Beranda Kampus Demi Ikut Pelatihan Bisnis TEP Unhas di Fakfak, Peserta Rela Jalan Kaki...

Demi Ikut Pelatihan Bisnis TEP Unhas di Fakfak, Peserta Rela Jalan Kaki 8 Kilometer Setiap Hari

0

MataKita.co, Fakfak — Sebanyak 17 pemuda dari Kampung Saharey, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, rela berjalan kaki sejauh delapan kilometer setiap hari demi mengikuti pelatihan bisnis yang diselenggarakan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Kelompok 11 Universitas Hasanuddin (Unhas).

Selama lima hari, mereka menempuh perjalanan sekitar satu jam menuju Kampung Weri, lokasi pelaksanaan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Bisnis Terintegrasi yang berlangsung di Gedung SMP Negeri Fakfak Timur pada 7–11 September 2026.

Ketujuh belas pemuda tersebut merupakan bagian dari 36 peserta yang telah melalui proses seleksi bertahap untuk dipersiapkan menjadi agen usaha lokal di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey.

Salah seorang peserta, Jefri Junaldi Fuad, mengaku jarak tempuh tidak menyurutkan semangatnya mengikuti pelatihan. Menurut dia, kesempatan memperoleh pengetahuan dan keterampilan bisnis menjadi alasan untuk tetap hadir setiap hari.

“Walaupun setiap hari harus menghabiskan kurang lebih satu jam berjalan kaki untuk sampai di lokasi pelatihan, saya tetap menjalaninya dengan semangat. Karena bagi saya, pelatihan ini sangat bermanfaat,” kata Jefri.

Para peserta berasal dari kelompok pemuda Kampung Weri dan Saharey dengan latar belakang pendidikan yang beragam. Sebagian besar di antaranya belum pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

Meski demikian, mereka mengikuti rangkaian pelatihan yang dirancang untuk membekali calon agen usaha lokal dengan kemampuan mendampingi dan mengembangkan unit usaha masyarakat pada tiga pilar ekonomi Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey.

Siapkan 36 Agen Usaha Lokal

Pelatihan yang diselenggarakan TEP 11 Unhas tersebut menggunakan pendekatan project-based learning atau pembelajaran berbasis proyek.

Melalui pendekatan ini, peserta tidak hanya menerima materi di dalam kelas, tetapi juga dilatih mengidentifikasi persoalan usaha dan merancang solusi yang dapat diterapkan secara langsung di masyarakat.

Selama lima hari, peserta mendapatkan lima kompetensi utama, yakni diagnosis bisnis (business diagnostic), perancangan perbaikan usaha (practical improvement design), pendampingan dan fasilitasi (mentoring and facilitation), penguatan jejaring pasar dan sumber daya (market and resource linkage), serta pemantauan dan keberlanjutan usaha (monitoring and sustainability).

Materi disampaikan melalui ceramah interaktif, diskusi, dan praktik mandiri dengan melibatkan akademisi serta praktisi dari berbagai bidang.

Psikolog industri dan organisasi sekaligus dosen Unhas, Suryadi Tandiayuk, menjadi salah satu pemateri. Sementara itu, materi perilaku komunikasi dan teknik pendampingan diberikan oleh ahli psikologi konseling, Asma.

Peserta juga mendapatkan pembekalan analisis pasar dari praktisi agroindustri sekaligus dosen Politeknik Negeri Fakfak, Maryati.

Menurut Maryati, masyarakat Weri-Saharey memiliki potensi ekonomi lokal yang dapat dikembangkan, terutama melalui pengolahan komoditas pala menjadi produk bernilai tambah.

“Pelatihan ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Saya lihat banyak kompetensi yang dimiliki oleh masyarakat Weri-Saharey, utamanya dalam pengolahan buah pala,” ujar Maryati.

Dorong Keberlanjutan Usaha Masyarakat

Ketua TEP 11 Unhas, Hillman Wirawan, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia lokal yang mampu mendampingi pengembangan usaha masyarakat secara berkelanjutan.

Program ini sekaligus menjadi tindak lanjut arahan Menteri Transmigrasi RI, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, agar pelaksanaan Transmigrasi Patriot tidak berhenti pada laporan penelitian dan kegiatan lapangan, tetapi menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menurut Hillman, keberadaan agen usaha lokal diharapkan dapat menjadi penghubung antara pelaku usaha masyarakat dengan berbagai sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan kegiatan ekonomi.

Peran tersebut mencakup identifikasi persoalan usaha, penyusunan langkah perbaikan, pendampingan pelaku usaha, hingga membuka akses terhadap jejaring pasar.

“Semoga ke depannya dapat menghasilkan 36 agen usaha lokal tersertifikasi yang siap mendampingi unit usaha masyarakat,” kata Hillman.

Ia berharap kompetensi yang diperoleh peserta tidak hanya bermanfaat selama pelatihan berlangsung, tetapi juga menjadi bekal untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey.

Melalui program ini, TEP 11 Unhas berupaya memastikan pengembangan ekonomi kawasan transmigrasi turut ditopang oleh sumber daya manusia setempat sehingga pendampingan usaha dapat terus berjalan setelah kegiatan tim berakhir.

Facebook Comments Box