Matakita.co, Gowa- Pada hari Sabtu 03 Oktober 2026- Kegiatan Pembekalan Peserta Volunteer Raksa Vol. 3 berhasil digelar PMII RAYON DAKWAH DAN KOMUNIKASI CABANG GOWA di Warkop Bundu Hertasning, sebagai langkah awal dalam menyiapkan para relawan yang akan terlibat dalam program pengabdian masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis pelaksanaan program, tetapi juga menanamkan nilai kemanusiaan, empati, tanggung jawab, serta kemampuan memecahkan masalah di tengah masyarakat.
Dalam pembekalan tersebut, para peserta diperkenalkan bahwa menjadi volunteer bukan sekadar mengisi waktu luang atau menambah pengalaman organisasi. Lebih dari itu, menjadi relawan adalah pilihan untuk hadir, mendengar, memahami, dan berkontribusi secara nyata bagi masyarakat. Semangat inilah yang menjadi benang merah seluruh rangkaian materi dan diskusi dalam kegiatan Raksa Vol. 3.
Menanamkan Makna Pengabdian
Pembekalan ini menjadi ruang refleksi bagi peserta untuk memahami bahwa pengabdian masyarakat menuntut kesediaan untuk turun langsung ke lapangan, berinteraksi dengan berbagai latar belakang masyarakat, serta bersikap rendah hati dalam menghadapi realitas sosial. Peserta diajak menyadari bahwa setiap program pengabdian harus lahir dari kebutuhan masyarakat, bukan sekadar dari keinginan untuk menampilkan pencapaian organisasi.
Melalui materi yang disampaikan oleh Sahabat Senior M. Fadlan L. Nasurung, S.Hum , para volunteer diingatkan bahwa keberhasilan sebuah kegiatan pengabdian tidak hanya diukur dari banyaknya peserta yang hadir atau dokumentasi yang dihasilkan. Keberhasilan sesungguhnya terletak pada sejauh mana program tersebut memberikan manfaat, membangun kepercayaan, dan menciptakan perubahan positif bagi masyarakat yang dilayani.
Komunikasi sebagai Kunci Pelayanan
Salah satu pesan penting yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah pentingnya komunikasi yang efektif. Dalam pelayanan masyarakat, kesalahpahaman sering kali tidak muncul karena niat yang buruk, melainkan karena informasi yang tidak disampaikan dengan jelas, sikap mendengar yang kurang, atau asumsi yang dibangun terlalu cepat.
Pemateri (M. Fadlan L. Nasurung, S.Hum menegaskan bahwa “Miscommunication raises a misunderstanding.” Kalimat sederhana tersebut menyiratkan bahwa komunikasi yang buruk dapat menimbulkan kesalahpahaman yang berdampak luas, terutama dalam kegiatan yang melibatkan banyak pihak. Oleh karena itu, volunteer dituntut mampu menyampaikan informasi secara jelas, memilih kata yang tepat, aktif mendengarkan, dan memastikan bahwa pesan yang diterima sesuai dengan maksud yang ingin disampaikan.
Dalam pengabdian masyarakat, kemampuan berkomunikasi menjadi modal utama. Volunteer tidak hanya berhadapan dengan sesama anggota tim, tetapi juga dengan tokoh masyarakat, perangkat desa, kelompok anak, ibu-ibu, pemuda, hingga masyarakat dengan latar belakang pendidikan dan budaya yang beragam. Karena itu, komunikasi yang santun, empatik, dan adaptif menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar.
Empati yang Lahir dari Pengalaman
Pembekalan ini juga menekankan bahwa empati tidak dapat dibentuk hanya melalui teori. Empati tumbuh ketika seseorang mau terlibat langsung, menyaksikan kondisi masyarakat, mendengar cerita mereka, dan merasakan tantangan yang mereka hadapi.
Sebagaimana disampaikan pemateri (M. Fadlan L Nasurung, S.Hum dalam kegiatan tersebut, “Empati bukan sesuatu yang bisa dicekoki ke kepala mu dengan teori, empati hanya bisa didapatkan dengan merasakan langsung berkontribusi.” Pesan ini menegaskan bahwa volunteer harus hadir bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional dan sosial.
Empati membuat volunteer tidak mudah menghakimi kondisi masyarakat. Ia mendorong relawan untuk bertanya lebih dalam, memahami akar persoalan, dan bekerja bersama masyarakat dalam mencari solusi. Dengan demikian, pengabdian tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi relasi yang manusiawi dan bermakna.
