwiku

Lekas sembuh untuk para korban

Begitu harapku!

*) Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

Facebook Comments
ADVERTISEMENT