Beranda Politik Direktur Profetik Institute Nilai Aspirasi DPD II Harus Jadi Penentu Arah Musda...

Direktur Profetik Institute Nilai Aspirasi DPD II Harus Jadi Penentu Arah Musda Golkar Sulsel

0

Matakita.co, Makassar — Direktur Profetik Institute, Asratillah, menilai aspirasi akar rumput dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II kabupaten/kota harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan arah kepemimpinan Partai Golkar Sulawesi Selatan pada Musyawarah Daerah (Musda) mendatang.

Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan arahan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, yang menekankan pentingnya menjaga soliditas partai dan mendengar suara kader di daerah.

“Aspek paling penting dalam Musda Golkar Sulsel bukan hanya soal siapa yang menang, tetapi siapa yang benar-benar memiliki legitimasi di tingkat akar rumput. Karena kekuatan Golkar selama ini lahir dari struktur daerah dan kerja kader di bawah,” kata Asratillah di Makassar, Senin.

Ia menilai dorongan agar Musda Golkar Sulsel berlangsung secara aklamasi tidak boleh dimaknai sebagai upaya menutup ruang demokrasi internal. Menurutnya, langkah tersebut justru dapat menjadi jalan menjaga persatuan partai di tengah meningkatnya rivalitas menjelang Musda.

Asratillah juga menyoroti langkah Pelaksana Tugas Ketua Golkar Sulsel, Muhidin Mohamad Said, yang melakukan safari konsolidasi ke sejumlah daerah. Ia menilai langkah itu menunjukkan upaya DPP dan DPD I dalam menyerap aspirasi pemilik suara di tingkat kabupaten/kota.

“Kalau kita membaca pidato dan manuver konsolidasi Pak Muhidin, sebenarnya pesan utamanya jelas bahwa suara daerah harus didengar. Itu juga sejalan dengan semangat Pak Bahlil yang ingin Musda tidak melahirkan perpecahan,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, Asratillah menilai nama Munafri Arifuddin atau Appi menjadi salah satu figur yang diuntungkan secara politik karena disebut memiliki dukungan luas dari sejumlah DPD II di Sulsel.

“Dalam politik Golkar, dukungan elite memang penting, tetapi akar kekuatan partai tetap ada di DPD II. Kalau aspirasi bawah benar-benar dijadikan dasar pertimbangan, maka posisi Appi tentu menjadi sangat relevan,” jelasnya.

Meski demikian, ia tetap mengapresiasi figur lain seperti Ilham Arief Sirajuddin dan Andi Ina Kartika Sari. Menurutnya, keduanya merupakan kader berpengalaman yang memiliki kapasitas dalam menjaga eksistensi Partai Golkar di Sulsel.

“IAS punya pengalaman panjang dan kemampuan membaca peta politik yang sangat matang. Sementara Andi Ina membawa simbol regenerasi dan energi baru bagi Golkar Sulsel. Jadi ketiga figur ini sama-sama punya kekuatan masing-masing,” katanya.

Namun, Asratillah mengingatkan bahwa Golkar Sulsel membutuhkan figur yang tidak hanya kuat di internal partai, tetapi juga mampu mengembalikan kepercayaan publik menjelang Pemilu 2029.

Ia menilai penurunan elektoral Golkar dalam dua pemilu terakhir harus menjadi bahan evaluasi serius. Berdasarkan data KPU Sulsel 2024, Golkar berada di posisi ketiga dengan 770.454 suara, di bawah Nasdem dan Gerindra.

“Karena itu, Golkar Sulsel membutuhkan pemimpin yang mampu menjadi titik temu antara elite dan akar rumput sekaligus menghadirkan citra pembaruan di mata masyarakat. Dan sejauh ini, Appi terlihat cukup dekat dengan kebutuhan politik itu,” tutup Asratillah.

Facebook Comments Box
ADVERTISEMENT