Beranda Kampus Pascasarjana Unhas Jajaki Pengembangan Inovasi Pangan Berbasis Senyawa Bioaktif

Pascasarjana Unhas Jajaki Pengembangan Inovasi Pangan Berbasis Senyawa Bioaktif

0

MataKita.co, Makassar – Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (Unhas) menjajaki pengembangan inovasi pangan berbasis senyawa bioaktif melalui penguatan riset lintas disiplin dan kolaborasi internasional. Langkah ini diarahkan untuk mengoptimalkan potensi sumber daya hayati Indonesia menjadi produk pangan bernilai tambah dan memiliki dasar ilmiah.

Upaya tersebut dibahas dalam kuliah tamu internasional bertajuk “Pharmacological and Biofunctional Chemical Material Synergy for Retinoid-Carotenoid-Based Food Security and Competitiveness” yang berlangsung secara hibrida di Aula Prof. Dr. Ir. Fachruddin, Sekolah Pascasarjana Unhas, Makassar, Rabu (14/10/2026).

Kegiatan yang merupakan bagian dari program Diaspora Berdampak 2026 ini menghadirkan akademisi Case Western Reserve University, Amerika Serikat, Made Airanthi K. Widjaja Adhi, sebagai narasumber.

Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, Inovasi, dan Alumni Sekolah Pascasarjana Unhas, Prof. Dr. dr. Marhaen Hardjo, M.Biomed., yang mewakili Dekan Prof. Sukri Palutturi, menekankan pentingnya penguatan penelitian untuk mengembangkan potensi senyawa bioaktif menjadi inovasi pangan.

Menurut Marhaen, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya hayati yang berpeluang dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Namun, pemanfaatannya membutuhkan penelitian mendalam mengenai karakteristik kimia, aktivitas biologis, hingga pengaruh proses pengolahan terhadap kualitas produk.

“Pengembangan pangan berbasis senyawa bioaktif membutuhkan pemahaman tentang karakteristik kimia bahan, aktivitas biologis, dan pengaruh proses pengolahan terhadap kestabilan senyawa. Kajian tersebut penting untuk mengidentifikasi potensi sumber daya hayati Indonesia dan mengembangkannya menjadi produk bernilai tambah berdasarkan bukti ilmiah,” ujar Marhaen.

Dalam pemaparannya, Made Airanthi menjelaskan potensi retinoid dan karotenoid sebagai kelompok senyawa yang memiliki relevansi dalam kajian farmakologi, biologi molekuler, dan pengembangan pangan berbasis bahan alam.

Ia menekankan bahwa inovasi pangan tidak cukup hanya mengandalkan identifikasi kandungan senyawa. Penelitian juga harus memastikan kestabilan bahan, aktivitas biologis, serta konsistensi hasil pengujian.

“Pengembangan produk berbasis senyawa bioaktif tidak cukup dilakukan dengan mengidentifikasi kandungan suatu bahan. Peneliti juga perlu mengevaluasi kestabilan senyawa selama pengolahan, aktivitas biologis berdasarkan metode pengujian yang sesuai, serta konsistensi hasil penelitian,” kata Made Airanthi.

Pembahasan juga menyoroti peluang pemanfaatan sumber daya laut Indonesia, termasuk rumput laut, sebagai bahan baku inovasi pangan.

Menurut pemaparan dalam kegiatan tersebut, pengembangan produk berbasis rumput laut membutuhkan serangkaian penelitian, mulai dari karakterisasi bahan, identifikasi senyawa, pengujian aktivitas biologis, hingga evaluasi metode pengolahan untuk menjaga mutu produk.

Selain itu, para peneliti perlu memperhatikan validitas hasil pengujian. Aktivitas antioksidan yang ditemukan melalui penelitian laboratorium, misalnya, tidak dapat langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan manfaat kesehatan pada manusia tanpa pengujian lebih lanjut.

Pengembangan inovasi pangan juga dinilai membutuhkan kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemangku kepentingan. Kerja sama tersebut diperlukan untuk menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan industri, pengendalian mutu, keberlanjutan bahan baku, serta peluang komersialisasi produk.

Kuliah tamu internasional yang dipandu Dr. Nur Rahma, S.Si., ini menjadi bagian dari upaya Sekolah Pascasarjana Unhas memperluas jejaring akademik internasional sekaligus memperkuat penelitian lintas disiplin.

Melalui kegiatan tersebut, Unhas mendorong pengembangan riset senyawa bioaktif yang tidak hanya berorientasi pada publikasi ilmiah, tetapi juga membuka peluang lahirnya inovasi pangan berbasis potensi sumber daya hayati Indonesia.

Facebook Comments Box