Matakita.co, Sidrap– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin (Unhas) melaksanakan program kerja individu yang berfokus pada penguatan branding Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bawang goreng di Desa Ciro-Ciroe, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Jumat (24/1/2026). Program ini bertujuan meningkatkan daya saing produk lokal agar mampu menembus pasar yang lebih luas.
Program kerja tersebut dilaksanakan oleh Sarina, mahasiswi KKN Unhas, dengan pendampingan tim mahasiswa KKN lainnya. Kegiatan ini melibatkan langsung pelaku UMKM bawang goreng yang selama ini masih memproduksi dan memasarkan produknya secara tradisional tanpa dukungan branding dan kemasan yang memadai.
Desa Ciro-Ciroe dikenal memiliki potensi besar dalam produksi bawang goreng berkualitas. Namun, lemahnya aspek branding dan kemasan menjadi kendala utama dalam pemasaran produk. Melihat kondisi tersebut, Sarina merancang program kerja yang berfokus pada pembuatan desain label produk yang lebih menarik dan profesional, serta memberikan edukasi mengenai strategi pemasaran modern kepada pelaku UMKM.
Pelaksanaan program dimulai dengan survei dan identifikasi pelaku UMKM bawang goreng di Desa Ciro-Ciroe. Selanjutnya, dilakukan pendampingan langsung di rumah produksi UMKM. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN memberikan edukasi tentang pentingnya branding, desain kemasan yang informatif, serta teknik pengemasan yang higienis dan menarik bagi konsumen.
“Desa Ciro-Ciroe memiliki potensi besar dalam produksi bawang goreng berkualitas. Namun, lemahnya branding dan kemasan membuat produk ini kalah bersaing dengan produk sejenis dari daerah lain. Padahal dari segi kualitas dan rasa, bawang goreng produksi lokal sangat baik,” jelas Sarina.
Ia juga menambahkan bahwa desain kemasan yang lebih modern tetap harus mencerminkan identitas lokal desa. “Kami membantu mendesain kemasan yang lebih modern namun tetap mencerminkan identitas lokal. Selain itu, kami juga mengajarkan cara pengemasan yang higienis dan menarik agar konsumen lebih tertarik,” ungkapnya.
Para pelaku UMKM bawang goreng menyambut baik program tersebut. Mereka menilai pendampingan yang diberikan sangat membantu, terutama dalam meningkatkan pemahaman tentang pentingnya kemasan dan branding sebagai nilai tambah produk. Dengan kemasan yang lebih baik, mereka berharap produk bawang goreng Desa Ciro-Ciroe dapat bersaing di pasar regional, bahkan nasional.
Program KKN ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas produk, tetapi juga bertujuan meningkatkan nilai jual bawang goreng sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan pelaku UMKM. Secara lebih luas, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi desa berbasis potensi lokal.
Melalui program kerja ini, mahasiswa KKN Unhas menunjukkan peran nyata dalam pemberdayaan masyarakat desa. Kolaborasi antara mahasiswa dan pelaku UMKM menjadi bukti bahwa perguruan tinggi memiliki kontribusi strategis dalam mendukung pengembangan ekonomi lokal yang berkelanjutan. (**)






































