Matakita.co, Jakarta – Gejolak demonstrasi kembali mengguncang Republik Islam Iran, dipicu tekanan ekonomi yang kian berat akibat inflasi tinggi, lonjakan harga kebutuhan pokok, serta merosotnya nilai tukar mata uang Iran terhadap mata uang global. Kondisi tersebut secara langsung menggerus daya beli masyarakat, baik di dalam negeri maupun diaspora Iran di berbagai negara.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Sam Sangadji saat ditemui di kantor Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN), Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.
Menurut Sam, tekanan ekonomi yang dialami Iran tidak dapat dilepaskan dari kebijakan negara yang terfokus pada konflik bersenjata. Ia menilai, ketika suatu negara terlalu terkonsentrasi pada perang dan pembiayaannya dibebankan pada anggaran negara, maka alokasi dana untuk sektor lain—seperti kesejahteraan sosial, pangan, dan layanan publik—berpotensi dialihkan.
“Jika sebuah negara terlibat konflik berkepanjangan, anggaran akan terpusat pada sektor pertahanan. Dampaknya, sektor lain yang bersentuhan langsung dengan rakyat menjadi terabaikan,” ujar Sam di sela agenda pembahasan Proyek Strategis Nasional dan hak-hak rakyat Indonesia.
Ia menyoroti perang yang telah berlangsung selama 14 hari antara Iran dan Israel, sejak 13 Juni 2025, yang menurutnya memberi tekanan besar terhadap struktur fiskal Iran. Konsentrasi anggaran pada sektor pertahanan dinilai mempersempit ruang negara untuk meredam dampak ekonomi yang dirasakan rakyat.
“Di sinilah rakyat Iran, baik di dalam maupun luar negeri, harus menerima kenyataan pahit. Situasi ini tidak seharusnya diperparah oleh kepentingan oposisi semata. Pembenahan sistem akan lebih baik ditempuh melalui transisi formal ketimbang revolusi yang beraroma imperialisme,” tegasnya.
Lebih lanjut, Sam juga menyinggung posisi Indonesia dalam dinamika geopolitik global. Ia menegaskan bahwa hingga kini Indonesia tetap konsisten memegang prinsip politik luar negeri bebas dan aktif, dengan mengedepankan diplomasi serta tidak berpihak pada blok kekuatan mana pun.
“Indonesia harus tetap berdiri pada jalur diplomasi dan kemanusiaan, tanpa terseret kepentingan geopolitik global,” pungkas Sam. (**)








































