Matakita.co, Makassar — Direktur Profetik Institute, Asratillah, menilai Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan tahun 2026 akan menjadi momentum penting bagi masa depan Golkar di Sulsel. Menurutnya, Musda kali ini bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan, tetapi menjadi titik evaluasi atas kemunduran elektoral partai dalam dua pemilu terakhir.
“Aspek yang sedang dihadapi Golkar Sulsel bukan hanya krisis elektoral, tetapi juga krisis citra. Ini terlihat dari menurunnya dominasi Golkar di sejumlah daerah strategis, termasuk kehilangan kursi Ketua DPRD Sulsel pada Pemilu 2024,” kata Asratillah di Makassar, Selasa.
Ia menjelaskan, dominasi Golkar yang selama puluhan tahun menjadikan Sulsel sebagai salah satu basis suara terbesar kini mulai tergeser oleh partai lain, terutama Partai Nasdem.
Berdasarkan data KPU Sulsel Nomor 740 Tahun 2024, Partai Nasdem memperoleh 887.682 suara, disusul Gerindra dengan 812.563 suara, sementara Golkar berada di posisi ketiga dengan 770.454 suara.
Menurut Asratillah, perubahan perilaku pemilih menjadi faktor utama menurunnya kekuatan Golkar. Pemilih saat ini dinilai lebih mempertimbangkan figur, integritas, dan kedekatan kandidat dengan masyarakat dibanding loyalitas tradisional terhadap partai politik.
“Pemilih sekarang lebih cair. Mereka melihat integritas figur dan kemampuan menghadirkan harapan baru. Politik hari ini tidak cukup hanya mengandalkan nostalgia kejayaan masa lalu,” ujarnya.
Terkait bursa calon Ketua Golkar Sulsel, Asratillah menilai sejumlah nama yang muncul memiliki kekuatan masing-masing. Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dinilai unggul dari sisi pengalaman dan jaringan politik, sedangkan Andi Ina Kartika Sari dianggap membawa semangat regenerasi di internal partai.
Sementara itu, Munafri Arifuddin atau Appi dinilai memiliki peluang yang relevan dengan kebutuhan Golkar saat ini karena dianggap memiliki citra yang relatif lebih bersih dan lebih mudah diterima pemilih muda serta kelas menengah perkotaan.
“Golkar hanya bisa kembali merebut Ketua DPRD Sulsel jika dipimpin figur yang relatif bersih di mata publik. Dalam konteks itu, Appi memiliki modal yang cukup kuat karena membawa kesan pembaruan dan tidak terlalu dibebani konflik politik masa lalu,” jelasnya.
Asratillah juga menilai dukungan mayoritas DPD II yang disebut mengarah kepada Appi menunjukkan adanya keinginan akar rumput Golkar menghadirkan kepemimpinan yang lebih adaptif terhadap perkembangan politik modern.
Meski demikian, ia menegaskan dinamika Musda Golkar Sulsel masih sangat terbuka dan memungkinkan terjadinya perubahan konstelasi politik hingga menjelang pelaksanaan Musda.
“Dalam politik Golkar, keputusan akhir sering ditentukan oleh kombinasi dukungan daerah dan restu pusat. Karena itu, semua kemungkinan masih bisa terjadi sampai menjelang Musda,” tutupnya.









































