Beranda Ekologi Lantebung : Pelestarian Bakau untuk Perlindungan Kota

Lantebung : Pelestarian Bakau untuk Perlindungan Kota

0
Gambar: Kawasan Wisata Mangrove Lantebung, gambar diambil saat riset Adrayanti, dkk, April 2024

Oleh : Adrayanti Sabar

(Mahasiswa pada Program Studi S3 Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB University)

Di pesisir utara Makassar, terbentang sebuah kawasan hijau yang menjadi perbatasan antara daratan dan lautan. Daerah ini, yang dikenal sebagai Lantebung, bukan hanya menawarkan pemandangan menakjubkan, tetapi juga menjadi pusat upaya konservasi, destinasi ekowisata, dan sumber penghidupan bagi masyarakat setempat.

Selama beberapa tahun terakhir, Lantebung telah berkembang dari inisiatif komunitas menjadi arena kolaborasi yang lebih luas. Berbagai pihak, termasuk pemerintah, institusi pendidikan, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil, bersama-sama berupaya melestarikan dan memanfaatkan potensi ekologis kawasan ini.

Studi yang dilakukan di kawasan mangrove Lantebung mengungkapkan bagaimana masyarakat pesisir mengandalkan ekowisata mangrove sebagai sumber utama penghidupan mereka, sambil menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan lingkungan. Meskipun demikian, perkembangan Lantebung tidak selalu berjalan mulus. Periode 2024-2025 menunjukkan beberapa masalah yang perlu diatasi, seperti fasilitas wisata yang mulai rusak, penumpukan sampah yang sulit dikendalikan, dan perubahan sedimentasi yang terus berlangsung.

Mangrove di Lantebung berperan penting sebagai pertahanan alami terhadap abrasi, pemecah gelombang, dan pengurangan risiko banjir rob. Banyak penduduk masih mengingat pengalaman pahit ketika rumah mereka hancur akibat rob sebelum penanaman kembali mangrove dilakukan.

Saat ini, keberadaan hutan bakau tidak hanya memberikan rasa aman tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Ekowisata yang berkembang telah menciptakan sumber pendapatan bagi warga lokal, mulai dari penyewaan perahu, layanan pemandu wisata, hingga usaha warung makanan. Dukungan dari sektor swasta dan pemerintah juga memberikan dorongan positif, baik dalam bentuk penyediaan bibit, pelatihan, maupun program rehabilitasi berbasis masyarakat.

Lantebung juga berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran bagi berbagai kalangan. Mahasiswa, peneliti, jurnalis, dan pelajar berkunjung untuk mempelajari mangrove secara langsung, mulai dari pengamatan struktur guldan hingga pemahaman teknik sederhana untuk meningkatkan kelangsungan hidup bibit. Namun, masa depan kawasan ini bergantung pada penanganan tantangan sehari-hari. Pengelolaan sedimentasi, pengembangan sistem pengelolaan sampah yang komprehensif, dan pembenahan fasilitas wisata menjadi prioritas yang harus segera ditangani.

Kolaborasi multipihak yang telah terjalin perlu dijaga keberlanjutannya agar tidak berakhir sebagai proyek jangka pendek. Lantebung mencerminkan bagaimana tujuan global seperti SDGs dapat diimplementasikan pada tingkat lokal. Mangrove di kawasan ini tidak hanya melindungi pantai, tetapi juga membuka peluang ekonomi, memperkuat ketahanan pangan pesisir, menyediakan ruang pendidikan, dan berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon.

Pengalaman Lantebung menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya alam harus bersifat adaptif, terukur, dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Fokus tidak hanya pada penanaman bibit, tetapi juga pada perawatan jangka panjang, pemeliharaan kebersihan kawasan, dan menghubungkan keberlanjutan ekologi dengan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan pengelolaan yang inklusif dan berbasis ilmu pengetahuan adalah kunci untuk memastikan mangrove tetap tumbuh di pesisir, melindungi daratan, dan menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Makassar dan generasi mendatang.

Referensi:

  1. Informasi publik terkait laporan pengelolaan mangrove di Kawasan Lantebung
  2. Riset penulis di Kawasan Mangrove Lantebung: Sabar, A., & Kasri, K. (2024). Analisis Finansial Ekowisata Mangrove Lantebung. Journal of Fisheries and Marine Research, 8(1), 39-47; Sabar, A., Rusyid, E. I., Diana, F., Ansar, A., Annisa, N., Idzatilangi, W. I., & Agustiningrum, C. (2023). Livelihood Assets of Lantebung Mangrove Ecotourism Community. Wasian Journal, 10(2), [halaman]. https://doi.org/10.621423/w65rp54
Facebook Comments Box
ADVERTISEMENT