Beranda Cerpen Helm

Helm

0
Esye Yusuf Lapimen

Oleh : Esye Yusuf Lapimen

Nila terlihat gusar hari ini. Mondar-mandir di teras rumah kost, sesekali duduk pada kursi kayu. Tetapi itu tidak lama, hanya pantatnya saja menyentuh bidang datarnya, belum terasa jikalau Dia sedang duduk, Dia kembali berdiri, kembali mondar mandir. Sesekali pula, Dia memandang ke dalam rumah. Memandang lorong sempit yang kiri dan kanannya berupa kamar-kamar dengan pintu tertutup, kecuali pintu kamarnya yang berada tepat di ujung kiri sebelum lorong itu buntu. Di ujung kanan, hanya ada bilik kecil tak berpintu, dapur bersama penghuni kost, tetapi hanya Dia yang sering menggunakannya, sebab penghuni kamar kost lainnya, lebih memilih untuk memasak di kamar masing-masing. Atau, mungkin saja mereka tidak memasak, hanya membeli makanan jadi dari warung, atau boleh jadi mereka hanya membeli mie instan dan mendidihkan air. Bisa jadi.

Tetapi bukan itu yang membuat Nila mondar-mandir sepagi ini, di saat penghuni kost belum juga terjaga, pintu kamar-kamar masih ditutup rapat oleh penghuninya, kecuali pintu kamarnya yang berada tepat di ujung kiri.

Di benaknya, Nila ingin membangunkan para penghuni, namun menurutnya, sangat tidak layak untuk membangunkan seisi penghuni kost yang ingin menikmati kepuasan tidur pagi di hari Minggu ini. Apalagi dengan mengetuk pintu kamarnya satu per satu. Sebenarnya, tindakan tersebut bukanlah hal yang mustahil, sebab, Dia yakin bahwa sebagian penghuni kamar dari sembilan kamar di kost telah terjaga, salah satunya adalah Dia. Masalahnya, Dia tidak tahu kamar mana?

Nila mencoba untuk mengecek satu persatu kamar yang lampunya menyala, ternyata sembilan kamar di kost tersebut memiliki lampu kamar yang masih menyala, termasuk kamarnya. Dia bingung dan kembali ke teras. Dia bimbang, apakah lampu kamar menyala adalah pertanda bahwa penghuni kamar telah terjaga? Sama seperti lampu kamarnya. Dia tidak begitu yakin, sebab sebelumnya, Dia belum pernah melakukan pengamatan. Kapan lampu-lampu kamar di kost itu menyala. Apakah di saat penghuninya terjaga ataukah di saat penghuninya belum terjaga sama sekali?

Separuh pikirannya yakin bahwa penghuni kost sebenarnya telah terjaga, separuhnya yakin bahwa pemiliknya masih tertidur, bila Dia terjaga tentunya lampu kamar akan Dia matikan. Tidak! Mereka telah terjaga, sebab bagaimana mungkin mereka dapat beraktifitas dalam gelapnya kamar kost. Tidak! Mereka belum terjaga, sebab bila mereka terjaga lampunya akan dimatikan dan membuka jendela kamar masing-masing agar udara segar menyeruak ke dalam. Tidak! Nila semakin bingung, tetapi bukan itu yang membuatnya mondar-mandir sepagi ini.

Kembali Dia mengecek kondisi kamar satu persatu, kali ini Dia mengendap-ngendap, pelan, angkatan dan letakan kakinya sangat diperhitungkan untuk tidak menghasilkan bunyi. Tubuhnya ikut meliuk ke belakang saat mengangkat kaki dan condong ke depan saat hendak meletakkannya. Tangannya kaku dan hanya mengikuti keinginan tubuh. Dari pintu ke pintu Dia menguping, apakah ada suara gerakan dari dalam kamar. Entah itu bunyi kertas yang disusun rapi, bunyi mesin laptop yang dihidupkan, bunyi televisi, bunyi piring, bunyi sendok, bunyi mulut dan mungkin saja bunyi percikan air dari kamar mandi. Dia tidak begitu yakin mampu mendengar semua bunyi itu, kecuali satu dan Dia merasa terganggu dengannya, bunyi kipas angin.

