Beranda Lensa Sakinah Fitrianti Bahas Kepemimpinan Navigator dalam Darul Arqam Madya Nasional IMM

Sakinah Fitrianti Bahas Kepemimpinan Navigator dalam Darul Arqam Madya Nasional IMM

0
Oplus_16908288

MataKita.co, Makassar – Sekretaris Bidang Immawati Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM), Sakinah Fitrianti B, memperkenalkan gagasan “Kepemimpinan Navigator” sebagai pendekatan untuk membawa organisasi menghadapi perubahan zaman.

Gagasan tersebut disampaikan Sakinah saat menjadi narasumber Darul Arqam Madya Nasional (Damnas) yang digelar Pimpinan Cabang IMM Makassar Timur di Gedung Pusdamwil Sulawesi Selatan, Sabtu malam (29/8/2026).

Kegiatan itu diikuti lebih dari 30 peserta dari sejumlah daerah di Kawasan Timur Indonesia. Damnas menjadi ruang penguatan kapasitas kader, terutama dalam bidang kepemimpinan, ideologi, dan kemampuan membaca perubahan organisasi.

Menurut Sakinah, kepemimpinan saat ini tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan mengelola organisasi. Seorang pemimpin juga dituntut mampu membaca realitas, menentukan arah, menjaga nilai ideologis, serta menggerakkan organisasi agar tetap relevan dan memberikan dampak bagi masyarakat.

Sakinah menganalogikan pemimpin sebagai nakhoda yang membawa kapal melintasi lautan. Seorang nakhoda tidak dapat menghentikan badai, tetapi dapat menyesuaikan layar dan kemudi agar kapal tetap bergerak menuju tujuan.

Analogi tersebut menggambarkan bahwa pemimpin tidak selalu mampu mengendalikan perubahan. Namun, pemimpin harus dapat membaca situasi, menyesuaikan strategi, menentukan arah, dan memastikan seluruh elemen organisasi bergerak menuju tujuan bersama.

Sakinah menjelaskan, kepemimpinan di IMM berlandaskan prinsip kolektif-kolegial.

“Kepemimpinan bukanlah milik satu orang. Keputusan dibangun bersama, tanggung jawab dipikul bersama, dan arah organisasi ditentukan melalui proses musyawarah,” kata Sakinah, yang juga menjabat Ketua Bidang Media KNPI Sulsel.

Selain prinsip kolektif-kolegial, Kepemimpinan Navigator ditempatkan dalam perspektif kepemimpinan profetik yang ditopang tiga kompetensi dasar, yakni religiusitas, intelektualitas, dan humanitas.

“Terdapat tiga kompetensi dasar yang saling menopang, yakni religiusitas, intelektualitas, dan humanitas,” ujarnya.

Religiusitas, kata Sakinah, menjadi landasan nilai Al-Islam sekaligus kompas moral. Intelektualitas diperlukan untuk membaca realitas melalui data, riset, dan nalar kritis. Sementara itu, humanitas menempatkan keberpihakan terhadap kemanusiaan dan keadilan sosial sebagai bagian penting dalam kepemimpinan.

“Pemimpin IMM tidak hanya dituntut memiliki kemampuan organisatoris, tetapi juga mampu mengintegrasikan nilai keagamaan, kecakapan intelektual, dan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan,” tuturnya.

Dalam pemaparannya, Sakinah turut mengaitkan perubahan organisasi dengan model tiga tahap Kurt Lewin, yaitu unfreezing, changing atau moving, dan refreezing.

Tahap unfreezing merupakan proses membangun kesadaran bersama bahwa kondisi yang ada tidak lagi memadai untuk menghadapi tantangan masa depan. Dalam konteks IMM, proses tersebut dapat dilakukan dengan memetakan kegelisahan kader terhadap berbagai persoalan, mulai dari keadilan sosial, krisis ekologi, hingga ketimpangan digital.

Menurut Sakinah, keberhasilan transformasi organisasi ditentukan oleh kemampuan pemimpin menjalankan setiap tahapan perubahan. Kegagalan pada salah satu tahap dapat menghambat keseluruhan proses transformasi.

“Kepemimpinan navigator tidak berhenti pada konsep ataupun gaya kepemimpinan. Keberhasilannya harus terlihat dari keluaran yang dihasilkan bagi kader, organisasi, dan masyarakat,” ujarnya.

Salah satu hasil yang diharapkan ialah lahirnya kader yang ready to work sekaligus ready to lead. Kader IMM tidak hanya dipersiapkan memasuki dunia kerja, tetapi juga memiliki kemampuan memimpin dan menghadirkan perubahan di lingkungannya.

Selain itu, IMM didorong menghasilkan riset dan publikasi yang bermakna. Produk intelektual berupa buku, artikel, dan hasil penelitian diharapkan dapat memperkaya ruang publik sekaligus memperkuat posisi intelektual organisasi.

“IMM juga diharapkan hadir sebagai bagian dari solusi. Kehadiran organisasi tidak hanya dirasakan oleh internal kader, tetapi juga masyarakat melalui perannya dalam menjawab berbagai persoalan sosial,” pungkas Sakinah, yang merupakan demisioner Ketua PC IMM Makassar Timur pertama.

Facebook Comments Box