Berani Menghadapi Masalah
Dalam kehidupan organisasi maupun pengabdian masyarakat, tantangan merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Mulai dari perencanaan yang harus disesuaikan, komunikasi dengan mitra, keterbatasan anggaran, cuaca, hingga dinamika masyarakat di lapangan. Karena itu, volunteer perlu memiliki mentalitas yang kuat dan kemauan untuk terus belajar.
Pemateri mengingatkan peserta untuk tidak menghindar dari persoalan. Ia menyampaikan, “Kebanyakan orang saat ini itu sukanya lari dari masalah, kamu jangan lari dari masalah, karena masalah itu mendewasakan. Otak yang terbiasa dilatih dengan problem solving maka dia akan berkembang sama persis seperti cara kerja prosesor pada komputer”.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap kendala sebenarnya merupakan ruang belajar. Volunteer yang terbiasa menghadapi masalah akan terlatih berpikir kritis, mencari alternatif solusi, bekerja sama, dan mengambil keputusan secara matang. Kemampuan problem solving inilah yang nantinya akan sangat berguna bukan hanya dalam kegiatan pengabdian, tetapi juga dalam kehidupan pribadi, akademik, dan profesional para peserta.
Membangun Growth Mindset
Selain kemampuan teknis, pembekalan ini juga mendorong peserta untuk membangun pola pikir bertumbuh atau growth mindset. Volunteer diingatkan untuk tidak mudah menyerah ketika menghadapi hal baru, tantangan, atau tugas yang berada di luar zona nyaman mereka.
Hal ini sejalan dengan pesan yang disampaikan, “Ciptakan growth mindset dalam kepala mu, karena hukum dasar menjadi seorang manusia sejak prasejarah adalah bertumbuh. Jangan seperti orang dengan mindset stuck, yang kalau diberi sebuah tantangan atau hal baru dia hanya bisa mengatakan ‘Ah jangan mi deh, memang kemampuan ku cuma sampai disini ji saja”.
Pesan tersebut menegaskan
bahwa kemampuan seseorang bukanlah sesuatu yang tetap. Kemampuan dapat berkembang melalui proses belajar, latihan, pengalaman, dan keberanian untuk mencoba. Dalam konteks volunteerisme, peserta didorong untuk tidak takut mengambil peran baru, belajar dari kesalahan, serta melihat setiap pengalaman sebagai bagian dari proses pertumbuhan diri.
Kesederhanaan yang Penuh Makna
Kegiatan pengabdian sering kali tampak sederhana, seperti mengajar anak, membersihkan lingkungan, mendampingi masyarakat, atau menyusun program kecil di desa. Namun, di balik kesederhanaan tersebut terdapat proses yang tidak selalu mudah. Volunteer harus memahami kebutuhan nyata, menjaga koordinasi, mengelola waktu, dan memastikan setiap detail kegiatan berjalan dengan baik.
Hal ini ditegaskan melalui ungkapan pemateri (M. Fadlan L. Nasurung, S.Hum , “Lebih rumit hal sederhana daripada hal rumit.” Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa pekerjaan yang tampak sederhana justru sering menuntut ketelitian, kesabaran, dan konsistensi yang tinggi. Sebuah kegiatan kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan program besar yang tidak dikelola dengan baik.
Oleh karena itu, para volunteer diajak untuk tidak meremehkan tugas-tugas kecil. Menyapu lingkungan, menata perlengkapan, mendampingi anak belajar, atau sekadar menyapa masyarakat dengan ramah merupakan bentuk pengabdian yang sama pentingnya dengan perencanaan program yang besar.
Hadir dengan Kerendahan Hati
Nilai lain yang ditekankan dalam pembekalan ini adalah kerendahan hati. Volunteer diingatkan untuk tidak merasa diri sebagai pahlawan yang datang untuk menyelamatkan masyarakat. Pengabdian seharusnya dibangun atas semangat kolaborasi, bukan sikap merasa paling tahu atau paling mampu.
Pemateri menyampaikan, “Jangan pernah merasa jadi superhero, karena saat kita lahir saja mulai dari proses kita dibuat sampai tahap-tahap selanjutnya ke tahap dilahirkan, itu dibantu orang. Kehidupan kita, itu ditopang oleh banyak orang jadi jangan pernah merasa hebat.”