Nila tidak ingin terburu-buru untuk mengambil kesimpulan. Baginya, itu adalah pertanda, penghuninya belum terjaga, sebab orang bodoh macam apa yang ingin merasakan dinginnya pagi bersama kipas angin, kecuali orang yang masih tertidur dan malas untuk mengerakkan tubuh meski hanya terbangun sesaat untuk mematikan kipas angin. Tidak! Bisa saja Dia telah terjaga, menyalakan kipas angin karena ingin mengeringkan bajunya yang hendak dipakai pagi ini saat bertemu para kekasih mereka. Apapun itu, sebenarnya Nila takut untuk membangunkan satu ataupun satu per satu penghuni kost, tetapi bukan itu yang membuatnya mondar-mandir sepagi ini.

Dipandanginya jam pada tangan kirinya yang menunjukkan lima menit lagi jam enam. Dia semakin gusar. Di teras dipandanginya lorong-lorong kamar kost yang buntu, pintu kamar masih tertutup, kecuali kamarnya. Dia kembali berjalan mengendap-ngendap, menguping dari pintu satu ke pintu satunya lagi. Kamar pertama, kamar kedua, kamar ketiga, kamar berikutnya, kamar selanjutnya. Kamar kedua terbuka.

Penghuni kamar nomor dua spontan menegur Nila. Bukan hanya itu, penghuni kamar nomor dua pun menuduh Nila hendak mencuri sesuatu. Tidak terima, Nila melakukan perlawanan. Baginya, ini adalah harga diri. Sepagi ini telah dituduh hendak mencuri. Tetapi, bagi penghuni kamar nomor dua, semuanya sudah jelas dan tidak perlu lagi memberi alasan untuk membela. Berjalan mengendap-ngendap, memastikan tiap-tiap penghuni kamar belum terjaga lalu beraksi. Lebih jauh, penghuni kamar nomor dua menuduh Nila adalah biang kerok kehilangan selama ini menimpa para penghuni kost yang kejadiannya setiap pagi masih buta.

Memang, pernah berulang kali terjadi kehilangan di kost tersebut. Macam-macam yang hilang, ada yang kehilangan telepon genggam dari merek murahan hingga merek kemahalan, dari dompet kecil hingga tas besar, dari flash disk hingga laptop, dari recehan hingga ratusan, sedikit banyaknya yang hilang, penyesalan dan umpatan para penghuni sama saja. Mengutuk pelaku. Kini, penghuni kamar nomor dua merasakan bahwa dirinya telah menjadi pahlawan, menemukan pelaku yang sementara hendak mempersiapkan aksinya.

Nila berusaha membela diri dan tidak mau kejadian ini semakin parah, Dia tidak mau seluruh penghuni kamar kost terjaga dan bersatu mengumpat serta memojokkan dirinya. Dia sempat berpikir untuk mengetuk pintu kamar enam dan lima, kamar yang berada tepat di kanan dan kirinya, meyakinkannya sebelum bersatu dengan penghuni kamar nomor dua, tetapi belum sempat Dia lakukan, penghuni kamar nomor enam telah membuka pintunya lebih dahulu.

“Ada apa Nila?” belum sempat Nila menjawab, penghuni kamar nomor dua telah memberikan jawaban mengenai penjelasan akan temuannya. Nila terlambat membangun persekutuan, Dia terpojok. Dia merasa dirinya telah berada di hadapan dua binatang buas yang siap menerkamnya. Bila tidak menemukan sekutu secepatnya, keadaan terpaksa harus diterimanya dengan pahit.

Nila takut semua penghuni kamar akan terbangun dan bersepakat menuduhnya, Dia harus berbuat, bila perlu membangunkan semua penghuni kost, menceritakan yang sesungguhnya dan Dia bisa lolos dari persoalan yang menimpanya sepagi ini. Dia harus berbuat sekarang juga, sebelum keringat dinginnya berubah menjadi alasan kuat, sekaligus menjadi bukti atas keinginannya melakukan kejahatan.

Digedornya pintu nomor lima, berharap penghuninya keluar, lalu mengajak bercerita tentang kelakuan penghuni kamar nomor dua yang terjaga, lalu membuka pintu, selanjutnya melihatnya mengendap-ngendap. Dia ingin mengutarakan alasan yang sesungguhnya mengenai mengapa tingkahnya yang mengendap-ngendap, pastinya bukan untuk berniat jahat. Dia ingin meyakinkan penghuni kamar nomor lima, bahwa penghuni kamar nomor dua telah salah mengambil kesimpulan, lalu menceritakan kesimpulannya kepada penghuni kamar nomor enam hingga menjadi sekutu, memojokkannya. Dia ingin menegaskan bahwa ini adalah salah paham.

Sayangnya, Nila terlampau penakut menghadapi dua orang yang telah bersekutu. Itu terdengar dari suaranya yang berbaur dengan tangis. Gedoran pintu serta suaranya, membangunkan penghuni lain serta menghasilkan tanya yang seragam, “kenapa Dia?”. Lalu penghuni kamar nomor dua menjelaskan apa yang diliatnya, merasionalkan tuduhannya, memojokkan lawannya, membangun sekutu lebih banyak, dan berhasil.

###

“Pantas saja, Dia tidak pernah kehilangan. Ternyata Dia pelakunya,” kalimat ini berpindah dari mulut ke mulut menuju telinga ke telinga penghuni kost. Nila berhenti mengedor pintu kamar nomor lima, penghuninya tidak membuka pintu karena sedang tidak berada di dalam kamar. Nila telah memancing para penghuni untuk terjaga dan tidak satu pun menjadi sekutunya. Dia telah memancing di air keruh.

“Kamarmu yang paling ujung. itu bukan lagi alasan, jika selama ini tidak pernah kecurian, tetapi karena kamulah yang mencurinya,” maki salah seorang penghuni kost yang telah bersekutu. Nila memandanginya satu persatu, mereka yang dulunya lembut kini menjadi buas. Mereka semakin mendekat dengannya, suaranya, caciannya, bau mulutnya yang belum sikat gigi, tubuhnya yang belum mandi, mereka ingin menangkap Nila dan membawanya ke kantor polisi. Nila harus membela diri, Dia enggan diboyong ke sana.

Nila berlari ke belakang, menuju ujung lorong kecil antara kamar-kamar kost, hanya ada dua pilihan buat Nila di tempat itu, ke kiri masuk kamarnya sendiri lalu menguncinya dari dalam atau ke kanan masuk dapur bersama yang sering digunakannya tetapi tanpa pintu penutup. Mungkin saja pilihannya adalah memasuki kamar, tetapi memasuki kamar berarti Dia akan mudah untuk dibekuk oleh kawanan buas ini dengan cara mendobrak pintu, lalu menangkapnya yang sedang bersembunyi di bawah tempat tidur, atau di balik meja televisi, atau di dalam lemari, atau bisa saja menyelam di bak mandi.

Bukan itu, Nila ingin selamat dari mereka yang semakin mendekat, bisa saja Dia masuk kamar, lalu mengunci pintu dan melompat keluar melalui jendela kamar. Tetapi, itu lebih berbahaya, sebab di luar sekutu ini akan menjadi lebih besar lagi, mereka akan menghasut para penghuni kost tetangga lainnya, hingga percaya bahwa Dia adalah pencuri yang selama ini beraksi di kompleks kost-kost-an. Mereka akan percaya begitu saja, sebab Nila tidak mempunyai waktu lagi untuk menjelaskan alasannya kepada telinga-telinga yang tidak mau mendengar penjelasan.