Pesan tersebut mengajak peserta untuk selalu bersyukur dan menghargai peran orang lain. Dalam kegiatan pengabdian, keberhasilan tidak pernah menjadi hasil kerja satu orang. Ia lahir dari kerja sama tim, dukungan panitia, kepercayaan masyarakat, peran tokoh lokal, serta berbagai pihak yang membantu kelancaran kegiatan.
Sikap rendah hati juga membuat volunteer lebih mudah diterima oleh masyarakat. Relawan yang mau mendengar, belajar, dan bekerja bersama akan membangun hubungan yang lebih kuat dibandingkan relawan yang datang dengan sikap menggurui.
Visi Sebelum Melangkah
Pembekalan ini juga menekankan pentingnya memiliki visi sebelum memulai sebuah kegiatan. Volunteer tidak cukup hanya memiliki semangat, tetapi juga harus tahu ke mana arah kegiatannya, apa tujuan yang ingin dicapai, dan bagaimana langkah-langkah yang akan ditempuh.
Pesan yang disampaikan berbunyi, “Ajapa mu jappa ko depa muita ale mu lettu: Jangan kau pergi sebelum kau melihat dirimu sampai. Maksudnya apa? Sebelum memulai sesuatu milikilah visi, visi itu kan vision atau visual artinya kau sudah lihat masa depan dari langkahmu, makanya orang yang bervisi itu orang yang punya rencana”.
Dalam praktiknya, peserta diajak untuk menyusun perencanaan yang jelas sebelum terjun ke lapangan. Mulai dari menentukan sasaran, memetakan kebutuhan masyarakat, membagi tugas, menyiapkan kebutuhan logistik, hingga merancang evaluasi kegiatan. Visi yang jelas akan membantu tim tetap fokus, terarah, dan mampu menghadapi perubahan situasi di lapangan.
Berpikir Banyak, Bekerja Nyata
Di tengah perkembangan zaman, banyak anak muda sering disebut mengalami overthinking. Namun, pembekalan ini memberikan perspektif berbeda. Berpikir banyak tidak selalu negatif apabila pikiran tersebut diarahkan untuk menghasilkan tindakan yang nyata.
Hal ini ditegaskan melalui pernyataan, “Banyak pikiran itu bukan overthinking. Overthinking itu banyak yang kau pikir tidak ada yang kau bikin, makanya banyak-banyak berpikir supaya kau tau apa yang harus kau bikin.”
Pesan tersebut mengajak peserta untuk menjadikan pemikiran sebagai modal aksi. Volunteer ideal bukan hanya yang mampu berpikir kritis, tetapi juga yang berani menerjemahkan gagasan menjadi program, keputusan, dan kegiatan yang bermanfaat. Pemikiran yang baik harus diikuti dengan eksekusi yang nyata.
Menutup dengan Semangat Berkarya
Pembekalan Peserta Volunteer Raksa Vol. 3 ditutup dengan harapan bahwa seluruh peserta dapat menginternalisasi nilai-nilai yang telah disampaikan. Keberangkatan ke lapangan bukan hanya tentang menyelesaikan agenda kegiatan, tetapi juga tentang menumbuhkan kepedulian, memperluas wawasan, dan memperkuat karakter sebagai generasi muda yang siap berkontribusi.
Semoga melalui kegiatan ini, para volunteer Raksa Vol. 3 dapat hadir dengan sikap terbuka, rendah hati, komunikatif, dan berorientasi pada solusi. Sebagaimana pesan yang disampaikan, “Saat kau pergi ke suatu tempat, pergilah dengan angka nol. Karena nol adalah kosong sekaligus ketidak terbatasan.”
Makna tersebut menjadi pengingat bahwa setiap volunteer sebaiknya datang dengan pikiran terbuka, tanpa anggapan bahwa dirinya sudah tahu segalanya. Dari kekosongan itulah lahir ruang untuk belajar, bertumbuh, dan berkarya tanpa batas.
Kegiatan pembekalan ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi pelaksanaan program pengabdian masyarakat Raksa Vol. 3. Dengan semangat empati, kolaborasi, dan tanggung jawab, para volunteer diharapkan mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat serta menumbuhkan kesadaran bahwa pengabdian adalah wujud paling sederhana sekaligus paling bermakna dari kepedulian. (**)








