Dia berkaca dengan apa yang dilakukannya sedari tadi, mencoba untuk menjelaskan duduk persoalannya, tetapi hanya menerima kalimat, “Mana ada pencuri mau mengaku”. Makanya, Dia memilih kabur, tetapi hendak kabur ke mana? Dia terdesak. Dia harus memutuskan secepatnya, atau tertangkap dan diboyong ke kantor polisi. Dia membayangkan dirinya, dipaksa untuk mengakui kesalahan yang tidak dilakukannya dengan berbagai bukti yang rasional, tapi tidak baginya. Buktinya, sering terjadi kehilangan di rumah kost, hanya dirinya yang tidak pernah kehilangan, dan Dia kedapatan sementara mengendap-ngendap mengupingi daun pintu satu persatu. Terakhir, Dia berusaha melarikan diri saat ini, daripada ke kantor polisi mempertanggung jawabkan kelakuannya. Meskipun tanpa barang bukti fisik, atau barang yang telah dicurinya, itu adalah hal yang mudah. Cukup dengan pura-pura menggeledah kamarnya lalu menemukan barang yang sengaja disimpan. Pemiliknya lalu memberi keterangan palsu; Nila sangat profesional dalam mencuri. Buktinya, barang ini ditemukan di kamarnya, meski sebelumnya belum diketahui kehilangannya, hal itu dapat ketahuan karena tiba-tiba ditemukan di bawah kasur. Mudah saja.

Lalu Nila? Dia akan digertak, rambutnya dijambak oleh polisi wanita yang malu atas perlakuan keji sejenisnya, atau bahkan Nila akan distrum untuk menemukan pengakuannya. Nila tidak ingin itu terjadi, membayangkan hal tersebut sudah terlampau pedih. Dia harus kabur, tetapi ke mana? Tidak, minimal Dia harus kembali meyakinkan penghuni kost yang telah berubah menjadi buas, tetapi baru saja mulutnya terbuka dan belum mengatup, Dia telah diminta untuk diam dan dicap sebagai pencuri biadab tanpa perasaan dan berani memakan teman sendiri, berani mengkhianati teman sendiri, berbagai macam. Olehnya Dia harus melawan.

###

“Dia telah membunuh tujuh orang sekaligus pagi ini dengan pisau dapur,” ungkap seorang polisi. Dikatakannya, hingga saat ini, pihaknya belum bisa menemukan alasan, mengapa perempuan itu tega melakukannya.

Sebelumnya Dia berhasil diamankan oleh seorang petugas kebersihan. Petugas itu melihatnya berlari dengan pisau dapur di tangan serta baju berlumur darah. Olehnya, Dia ditanyai soal lakunya, namun hanya dijawabnya dengan gigil ketakutan. Karena merasa takut akan terjadi apa-apa terhadap perempuan itu, petugas kebersihan memilih untuk membawanya ke polisi. Ya, membawanya ke kantor polisi.

Polisi akhirnya tahu kelakuan perempuan itu setelah mencoba untuk membawanya pulang ke rumah kostnya. Dengan alasan agar Dia dapat sedikit istrahat dan menghilangkan trauma yang kemungkina akan dialaminya sebagai beban psikologis.Perempuan itu nurut saja, sebab Dia takut berlama-lamaan di kantor polisi.

Diantarnya tepat di depan pintu kamarnya, saat berbalik hendak beranjak pergi, para polisi pengantar sontak kaget melihat tujuh mayat tergeletak bersimbah darah di depan kamar. Mereka mencoba untuk mengetuk pintu kamar, namun tiada yang menyahut. Diputuskanlah untuk mendobrak secara paksa, alhasil, perempuan itu telah kabur melalui jendela kamar.

Pastilah, polisi berusaha untuk memburunya, sampai kemudian berhasil menemukannya kembali. Dia kembali diboyong ke tempat semula. Saat diintrogasi, Dia tidak memberi banyak jawaban.

“Helm Saya tidak di tempatnya pagi ini. Saya curiga ada yang memakainya semalam. Padahal saya harus pergi sepagi mungkin. Saya mau bertanya. Tetapi, Saya tidak tahu harus bertanya kepada siapa? Semuanya tertidur,” hanya itu katanya.

Polisi tentu tidak menerima alasan tersebut. Tetapi, minimal mampu diterima sebagai alasan, mengapa Nila mandar-mandir sepagi tadi.

*) Penulis adalah Anggota Komunitas Penulis Lamaruddani, Penulis buku Menampar Bulan

Facebook Comments
ADVERTISEMENT